Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
berhak bahagia (72)


__ADS_3

Nafisa berjalan pelan menuju dapur, ia mengambil air di tuangkan dalam gelas, lalu duduk di ruang makan. Nafisa memandang sekeliling, dirumah seluas ini ia hanya sendiri menghabiskan waktu tanpa suaminya.


"aku akan mencoba bertahan Abi, tapi jika cinta ku masih tidak mampu membuat mu kembali, aku yang akan pergi". gumanya lirih dengan tatapan kosong


Nafisa berdiri dari duduknya, mencoba kembali kekamarnya dan berbaring lagi. saat di kamar rasa di hatinya begitu sesak, ia ingin sekali mencurahkan semua isi hatinya. Nafisa segera mengambil handphone dan menghubungi sahabatnya.


"hallo Sa, ada apa?". tanya Novita dari sambungan telepon


"Nov, kamu bisa kesini?". ucap Nafisa dengan suara sedikit serak seperti orang menangis


"kamu kenapa sa? kamu sakit?". tanya Novita semakin panik mendengar suara sahabatnya seperti orang menangis


"aku pengen cerita Nov, udah lama aku nggak curhat sama kamu". jelas Nafisa menyembunyikan tangisannya


"oke aku sekarang kesana, aku bilang sama karyawan ku dulu". ucap Novita panik lalu menutup sambungan teleponnya


setelah ngobrol dengan Novita, Nafisa masih saja meneteskan air mata. ia mencoba menguatkan hatinya untuk tidak menangis, tapi rasa cinta yang terlalu besar membuat hatinya menjadi rapuh.


setelah beberapa lama menunggu akhirnya Novita sampai di rumah Nafisa, segera ia memencet bel rumah Nafisa. mendengar bel berbunyi Bik Sumi berlari kecil menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.


setelah membuka pintu, ternyata Novita sahabat Nafisa yang datang, lantas Bik Sumi mempersilahkan Novita untuk masuk dan memberitahu jika Nafisa ada di kamarnya, Novita yang masih panik segera menuju kekamar Nafisa dengan berlari kecil.


saat membuka pintu kamar di dapati Nafisa tengah berbaring di ranjang tidur. takut akan hal buruk Novita segera menghampiri sahabatnya itu.


"sa kamu kenapa?". tanya Novita berlari menghampiri Nafisa


"aku nggak apa apa nov. hanya masih lemas saja". jawab Nafisa masih berbaring


"tadi kamu telfon aku kenapa?. ada apa sebenarnya?". tanya khawatir Novita melihat wajah sahabatnya


"Nov, sekarang mas Bima sikapnya udah berubah. jarang perhatian sama aku". ucap Nafisa mencoba duduk dari tidurnya


"apa karena madu mu?". tanya Novita menebak

__ADS_1


Nafisa mengangguk pelan, ia memastikan jika Bima berubah karena Risana. Nafisa mulai menitikan air matanya lagi. Novita yang melihat sahabatnya berderai airmata segera memeluknya


"kamu yang sabar Sa, terus sekarang Bima dimana?". tanya Novita masih memeluk Nafisa


"lagi di rumah sakit nemenin Risana, kemarin Risana kecelakaan". jelas Nafisa masih sesenggukan


"Risana kecelakaan?. dimana?". tanya Novita penasaran


"iya Nov, di jalan xxxx. di tabrak truk, terus truknya melarikan diri". ucap Nafisa menjelaskan


"luka nya parah nggak?. terus keadaan kandungannya gimana? apa selamat?". cecar Novita yang penasaran dengan keadaan Risana


"kandungannya baik baik aja, luka nya agak parah. udah tiga hari dirumah sakit Nov. selama Risa di rumah sakit mas Bima nggak pernah pulang kerumah, hanya waktu pagi saat mau pergi ngajar, padahal aku juga lagi sakit Nov". ucap Nafisa wajahnya bertambah sedih


"keterlaluan emang Bima, dari awal aku udah tau pasti dia nggak akan bisa adil dengan istri istrinya. pasti Risana udah ngerayu Bima biar Bima nurut sama dia". oceh Novita tak terima


"terus kamu gimana Sa?. masih bertahan?". tanya Novita di iringi anggukan dari Nafisa


"nggak bisa Nov. kanker ku sudah parah, udah menyebar ke organ lainnya. percuma juga aku sembuh. rencananya besok aku mau kemo lagi, itu pun kalo badan ku udah sehat". ucap Nafisa tak bersemangat


"Sa, lihat diri kamu. kamu juga berhak bahagia. jangan karena Bima terus kamu jadi nggak semangat buat sembuh. ingat ayah bunda kamu Sa, mereka pasti sangat berharap kesembuhan kamu". ucap Novita menyemangati


"Sa Sa, dari awal aku udah nggak setuju kamu nyuruh Bima nikah lagi. karena aku tau ujung ujungnya pasti kayak gini, Bima pasti lebih memilih istri mudanya. aku tahu betul gimana sifat laki laki. mantan suamiku yang nggak aku suruh nikah lagi aja malah bermain di belakang aku dengan wanita yang lebih cantik dan lebih muda. apalagi ini punya istri dua yang lebih cantik muda". oceh Novita menasehati.


"Sa, sekaya apapun laki laki, sebaik apapun laki laki, sedalam apapun pemahamannya tentang agama dan tentang poligami, dia nggak akan pernah bisa adil dengan istri istrinya. pasti dia akan condong kesalah satunya". imbuh Novita menatap mata Nafisa serius


"terus aku harus gimana Nov?". tanya Nafisa menatap Novita


"saran aku, mending kamu tinggalin Bima, biar dia tahu rasa kehilangan kamu dan bisa menghargai kamu kembali". jelas novita serius


Nafisa nampak memikirkan apa yang diucapkan sahabatnya itu. tapi didalam hati Nafisa, ia tidak bisa jika harus jauh dari Bima, rasa cintanya begitu besar untuk Bima


apalagi selama ini yang ia inginkan menjadi istri shalehah, seperti khadijah selalu ada untuk suaminya disaat suka maupun duka, meskipun dalam keadaan terluka sekalipun.

__ADS_1


"Nov, besok temnin aku kerumah sakit ya". ucap Nafisa lirih


"jam berapa Sa?". tanya Novita


"jam 9 Nov, setegah 9 kamu harus udah sampe sini, soalnya biasanya macet". jelas Nafisa menatap mata sahabatnya


"besok aku usahain ya, ya udah kamu istirahat dulu. aku mau pulang". ucap Novita memeluk sahabatnya


"makasih ya Nov". ucap Nafisa lirih


"sama sama sa. aku balik dulu ya, kamu istirahat". ucap Novita lalu meninggalkan Nafisa di kamarnya


Novita merasa iba dengan sahabatnya, ia kasihan karena hati Nafisa yang terlalu baik, hingga di manfaatkan kebaikannya itu. setelah memasuki mobilnya, Novita segera melajukan mobilnya.


keesokan harinya Bima pulang kerumah untuk ganti baju dan mengambil tas kerjannya. tak nampak Nafisa di meja makan, ia hanya merebahkan dirinya di ranjang masih memikirkan ucapan sahabatnya tadi malam.


setelah sampai di rumah Bima tidak melihat Nafisa di ruang makan, padahal biasanya jam segini Nafisa sudah menyiapkan sarapan untuk Bima.


"tumben Umi nggak ada di meja makan, apa masih tidur?. padahal biasanya dia sebelum subuh sudah bangun". gumam Bima merasa aneh lalu menuju kekamarnya


"Umi, Umi masih tidur?". tanya Bima mendekat kearah Nafisa


"tidak Abi, Umi hanya tiduran". ucap Nafisa membelakangi Bima


"Umi kenapa? sakit?". tanya Bima duduk di ranjang lalu mendekat ke wajah Nafisa


"tidak Abi, badan Umi hanya merasa lemas". ucap Nafisa tanpa menatap Bima


"Umi marah?". tanya Bima merasa aneh dengan sikap Nafisa


namun Nafisa hanya menggeleng tanpa menatap Bima, dan masih dalam posisinya tidur miring ke kanan membelakangi Bima.


"tapi, kenapa Abi pulang tidak di sambut?. biasanya Umi langsung nyamperin Abi di depan". ucap Bima mencoba bertanya

__ADS_1


__ADS_2