
Tujuh hari setelah kematian Cheng Shuang, selir resmi Ming dan Cheng Huo di adili menurut peraturan kekaisaran dan untuk Qiuxi sendiri setelah identitasnya sebagai seorang Alkemis terkoyak sistem menyuruhnya untuk melakukan perjalanan ke wilayah yang lebih besar, yaitu berada di Beifang untuk memberikan dirinya pada kaisar Li Zhu, seorang kaisar yang gemuk, buruk rupa dan terkenal sangat jelek.
Mengingat perintah sitem sebelumnya, di dalam ruangan miliknya, Qiuxi terpaku sejenak dan hampir melamun beberapa kali yang hampir membuatnya terbengong.
Duduk di dekat kisi jendela, gadis itu melihat ke arah luar dan salju turun menyelimuti hawa dingin di seluruh kekaisaran Nanfang jadi dia berinisiatif keluar dan berjalan ringan, ketika kakinya yang putih seperti batu giok menyentuh hamparan bersalju seolah-olah kaki Qiuxi terlihat sangat transparan.
Ketika Qiuxi berjalan sedikit-demi sedikit, di belakangnya sosok Yin Jinze mengamatinya dari kejauhan dan bagaimana pria dengan setengah topeng perak yang menutupi sebagian wajahnya itu mulai mengamati seorang gadis kecil bergaun semerah darah yang berjalan kaki memasuki bangunan megah berwarna merah.
Bangunan kuno dari salah satu kediaman di dalam kekaisaran dan tanpa sadar Qiuxi tersenyum hangat meskipun bangunan itu terlihat agak tua yang bisa di lihat dari debu-debu di sekitarnya.
"Waktu berlalu sangat cepat, sekarang tubuh ini telah berumur tiga belas tahun.."
Dia juga sedikit mengeryitkan keningnya. "Tapi apa benar Lin Qiu Xi ini harus menikah dengan.. Li Zhu?"
Mendengar gumaman gadis itu, Yin Jinze yang selalu diam-diam mengamati pergerakan gadis itu dan orang yang selalu menjaga Lin Qiu Xi dari segala apapun yang bisa membahayakan gadis itu dari belakang dan tanpa seorangpun yang bisa mengetahuinya, Yin Jinze hanya tertawa tipis.
Jika Lin Qiu Xi tidak ingin menikahinya sebagai Li Zhu, dia tidak akan pernah berhenti untuk mengejar Lin Qiu Xi, menjaganya dari bayang-bayang ataupun melindunginya dari apapun yang bisa membahayakan Lin Qiu Xi.
Meskipun tidak bisa menikah dengan Lin Qiu Xi sebagai seorang Li Zhu atau sebagai dirinya yang asli, atau tidak bisa memiliki gadis itu seutuhnya, bagi Yin Jinze, melihat keselamatan Lin Qiu Xi.. dia merasa sudah sangat cukup.
Di sisi lain Qiuxi mulai memasuki bangunan yang terisolasi dari bagian kekaisaran itu, setelah di dalam ruangan itu dia juga melihat seperti ruangan biasa pada umumnya selain benda-benda kuno berdebu dan tulisan asing yang tidak dia mengerti.
Qiuxi seketika terpaku melihat lukisan di dinding. Lukisan seorang perempuan sangat mengagumkan, rambut panjang berwarna hitam yang mengalir seperti sungai, mata iris hitam dan wajah seputih bunga magnolia yaitu lukisan Lin Qiu Xi yang asli melainkan bukan dia yang sebenarnya karena Qiuxi, seorang pengemis dari Jakarta yang terjebak.
Qiuxi membaca tulisan di lukisan itu, perkataannya pelan seperti tidak percaya. "Lin Qiu Xi, dan Qiuxi.. sisi mana yang diriku saat ini?"
Saat mempertanyakan apakah dia Lin Qiu Xi atau Qiuxi di dalam jantungnya, gadis itu kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
Mata Qiuxi tertarik pada salah satu benda, benda berwarna kristal dengan memiliki keenam sisi di dalamnya berwarna hitam pekat secara bersamaan berwarna putih terang yang bisa menyilaukan mata siapapun yang melihatnya.
Dan ketika dia melihat ke arah kristal itu, seolah-olah dia terbawa kembali ke kehidupannya sebelumnya, lebih tepatnya ke negara yang beriklim tropis.
Jakarta, 6 Mei 199X
"Qiu'er.." Suara yang penuh keramahan kembali menggema di telinga Qiuxi, dia berbalik dan melihat keperawakan sosok ayahnya yang berusia empat puluhan tahun saat dia masih berusia sepuluh tahun.
Di dalam ingatannya dia sedang berlibur ke salah satu pariwisata yang terkenal dan dia bermain air di kolam renang Dufan, Qiuxi mencakup air ke telapak tangannya dan dia membasuhnya, mengangkat sedikit kepalanya ke atas dan ke arah ayahnya. "Ayah memanggil Qiu'er?"
Ayah Qiuxi mengangguk dan tersenyum, meskipun kulit ayahnya tidak seputih kulit-kulit orang China dan sedikit sawo matang, namun ketika ayah Qiuxi dari Indonesia itu tersenyum seolah-olah kehangatan ada di dalam senyumannya. "Jika ayah kehilangan JX grup, apa Qiu'er akan marah?"
Qiuxi bertanya dengan cemberut. "Apa artinya kita tidak bisa liburan ke Dufan lagi?"
Ayah Qiuxi mengangguk dan Qiuxi langsung menekuk wajahnya. "Kalau tidak bisa berlibur lagi Qiu'er akan marah."
Ayah Qiuxi tersenyum dan dia mengusap kepala Qiuxi dengan kasih sayang yang tulus. "Semisal ayah tidak bisa menemani Qiu'er lagi ke manapun dan dimana pun, apa Qiu'er bisa menjadi gadis yang kuat?"
Qiuxi yang masih kecil langsung mengangguk antusias dan tersenyum lebar. "Ya, ayah Qiu'er berjanji!"
Melihat kristal ingatan itu Qiuxi yang sudah melakukan perjalanan transmigrasi tiba-tiba tertawa tipis, karena janji pada masa kecilnya untuk menjadi perempuan yang kuat sepertinya dia lupa karena di kehidupan sebelumnya setelah kematian ayahnya dan ibunya, Qiuxi menjadi sosok yang lemah dan ringkih juga sosok yang di pandang rendah siapapun.
Dia hanyalah seorang pengemis dan tunawisma.
Sebatas orang yang menegadahkan tangannya ke atas untuk menarik iba dan rasa kasihan orang-orang, berjalan ke sana kemari dengan baju yang compang-camping, namun ketika semua orang melihat tubuh kurusnya yang hanya menyisakan cagak bambu yang seolah bisa patah kapanpun atau semua borok yang bernanah yang membanjiri seluruh kulitnya, orang yang melihatnya akan mendengus jijik dan mengusirnya dengan kekerasan.
"Janji untuk kuat, huh?" Memegang kristal yang bercahaya di tangannya Qiuxi mendesah nafas.
__ADS_1
"Ayah, sekarang aku sudah menjadi perempuan yang kuat. Apa kamu melihatnya?"
Benda yang menyimpan memory masa lalunya membuat momen itu tidak bisa di lupakan bagi Qiuxi. Iris hitamnya mulai lemah sayu dan setelah beberapa saat tanpa sadar dari kedua matanya menjatuhkan butir bening yang tidak pernah dia keluarkan selama dia terjebak dalam dunia novel ini, kematian ataupun janjinya dengan ayah Indonesianya membuat perasaan pilu dan sesak tiba-tiba menderai jantungnya menjadi kepingan yang rapuh.
Seberapa banyak kepedihan kehilangan sosok seperti itu yang ingin di lupakan Qiuxi, ayahnya yang penuh lautan keramahan yang meracu terus terulang membuatnya dalam titik ini dia hanya seorang perempuan biasa, bukan pemimpin sebenarnya dari organisasi Hantu Pembantai Iblis, bukan tuan Wajah Topeng Kabut ataupun seorang Alkemis hebat.
Melainkan seorang gadis yang selalu merindukan ayahnya.
Meskipun dia telah memiliki beberapa kekuatan yang sulit untuk di singgung, tapi Qiuxi merasa semua yang dia miliki di dalam dunia palsu ini sperti pasir dalam genggaman tangannya yang dia pegang sekuat tenaga, namun semakin banyak Qiuxi memegang pasir-pasir itu maka dia juga akan semakin banyak kehilangan.
Seperti kehilangan sosok yang berharga dalam hidupnya lagi.
Untuk menjaga semua orang tetap patuh di sisinya, Qiuxi seorang gadis yang pernah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan, dia akan menjadi iblis yang tidak akan membiarkan orang-orangnya mati di depan matanya.
Namun di dalam dirinya yang tidak di ketahui siapapun saat dia menjadi Iblis langit sekalipun, dia masih mengharapkan seseorang yang bisa membuatnya bebas dari obor merah darah dan menerangi jalan hitamnya.
Siapapun, dia akan menghargainya seumur hidup.
"Aniang.." Qiuxi bergumam pelan sambil memikirkan wajah Qiu Liang di dalam ingatannya.
Kemudian bayangan Qiuxi menengadah ke langit, sepasang mata iris hitamnya menatap dengan cemas sendu.
"Di dunia palsu ini, jika aku tidak membenci orang-orang China lagi.."
.......
.......
__ADS_1
...Tamat, season 1....