
Setelah memastikan Feng Shui keluar dan tidak ada orang lain di dalam selain dirinya, dia ingin memeriksa Tanzhong atau titik akupuntur besar yang ada di tubuh Qiuxi untuk memeriksa ada hal lain yang membahayakan atau tidak.
Tanzhong terletak di dekat jantung, Yin Jinze mengangkat tangannya tanpa ragu-ragu mulai melepaskan pakaian Qiuxi. Pakaian itu hanya tiga lapis, jadi dia tidak butuh waktu lama untuk melepaskan semuanya.
Ketika semua pakaian Qiuxi di tanggalkan dan tidak ada satupun helai benang yang menutupinya, wajah Yin Jinze agak berubah. Meskipun matanya sedikit bergairah tapi dia melakukannya murni untuk pengobatan.
Jadi dia menekan keinginan itu dengan hanya mencium kening Lin Qiu Xi untuk waktu yang sangat lama.
Bibirnya langsung menempel di ujung kening Qiuxi, dan napas hangatnya menyapu sejenak wajah pucat Qiuxi. Yin Jinze meraup aroma yang harum di rambut Qiuxi, seolah-olah nafasnya hanya ada di sana.
Aromanya sangat harum dan manis bagi Yin Jinze, sebelum akhirnya dengan enggan dia menarik bibirnya di kening Qiuxi. Dia beralih memandang mata yang kini tertutup, Yin Jinze menciumnya singkat. Sesingkat capung yang berdiri di air. Kemudian menciumnya di ujung hidungnya, bibirnya, lehernya, dan yang terakhir berhenti di dada Lin Qiu Xi.
Bibirnya bergetar di sana, seolah-olah napas panasnya yang keluar adalah rasa hampa dan semburan rasa tidak berdaya yang dalam. Bibir Yin Jinze bergetar dan bulu matanya bergetar, melihat keadaan Qiuxi yang seperti ini dia merasakan bahwa ini menyakitkan hatinya, seakan arus listrik tanpa ampun menyiksa jantungnya sampai tidak berdaya.
Yin Jinze tersenyum hampa, setelah beberapa saat dia kembali mengangkat tangannya.
Kemudian dia meletakkan telapak tangannya di dada Qiuxi, mengerahkan kekuatan internalnya untuk menjelajahi meridian Lin Qiu Xi dengan sangat hati-hati karena bagaimanapun Tanzhong adalah tempat yang sangat rawan dan berbahaya, jika dia mengalami kesalahan sedikit saja pada menyuntikkan kekuatan internal, itu bisa langsung membunuh seseorang dengan jantung yang buruk.
Dan langkah selanjutnya, di tengah-tengah ketika energi internalnya beredar di titik akupuntur Qiuxi, Yin Jinze menggunakan kesempatan ini untuk membuka energi spiritual Qiuxi yang di kunci Chang Hui sebelumnya.
Setelah hampir satu jam, Yin Jinze menarik tangannya. Tidak ada hal yang membahayakan di titik akupuntur besar Qiuxi, tapi Yin Jinze masih belum bisa bernafas tenang karena bagaimanapun dia harus mengeluarkan Dupa Gu dari tubuh Lin Qiu Xi.
Yin Jinze sangat menyukai gadis mungil di pelukannya, begitu mencintainya sampai-sampai dia tidak akan bisa hidup jika harus kehilangannya lagi. Mengingat mungkin ini bisa menjadi yang terakhir kali bagi dia untuk melihat orang di dalam pelukannya, Yin Jinze mengeluarkan paksa Dupa Gu di tubuh Qiuxi dengan cara mendekatkan bibirnya ke bibir Qiuxi dan menghisapnya.
__ADS_1
Tangannya bergerak pelan untuk menopang bagian leher Qiuxi, satu tangannya mengelus pipi putih seperti salju itu dengan hati-hati. Kemudian dia tidak lupa mencubit dagu gadis itu, dengan kekuatan yang tidak terlalu keras dan tidak perlu di pertanyakan lagi untuk memandu wajah Qiuxi agar lebih condong ke wajahnya.
Segera setelah itu dia meraup bibir merah cinnabar yang telah pucat untuk di raupnya dengan haus, dengusan panas melayang-layang di telinga Qiuxi dan bibir kelembutan hangat jatuh di bibirnya.
Tapi sangat di sayangkan Qiuxi tidak bisa merasakannya, itu membuat hati Yin Jinze seperti kesemutan.
Ketika dua bibir saling menempel dengan panas, jelas ini bukan hanya untuk menarik Dupa Gu dari tubuh Qiuxi, bukan juga cuma untuk detoksifikasi, atau cuma untuk menyelamatkan nyawa Lin Qiu Xi dengan mengganti dengan kehidupannya.
Namun, ini sangat sederhana dan murni.. seolah-olah menjadi salam perpisahan keduanya.
Itu jelas ciuman.
Ciuman terakhir Yin Jinze.
Ciuman itu berjalan sangat lama seperti tidak mengijinkan Qiuxi untuk mengambil nafas, baru-baru setelah bibir Qiuxi yang dingin berubah menjadi sedikit panas dia menariknya dengan terengah-engah di dekat cunping telinga Lin Qiu Xi.
Dia membenamkan wajahnya sendiri di bahu telanjang Qiuxi dan dengan takut dia meninggalkan bekas merah samar di sana secara perlahan. Hanya meninggalkan satu bekas ciuman di bahu, Yin Jinze kemudian semakin memeluknya sangat erat. Melingkarkan tangannya ke pinggang dan pinggul yang ramping dan lembut itu.
Dia memanggil dengan suara berat dan serak say menggunakan energi internalnya. "Bangun, apa kamu akan menyerahkan dirimu seperti ini untuk aku nodai sampai habis dan untuk aku lakukan semauku tanpa perlawanan sedikitpun?"
Mungkin karena suara internal Yin Jinze telah sampai di dengar oleh Lin Qiu Xi, tanpa sadar dia menyatukan alisnya dan mengeryitkan keningnya, sangat samar dan hanya berlangsung sekejap mata tapi sukses membuat Yin Jinze tersenyum senang.
Yin Jinze memegang pipi sintal Qiuxi, kemudian kembali menempelkan bibir mereka. Ketika ujung lidahnya menembus gigi-gigi Qiuxi, dia berpatroli di sana membalik di segala penjuru untuk di jelajahi. Bibir mereka menyatu erat, dan lidah Yin Jinze dengan lancang dan sombong memandu lidah Lin Qiu Xi untuk menari.
__ADS_1
Tindakannya lebih somong, kuat dan agresif seolah ingin menelan gadis di pelukannya dengan utuh.
Tapi ciuman panas kali ini murni untuk mengambil alih Dupa Gu agar masuk ke dirinya sendiri.
Melalui lidah yang terjalin dan saling bersilang tindih, warna asing hitam keunguan mulai menjalar dari Lin Qiu Xi untuk masuk ke mulut Yin Jinze.
Dengan satu tegukan dan jakunnya bergulir, Yin Jinze menelannya tanpa keraguan.
Setelah memastikan bahwa Dupa Gu sudah tidak ada di tubuh Qiuxi, Yin Jinze masih tidak berniat untuk kembali menarik lidahnya. Dia menghisap dan mencium, sampai nafas yang membakar memenuhi seluruh mulut mereka.
Saat Dupa Gu sudah menghilang, seluruh wajah Qiuxi yang dingin dan pucat seolah hamparan salju yang membeku perlahan mulai di pulihkan. Seperti salju dingin yang perlahan mencair, wajahnya yang cantik perlahan menjadi mangnolia yang segar sampai-sampai membuat orang saat melihatnya akan berdecak karena terpesona.
Pipi Lin Qiu Xi yang putih, masih di warnai lapisan kemerahan yang tipis. Dan bibir kemerahan seperti cinnabar, semakin merah terang dan sedikit bengkak karena ciuman panas yang dia terima.
Yin Jinze menemukan bahwa iris hitam almond masih tertutup, dia mengulurkan tangan untuk mengelus punggung telanjang yang lain dan sekali lagi menyalurkan energi hangat dari telapak tangannya.
Dia lalu membungkus Lin Qiu Xi dengan selimut lembut, dan membungkus pinggul ramping itu menggunakan tangannya.
Yin Jinze hanya mempunyai dirinya sendiri untuk di tukar dengan kehidupan Lin Qiu Xi. Saat dia telah melakukannya, Yin Jinze sama sekali tidak menyesal. Tapi begitu melihat kecantikan rapuh berada di antara tangannya, satu penyesalan tumbuh di dalam hatinya.
Bukan penyesalan bahwa dia mengorbankan dirinya, melainkan perasaan menyesal bahwa dia..
Tidak bisa melihatnya lagi.
__ADS_1
...BOOK 1 TAMAT...