
Risana segera berdiri menghapus air matanya menguatkan hatinya untuk tetap bersama Bima. Risana bertekad akan terus membuat Bima nyaman bersamanya hingga Bima benar-benar mencintainya.
Risana memasuki kamar inap Bima berjalan menuju ke arah Nafisa yang masih menyuapi Bima. Risana berdiri di samping Nafisa memperhatikan Bima yang masih di suapi Nafisa.
"mbak malam ini pulang saja, biar aku yang jagain mas Bima, kasian mbak, mbak juga sedang sakit". ucap Risana
"iya aku harus ngasih kesempatan Risana untuk berdua dengan mas Bima mungkin dengan begini mereka bisa tambah deket". batin di hati Nafisa
"iya Ris habis ini mbak pulang". ucap Nafisa tersenyum kepada Risana.
"Abi habis ini umi pulang ya, karena memang badan umi masih lemas. biar Risana yang jagain Abi". ucap Nafisa tersenyum menyuapkan bubur ke mulut bima.
Bima hanya mengangguk pelan melihat ke arah Nafisa. setelah itu Nafisa segera berpamitan dengan Bima dan juga Risana untuk pulang.
"Abi umi pulang ya, Abi harus cepet sehat lagi". ucap Nafisa mencium pipi Bima lalu cipika-cipiki dengan Risana dan berlalu pergi.
"mas tidur ya istirahat, biar cepet sehat". ucap Risana tersenyum
"temani saya tidur disini". ucap Bima menepuk tempat di sampingnya.
"tapi mas, kamu sedang sakit nanti aku ganggu kamu". ucap Risana.
"nggak, aku pengen di temenin kamu disini. ayo cepet naik". titah Bima pelan.
Risana segera menuruti perintah suaminya naik ke atas ranjang pasien tidur di samping Bima. tidur memeluk Bima, jantung Risana berdetak sangat kencang seakan ingin copot. begitu juga jantung Bima berdetak lebih cepat dari biasanya.
"aku mencintaimu Ris". batin Bima di dalam hatinya memeluk Risana erat. entah kenapa Bima belum siap mengutarakan perasaannya padahal Bima sudah yakin jika ia mencintai istri mudanya.
"aku mencintaimu pak tapi kenapa sikap bapak berubah-ubah membuat aku bingung". ucap Risana menikmati pelukan Bima menikmati setiap hembusan nafas Bima dirasakannya hangat.
"aku nyaman bersama bapak andaikan setiap hari bisa seperti ini". gumam Risana di dalam hatinya dengan senyuman indah di bibirnya.
__ADS_1
keduanya terlelap tidur hingga pagi dan di bangunkan oleh suster piket yang akan mengecek kondisi Bima. Risana segera turun dari ranjang Bima menuju kamar mandi.
"yang ampun so sweet banget sih aku jadi iri". gumam lirih suster melihat kemesraan kedua nya lalu membangunkan Risana.
"permisi maaf saya mau mengecek kondisi pasien". ucap suster membangun kan Risana yang masih terlelap di pelukan Bima.
"oh iya Sus silahkan". ucap Risana turun dari ranjang pasien berlalu menuju kamar mandi
suster segera mengecek suhu tubuh Bima, mengecek tensi dan juga infusnya. sedangkan di kamar mandi Risana berjulak kegirangan merasakan bahagia, hatinya berbunga-bunga.
"ini baru awal, setelah ini aku yakin aku bisa mendapatkan cinta mu mas". gumamnya lirih dengan senyum manisnya.
****
tiga hari telah berlalu Bima sudah kembali ke rumahnya. Risana dan Nafisa berbagi tugas menjaga Bima, setiap pagi yang menjaga Nafisa sampai sore dan malam hingga pagi gantian Risana yang menjaga.
"mbak kalau pagi sampai sore yang jaga mas Bima mbak ya, soalnya aku kan kuliah. aku bisanya sore, malem sampe pagi". ucap Risana menjelaskan.
"iya Ris, kalo gitu mbak tidur di kamar tamu aja ya, kamu yang tidur di kamar sama mas Bima". ucap Nafisa mengiyakan meskipun sedikit ada rasa mengganjal di hati.
"hati-hati Ris". ucap Nafisa mengantarkan Risana sampe ke depan pintu.
Nafisa menepati janjinya ia menjadikan Risana seperti adiknya sendiri, menerima madunya dengan ikhlas. setelah itu Nafisa bergegas ke meja makan lalu mengantarkan sarapan ke kamar untuk Bima.
"Abi sarapan dulu ya". ucap Nafisa meletakkan nampan berisi sepiring nasi dan air minum.
"mau disuapin apa makan sendiri?". tanya Nafisa yang duduk di sebelah Bima.
"makan sendiri aja mi, Abi udah sehat kog. umi juga jangan terlalu capek umi harus banyak istirahat biar sehat juga, terus nanti bisa langsung operasi". ucap Bima menerima piring dari Nafisa.
Bima mulai makan dengan lahapnya Nafisa hanya melihat suaminya itu dengan senyum di bibir manisnya.
__ADS_1
"mulai malam ini yang jaga Abi Risana ya, gantian kalo pagi sampe sore umi yang jaga Abi". ucap Nafisa menjelaskan
"Risana tidur di kamar ini mi?". tanya Bima menghentikan kunyahan nya.
"iya". ucap Risana dengan senyum nya.
"hanya berdua dengan abi". timpalnya lagi
"terus Umi tidur dimana?". tanya Bima.
"Umi nanti tidur di kamar tamu, biar umi bisa istirahat kalo malem". jelas Nafisa
"biar ada waktu juga Abi dengan Risana, ya. ya udah umi kedapur dulu". ucap Nafisa lagi.
Nafisa berjalan keluar menuju pintu kamar, ia harus menata hatinya menerima semua kenyataan ini dan Bima ia terus menatap Nafisa hingga hilang di balik pintu.
****
satu Minggu berlalu Bima nampak sudah sehat dan sudah mulai beraktivitas seperti biasa. setiap pagi sebelum berangkat Bima mulai membawa bekal makanan dari rumah ia takut jika jajan sembarangan akan membuatnya sakit lagi. Risana selalu menyiapkan keperluan Bima kecuali masalah pakaian karena pakaian Bima ada di kamar Nafisa
kebetulan hari sabtu adalah hari ulang tahun kampus, semua dosen di undang beserta keluarga nya dan akan ada pesta malam yang di meriahkan dengan pentas seni persembahan dari mahasiswa.
Bima nampak khawatir karena bingung siapa yang akan di ajak ke acara ulangtahun kampus. jika mengajak Risana kasihan Nafisa , tapi jika mengajak Nafisa kasihan Risana. Bima terus membolak-balik an pikirannya.
"tapi kalau aku mengajak Nafisa kan Risana bisa pergi sendiri ke acara kampus. pasti dia dapat undangan sebagai mahasiswi". gumam Bima lirih duduk di kursinya.
setelah itu Bima pergi mengajar di kelas Risana. semua mahasiswa sudah mengumpulkan tugas dari Bima hanya kurang Risana yang belum mengumpulkan hingga hari ini.
"Ris tugas kamu mana? seharusnya sudah di kumpulan dari kemarin". ucap Bima di depan kelas. Bima mencoba profesional sebagai dosen Risana dan tidak menyangkutkan masalah pribadi apalagi perasaan
"maaf pak dari kemarin belum sempat". ucap Risana merasa bersalah.
__ADS_1
"saya tidak mau tahu besok harus di kumpulan". ucap Bima tegas membuat Risana kebingungan.
Bima sebenarnya merasa kasihan karena selama ini Risana yang mengurus Bima hingga semua tugasnya berantakan, tapi Bima mencoba tegas sebagai dosen yang disiplin.