
keesokan harinya Nafisa mengatur rencana pertemuan Bima dengan risana. Nafisa meminta Risana untuk menemuinya di cafe Green. begitu juga Bima di minta datang ke cafe Green.
Nafisa: Abi nanti umi mau ketemu Abi di cafe Green jam 5 ya?". kata Nafisa dalam aplikasi percakapan.
Bima: kenapa di cafe mi?. nanti Abi pulang dulu nggak apa-apa kalau memang ada yang penting.
Nafisa: umi pengennya ketemu Abi di cafe. mau ya.
Bima pun mengiyakan permintaan istri nya, semenjak Nafisa sakit Bima selalu menuruti apapun permintaan Nafisa. meskipun Bima sangat sibuk.
sore hari pun tiba, Nafisa segera bergegas memesan taksi online menuju tempat yang di sepakati. karena jam pulang kantor jalanan menjadi sangat macet membuat Nafisa datang terlambat. setelah tiba di cafe Nafisa segera mencari keberadaan Risana. di dapatinya Risana dan Bima sedang duduk berdua, mereka sedang ngobrol dengan asyiknya. tidak sengaja tentunya.
"Abi". kata Nafisa mendekat ke arah Bima.
Bima yang mengetahui kedatangan Nafisa segera bangun dari kursinya lalu mencium kening istrinya. Risana yang melihat perlakuan Bima kaget sampai ikut berdiri. Risana bingung apa sebenarnya yang terjadi.
"pak Bima sama mbak Nafisa jadi,...".Risana menghentikan ucapannya.
"Ris ayo duduk dulu". pinta Nafisa.
__ADS_1
"Risana, maafkan aku sebelumnya udah nggak jujur sama kamu". sahut Nafisa.
"umi maksudnya bagaimana?". sahut Bima bingung.
"Ris sebenarnya pak Bima adalah suami mbak. mbak nggak tega kalau harus jujur sama kamu, mbak tau rasa suka kamu itu tulus". Risana memberanikan mengungkap semua.
"maafkan aku mbak, aku nggak bermaksud buat..." Risana mencoba menjelaskan tapi dengan cepat Nafisa memotong. "iya Ris mbak tau". ucap Nafisa.
Bima masih bingung dengan semua, tapi dia memilih diam membiarkan istrinya menjelaskan satu persatu.
"Abi, umi sekarang bukanlah wanita yang sempurna lagi buat Abi, Abi pernah janjikan akan menuruti semua permintaan umi?". kata Nafisa.
"iya umi Abi sudah janji menuruti semua permintaan umi, tapi Abi masih bingung ada hubungan apa umi sama Risana?". kata Bima meminta penjelasan.
"Risana, pak Bima adalah suami mbak, kami menikah sudah cukup lama. tapi mbak bukan wanita sempurna". ucap Nafisa seraya memandang mata Risana.
Nafisa hanya terdiam, di dalam kepalanya banyak tanda tanya besar, "kamu bodoh Risana bisa-bisanya bilang cinta sama suami orang, dan wanita yang kamu curhati malah istrinya sendiri. bodoh bodoh". Risana bermonolog dengan dirinya sendiri.
"Abi, Risana, maaf jika permintaan ku ini agak sulit buat kalian. tapi ini lah yang terbaik menurut ku. aku pengen Abi menikah dengan Risana". ucap Nafisa meyakinkan Risana dan Bima.
__ADS_1
"umi ini apa-apaan, Risana ini mahasiswi ku dia juga terlalu muda bagi ku. Abi memang sudah berjanji untuk menuruti semua permintaan umi. tapi tidak untuk yang ini". ucap Bima marah pada Nafisa.
Nafisa hanya terdiam ini adalah pertama kalinya Bima marah sama Nafisa. air matanya mulai lolos satu persatu. tanpa mengucap sepatah kata Bima pergi meninggalkan Nafisa.
"haduh mimpi apa aku semalam harus ketemu hal seperti ini, haduh malu banget aku sama mbak Nafisa, sama pak Bima juga". batin Risana yang masih terduduk.
Nafisa beranjak dari duduknya tanpa memperdulikan Risana. lalu berjalan menyusuri jalan dengan hujan yang turun dengan derasnya.
malam ini seperti biasa Bima pulang jam 11. segera dia membersihkan diri lalu masuk ke kamar. di carinya Nafisa tapi tidak di temukan, di dapur, di teras belakang rumah juga nihil.
"kamu kemana umi, jangan buat Abi khawatir".
Bima lalu bergegas mencari Bik Sumi.
"bik Sumi, Bik, Bik Sumi tolong buka pintunya". pinta Bima dengan menggedor pintu kamar Bik Sumi.
"ada apa tuan?". tanya Bik Sumi yang masih terkantuk.
" tadi Nafisa sudah pulang apa belum Bik?". tanya bima khawatir.
__ADS_1
"saya tidak tahu Tuan, tadi saya tidur sehabis Isyak belum ada pulang tuan". ucap Bik Sumi sambil mengingat ingat.
Bima semakin khawatir, Bima mencoba menghubungi Nafisa tapi di luar jangkauan.