Rumor Ratu Buruk Rupa

Rumor Ratu Buruk Rupa
Kamu berasal dari Indonesia yang memiliki penduduk yang ramah tamah


__ADS_3

Ketika para penjaga yang di suruh Lin Sili tiba, iris hitam Qiuxi kini menyapu dua orang penjaga yang berdiri di depan kediamannya yang bukan orang dari Nanfang melainkan dari Perguruan Bukit Darah yang pernah dia hancurkan dengan pasukan organisasinya, dan penjaga dari perguruan itu terlihat berada di tingkat praktisi ranah dou shi yang menandakan pembataian yang di lakukan Shan Shie dalam waktu satu malam itu, tidak sepenuhnya tercabut dan menghapus dari akarnya.


Meskipun ada segelintir orang yang lolos dari pembantaian besar-besaran yang jatuh lewat perintah Qiuxi, tapi gadis itu seperti tidak menggubrisnya sama sekali dan bahkan Qiuxi dengan malas berjalan ke kediamannya sendiri.


Saat berada dalam kamarnya, Qiuxi memasang arry kedap suara di kamarnya yang meskipun kamar itu sangat luas. Namun bagi Qiuxi kamar itu sangat sesak dan kecil karena di penuhi Feng Shui, Chen Yu dan Xiao Boa serta orang tambahan Mei Miyan.


Qiuxi berujar tenang pada Mei Miyan dan agar perempuan bertangan kidal itu tidak lolos dari perintahnya, Qiuxi sekali lagi berkata. "Aku tidak membutuhkan tambahan orang, mungkin kamu tidak menyangka jika aku sebagai seorang Alkemis Hantu memiliki ratusan pasukan pembunuh di belakang ku yang siap dengan apapun yang aku perintahkan. Dan singkat saja aku telah menolak mu."


Mendengarnya Mei Miyan seketika terkejut takut, apa lagi yang bisa Mei Miyan serahkan selain hidupnya? Bahkan dia kesulitan makan untuk setiap harinya. "Aku tidak punya apapun lagi untuk di serahkan pada anda Alkemis."


Qiuxi berkata dengan matanya yang picik dan senyuman yang tak terkendali. "Aishh.. apa kau tidak tahu yang lebih berharga dari satu nyawa kecilmu? Putri ini bahkan tidak peduli dengan nyawamu mati atau tidak."


Lutut Mei Miyan serasa lemas tanpa tulang karena tidak bisa menahan tubuhnya berdiri dan dia jatuh ke lantai. "Aku tidak punya hal lain yang berharga selain nyawa yang bisa ku berikan.."


Chen Yu yang mendengar kebodohan Mei Miyan mulai mendengus kesal. "Apa kamu idiot? Yang di inginkan kakak master bukan nyawamu tapi kesetiaan mu, bahkan nyawa kuda lebih baik dari pada nyawa milikmu."


Mei Miyan menatap gadis bergaun semerah darah di pandangannya, bertanya dengan ragu. "Apa benar itu Alkemis?"


Qiuxi tidak berkata namun juga tidak menyangkalnya yang berarti apa yang di katakan Chen Yu adalah benar, karena hanya menginginkan kesetiaannya jadu Mei Miyan seketika menghela nafas lega.

__ADS_1


"Tentu dengan senang hati aku menyerahkannya pada anda."


Melihat kesungguhan Mei Miyan yang ada di dalam matanya, Qiuxi tersenyum puas kemudian dia duduk sambil memandang keluar jendela yang terlihat hamparan bunga magnolia yang subur.


Saat melihat pemandangan yang seperti itu, yang di buat oleh satu orang, mau tidak mau Qiuxi kembali memikirkan perkataan Feng Shui yang mengatakan jika kulitnya yang mirip seperti magnolia murni dan apa terlihat mirip dengan kulit putihnya?


Bagi dia, Qiuxi merasa itu sama sekali tidak mirip dengannya karena bunga hanya terlihat cantik tapi mudah layu dan rusak melambangkan kelemahan. Sedangkan Qiuxi gadis yang tidak ragu berjalan di sisi hitam untuk menjalankan apa yang dia anggap benar dan apa yang dia inginkan, meskipun dunia akan mengecamnya sebagai karakter yang kejam sekalipun atau tidak biadab.. Qiuxi hanya takut kembali menderita di kehidupannya yang kedua ini.


Bukan hanya ketakutannya untuk tidak bisa mengubah apapun, tapi dia tidak tahu apakah mendapatkan kesempatan di trasmingrasi adalah pilihan yang benar atau salah, atau mungkin sebaiknya dari awal dia tidak mendapatkan kesempatan kedua untuk mengulangi kehidupannya karena pengemis sepertinya dari zaman berbeda sepertinya tidak pantas mendapatkan kesempatan seperti ini.


Ketika Qiuxi dalam mood yang buruk, tiba-tiba Xi Ze yang mendekam di lautan pengetahuannya berbicara. "Bocah, kau terlihat lemas dan kuyu yang seolah-olah tidak memiliki semangat barang se ujung jari sekalipun."


"Xi Ze kau mengetahui dengan jelas situasi ku di sini." Qiuxi berkata pada Xi Ze. "Kau bisa melihat kehidupan ku sewaktu di Jakarta sangat menyedihkan bukan? Menurut mu di trasmingrasi ke dunia yang palsu ini, apa aku bisa merasa tenang setiap waktu tanpa kekhawatiran sedikit pun?"


Xi Ze mengangguk sedikit. "Aku tahu kau takut untuk kembali ke zaman mu sendiri secara tiba-tiba. Meskipun kehidupan pengemismu yang dulu sangat memperihatinkan, tapi kau sendiri juga sedikit rindu di sana bukan?"


Xi Ze tidak tahan untuk berdesis. "Ck, dasar gadis yang plin plan."


Setelah keduanya diam agak lama, Xi Ze bertanya di lautan pengetahuan Qiuxi. "Apa yang kau rindukan?"

__ADS_1


Qiuxi tidak menggubrisnya membuat Xi Ze mengejek dan mencibir. "Dalam zamanmu, tempat asalmu di sebut sebuah negara kan? Kamu berasal dari Indonesia yang memiliki penduduk yang ramah tamah. Negara yang beriklim tropis yang sangat padat penduduk dan sumber dayanya di sana sebenarnya banyak, karena segerombolan manusia di sana sebenarnya otaknya pada tumpul semua, berkarat dan idiot membuat kemerdekaan di negara itu tidak merata untuk penduduknya sendiri.."


"Jadi apa yang kamu rindukan dari negara berkembang seperti itu, negara yang pernah membuat mu di sia-siakan karena menjadi seonggok pengemis?"


Mendengar pertanyaan Xi Ze, Qiuxi terdiam untuk waktu yang cukup lama sebelum dia bergumam tipis. "Aku merindukan ayahku."


Ayah Qiuxi adalah orang Indonesia yang menikah dengan Qiu Liang dari China dan sosok ayah Qiuxi memiliki perusahaan terbesar di Jakarta bernama JX grup, namun karena penipuan dari saudara Qiu Liang yang meraup semua aset JX grup tanpa menyisakan secuil untuk Qiuxi, maka kehidupan Qiuxi setelah kematian kedua orang tuanya.. dia menjadi seorang pengemis berpenampilan menjijikkan untuk menampung makanan basi.


Penampilan yang dulu sangat berbeda dengan yang sekarang, dia dulu hanya memiliki satu pakaian yang compang-camping dan berlubang di beberapa tempat, karena cuaca yang terik semua kulit-kulitnya mengering dan menggelap dan bahkan semua luka-lukanya mengalami infeksi membuat luka di kulitnya akan memborok, bernanah dan ada sebagian yang membusuk seolah-olah luka yang dia dapatkan dulu hampir di penuhi dengan belatung yang menggeliat.


Tapi meskipun penderitaannya di Jakarta adalah rasa sakit yang tidak tertahankan lagi, namun bagi Qiuxi, ketika dia mengingat kembali sosok ayah Indonesianya maka dia tidak akan pernah ada perasaan menyesal sedikitpun bahwa dia pernah hidup di Jakarta saat berada di abad ke-21.


Mengingat ayahnya, Qiuxi bergumam dengan suara tipis. "Dia adalah orang yang memiliki senyuman yang hangat, sekaligus senyuman yang selalu aku ingat dengan jelas seolah-olah sungai keramahan yang tidak akan pernah mengering."


Qiuxi bertanya balik pada Xi Ze. "Bukankah keramahan adalah ciri khas dari negara berkembang seperti itu?"


Xi Ze menarik bahunya ke atas dan menurunkannya acuh tak acuh. "Bocah, kamu terlalu impulsif."


Mendengar Qiuxi yang tidak memiliki penyesalan apapun di kehidupannya sebelumnya yang lebih menyedihkan dari sampah, Xi Ze tidak tahan untuk mendecakkan gigi-giginya.

__ADS_1


"Jangan bodoh, kebaikan mudah di manfaatkan. Jadi lebih baik kamu jadi orang jahat saja, aku mendukungmu."


__ADS_2