Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
melepas rindu (32)


__ADS_3

adzan subuh telah terdengar Bima segera kembali ke kamarnya dan membangun kan Risana. Bima ingin selalu membimbing istrinya untuk taat kepada agama.


"Ris udah subuh, kita jama'ah yuk". pinta Bima menepuk-nepuk lengan Risana.


"iya pak". ucap Risana membuka matanya pelan Risana segera duduk di ranjangnya menatap Bima yang masih terduduk di sampingnya.


"kita jama'ah ya, kamu ambil wudhu dulu. saya tunggu di tempat sholat". titah Bima berlalu meninggalkan Risana.


Risana menatap punggung Bima hingga hilang di balik pintu. setelah itu ia beranjak dari tempat tidur segera turun ke bawah menyusul Bima.


*************


pagi tiba mereka berdua tengah di sibukkan dengan menata barang-barang untuk di bawa ke rumah Bima. Bima membantu Nafisa menyiapkan semua keperluan Risana. meskipun tak pernah mengharapkan kehadiran Risana tetapi Bima tetap bersikap lembut dengan Risana.


"ini semua sudah saya masukan dalam koper kita tinggal berangkat saja". seru Bima menurunkan koper dari atas ranjang.


"pak saya pamit dulu sama mamah". ucapnya meninggalkan Bima

__ADS_1


Risana segera menuruni tangga menuju ruang kerja mamahnya. semenjak sepeninggal ayahnya mamah Risana lebih memilih menghandle semua masalah pabrik dari rumah. mamah Rossa hanya akan ke pabrik jika ada meeting dengan klien.


"mamah Risa pamit dulu ya, mamah jaga diri baik-baik". ucap Risana memeluk mamahnya yang duduk di kursi kerja.


"iya sayang nanti sering-sering kesini nengokin mamah, mamah pasti akan kesepian nggak ada kamu ". Mamah Rossa membalas pelukan Risana dengan erat.


setelah selesai memasukkan koper kedalam mobil Bima berencana menemui mamah mertuanya. ia berjalan cepat dan segera masuk keruang kerja mamah mertua


"mamah kami pamit dulu". ucap Bima berdiri di depan meja kerja mamah Rossa


"jaga Risana baik-baik ya Bim, jangan buat Risa sedih. kamu juga harus memperhatikan makanan Risa karena Risa alergi susu sapi ". ucap mamah Rossa menjelaskan tentang Risana.


setelah berpamitan Risana dan Bima memasuki mobil dan melajukan nya . di dalam mobil suasana seperti biasanya hening dan sunyi. Bima fokus mengemudi memandang ke depan sedangkan Risana sesekali mencuri pandang wajah suaminya yang hanya diam.


tak terasa mobil mereka telah sampai di rumah Bima. tepat di depan rumah Bima menghentikan mobilnya dia segera turun lalu mengambil kan koper Risana. bik Sumi yang mengetahui kedatangan tuannya segera menuju kearah Bima dan memberi sambutan.


"tuan sudah pulang , biar saya saja tuan yang membawanya". pinta Bik Sumi mengambil alih koper milik Risana

__ADS_1


"Nafisa mana Bik". tanya Bima matanya memutar melihat sekeliling ruangan.


"nyonya sedang istirahat tuan, katanya badannya masih lemas". ucap Bik Sumi


"saya ke Nafisa dulu, Bik tolong antarkan Risana ke kamarnya". pinta Bima berlalu pergi menuju kamar Nafisa.


dengan semangat Bima melangkah kan kaki menuju kamarnya dirinya sudah tidak sabar ingin segera memeluk istri tua nya. dirinya sungguh sangat rindu ingin membelai rambut Nafisa sekaligus juga ingin mengetahui kabar nya.


"assalamualaikum umi". ucap Bima membuka pintu kamar


di dapatinya tak ada jawaban dari Nafisa, Bima segera masuk untuk melihat keadaan istri tercintanya yang sedang tertidur lelap.


"kamu kasihan Nafisa di saat kamu sedang sakit seperti ini aku malah meninggalkan mu bersama wanita lain". ucap Bima lirih menyusul Nafisa berbaring di sampingnya dan memeluknya merengkuh nya dengan lembut.


"seharusnya abi ada di samping umi saat seperti, seharusnya abi ada untuk umi di saat umi butuhkan abi". sesalnya di dalam hati yang masih merengkuh Nafisa di dalam dekapannya.


Bima terus saja menciumi Nafisa hingga Nafisa tersadar dengan kehadiran Bima. Nafisa membuka matanya melihat wajah Bima yang sendu karena menangis.

__ADS_1


"Abi menangis?". tanya Nafisa heran " kapan Abi sampai. kenapa tidak membangunkan umi". cecar Nafisa lirih yang masih merasa lemas di seluruh tubuhnya.


Bima hanya menggeleng sedikit ia terus saja memeluk Nafisa Bima ingin melepaskan rindunya yang sudah menggunung. melihat air mata keluar dari mata Bima membuat Nafisa sedikit heran sebenarnya ada apa dengan Bima. tapi Nafisa mengurungkan niatnya untuk bertanya ia lebih memilih menikmati pelukan Bima yang sudah sangat ia rindukan.


__ADS_2