Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
orang asing (70)


__ADS_3

keesokan harinya Bima pulang kerumah untuk berganti baju setelah semalaman menemani Risana di rumah sakit. mendengar suara mobil suaminya di depan rumah, Nafisa bergegas keluar untuk menyambut kedatangan Bima.


"Abi". ucap Nafisa bersalaman mencium tangan punggung Bima


"Abi mandi dulu ya Umi, Umi tunggu di meja makan saja. biar Abi ambil sendiri baju Abi. ya...". ucap Bima berlalu meninggalkan Nafisa di ruang tamu


Nafisa terus menatap punggung suaminya hingga jauh menghilang, Nafisa mulai merasa sikap Bima berubah sejak Risana hamil. sekarang dirinya semakin menjauh dari Bima, dalam sehari hanya sesekali bisa berjumpa dengan Bima.


di akhir pekan pun kadang Bima sibuk sendiri di taman belakang dengan laptopnya. Nafisa mencoba memahami keadaan suaminya, ia tahu pasti Bima bersikap seperti ini karena kebahagiaannya akan menjadi seorang ayah.


sedangkan dirinya hanya menjadi beban bagi suaminya, sesekali Nafisa menyeka air mata yang terus menetes di pipi. dari jauh Bik Sumi memperhatikan Nafisa yang terus mengusap eluhnya, Bik Sumi ikut merasakan kesedihan yang di alami majikannya itu namun tidak berani untuk jauh bertanya


tak lama Bima berjalan menuju meja makan, sudah lengkap dengan kemeja dan tas kerjanya. tau Bima sudah siap, Nafisa segera menyiapkan sarapan untuk Bima.


"ini Abi sarapannya". ucap Nafisa memberikan sepiring nasi di hadapan Bima yang baru duduk di kursinya


"terimakasih Umi". ucap Bima tersenyum kepada Nafisa


"Abi, gimana perkembangan kasus kecelakaan nya Risana?. apa pelakunya sudah tertangkap?". tanya Nafisa sambil mengupas buah di tangannya


"sepertinya memang di sengaja Mi, dari rekaman CCTV, truk itu tiba tiba menabrak mobil Risana. orangnya juga memakai masker, topi dan kacamata hitam, jadi susah untuk di kenali. terus dari plat nomor juga dipalsu". ucap Bima menerangkan sambil sarapan


"siapa ya Abi yang sengaja mencelakai Risana?". tanya Nafisa penasaran


"entah lah Mi, polisi masih menyelidiki". jawab Bima masih menyuap nasi


Bima segera menghabiskan sarapannya bergegas pergi mengajar kesekolahan dan siangnya mengajar di kampus. saat berdiri dari kursinya Bima berpesan kepda Nafisa agar mbak Anik menemani Risana selama ia mengajar.


"tolong nanti Umi suruh mbak Anik kerumah sakit ya buat jaga Risana. abi berangkat dulu". ucap Bima berdiri dari duduknya dan mencium kening Nafisa


"nanti malam Abi nggak pulang, Abi langsung kerumah sakit. assalamualaikum". ucap Bima berlalu meninggalkan Nafisa yang masih duduk di meja makan.


setiap pagi biasanya Nafisa selalu menyempatkan mengantarkan Bima sampai depan rumah, namun kali ini rasa di hati Nafisa sudah tidak tahan. ia mulai merasakan cinta Bima telah hilang, bagaimana mungkin sekian tahun menjaga keharmonisan rumah tangga dan selalu di nomor satukan suaminya kini malah berbalik seperti orang asing di dalam rumahnya sendiri

__ADS_1


"ini kah balasan yang harus aku terima?". ucapnya lirih dengan tatapan kosong


Nafisa bangkit dari kursinya berjalan menuju kekamar untuk membaringkan tubuhnya yang lemah. ia menyadari akan kesalahannya dan kini Nafisa menerima resiko atas kesalahan yang ia buat.


sedangkan Risana di rumah sakit tengah di periksa oleh dokter. saat dokter Adnan masuk keruangan Risana, ia nampak bingung. karena dokter yang menanganinya adalah Yuda bukan dokter Adnan.


"permisi Nona Risana, saya dokter Adnan saya menggantikan dokter Yuda untuk memeriksa nona, di karenakan beliau sedang cuti". jelas dokter Adnan berdiri di samping ranjang pasien di temani suster lainnya


"iya dok, silahkan". ucap Risana berbaring di ranjang menatap ke arah dokter Adnan


suster segera mengecek kondisi Risana, di tensi dilihat lukanya, di lihat suhu badan dan juga detak jantung nya. di nilai semua sudah normal, besok Risana sudah di perbolehkan pulang dan menjalani rawat jalan.


saat dokter Adnan hendak pergi, Risana mencoba menanyakan kenapa Yuda cuti. Risana berfikir apa karena pertengkaran kemarin lalu Yuda menghindar darinya.


"maaf dok, kalo boleh tau dokter Yuda cuti kenapa ya?". tanya Risana merasa heran


"saya tidak tahu nona, karena tadi hanya pamit untuk cuti satu minggu kedepan". ucap dokter Adnan menjelaskan


"ya sudah kami permisi dulu nona selamat pagi". ucap dokter Adnan meninggalkan ruangan Risana


setelah kepergian dokter Adnan Risana mencoba menerka nerka, "apa mungkin Yuda benar benar menjauhi ku?" gumamnya lirih mencoba duduk di ranjang


"semoga saja benar, aku takut akan kemarahannya kemarin. lebih baik aku nggak bertemu lagi dengan Yuda". ucap Risana bermonolog dengan dirinya sendiri


"maafin aku Yud, semoga kamu bisa ngelupain aku dan menemukan wanita yang lebih baik lagi. maaf selama ini tak pernah ada rasa cinta di hati ku, dan sekarang aku sudah menemukan pangeran ku. pangeran yang aku impikan dari kecil, ini lah cinta ku Yud Bima bukan kamu. sekali lagi maaf Yud". ucap nya lagi dengan suara sedih


****


dirumah Monica ia terus saja menghubungi Yuda, pasalnya dari kemarin Yuda susah dihubungi, membuat dirinya merasa khawatir takut akan sesuatu terjadi dengan Yuda.


di kamarnya yang besar Monica mondar mandir sembari menghubungi Yuda, berkali kali ia panggil namun tak ada jawaban.


"Yud kamu kemana Yud, aku khawatir sama kamu". gumam lirih Monica melihat layar handphone nya dan mencoba menghubungi Yuda kembali

__ADS_1


"aku khawatir Yud". ucapnya lagi


"mending aku samperin kerumah sakit aja, siapa tahu dia ada disana". ucap Monica bermonolog dengan dirinya


"apa jangan jangan dia sengaja menghindar dari aku, gara gara kejadian kemarin. huhuhu nggak mau, aku nggak mau jauh dari Yuda. ini nggak boleh terjadi. aku harus samperin dia sekarang". ucap Monica lagi mengambil tasnya di ranjang tidur dan bergegas keluar kamar


dengan tergesa gesa Monica berjalan menuju mobilnya, membuka pintu mobil dan melajukan mobilnya, ia sangat frustasi jika Yuda menjauhinya selama ini ia selalu mendapatkan apa yang ia ingin kan


sebagai anak seorang pejabat Monica selalu di nomor satukan ayah dan ibunya. apapun yang Monica minta pasti selalu dituruti meskipun menyakiti hati orang lain. hal itu membuat Monica selalu ingin memiliki apa yang merasa ia suka.


tak lama mobil Monica sudah sampai di parkiran rumahsakit. ia nampak tak sabar ingin segera bertemu dengan Yuda, dengan cepat Monica melangkahkan kakinya yang jenjang.


sedikit lari lari kecil Monica semakin cepat melajukan langkahnya. ia tak tahu kenapa ia sangat takut kehilangan Yuda, padahal niat awal Monica hanya ingin memperalat Yuda untuk menyakiti hati Risana.


Monica sekarang sudah ada di depan ruangan Yuda, tangannya mulai memegang gagang pintu ruangan itu. kakinya mulai melangkah memasuki ruangan Yuda, matanya mulai melihat sekeliling. namun tak ada tanda tanda ada Yuda


semua masih sama seperti kemarin saat terakhir dirinya meninggalkan ruangan itu. Monica semakin di tambah panik saat dirinya memanggil nama Yuda namun tak ada jawaban


"Yud, kamu jangan ninggalin aku Yud". ucapnya merasa frustasi


melihat foto Yuda dengan almarhum kakaknya, tiba tiba ia teringat dokter Noval, Monica yakin jika dokter Noval tahu dimana Yuda.


Monica berjalan keluar dari ruangan dokter Yuda menuju keruangan dokter Noval. Mknica berjalan sedikit tergesa gesa berharap akan mendapatkan jawaban yang pasti dari dokter Noval.


ia kini sudah sampai di depan pintu ruangan dokter Noval, dengan keras Monica menggedor pintu ruangan dokter Noval. berharap dokter Noval mendengar dan segera membuka pintunya.


"dokter Noval, dok, tolong buka pintunya dok". ucap keras Monica sembari menggedor pintu ruangan dokter Noval dengan keras


di dalam ruangan dokter Noval nampak ia sedang sibuk dengan beberapa map di meja kerjanya. mendengar pintu nya di gedor keras dan teriakan Monica membuatnya kaget.


"siapa sih ribut ribut di luar, nggak sopan banget". ucap dokter Noval berdiri dari duduknya


dokter Noval berjalan kearah pintu yang terus saja di gedor oleh seorang wanita. didalam hatinya sudah menebak pasti Monica yang datang dan ingin menanyakan Yuda karena ia tahu Yuda susah di hubungi.

__ADS_1


__ADS_2