
Di hari pernikahan Bima dan Risana semua nampak sangat bahagia, begitupun Nafisa ia mencoba ikut bahagia.
di malam pengantin Bima dan Risana hanya duduk terdiam di tepi ranjang, keadaan serasa sunyi sepi malam yang seharusnya romantis bima malah memilih diam. hingga akhirnya dia berucap "maaf saya tidak bisa melakukan nya dengan mu, kita tidur saja masing-masing dan saya akan tidur di bawah". ia bergegas mengambil selimut dan bantal sebagai alas nya.
Risana hanya terdiam tanpa mengucap sepatah kata pun tubuhnya mematung sesekali ia melihat Bima yang sudah tertidur di lantai.
"aku paham pak, bapak tidak bisa melakukan nya dengan saya karena bapak tidak mencintai saya. tapi saya yakin suatu saat bapak akan jatuh cinta sama saya dan takut kehilangan saya. saya akan membuat bapak jatuh cinta mati kepada saya". batin Risana sambil mengusap air matanya.
sepanjang malam Risana tidak bisa memejamkan matanya ia terus saja membolak-balik an badannya melihat suaminya yang sudah lebih dulu terlelap. jantungnya berdetak kencang tak karuan sebenarnya Risana sangat bahagia meskipun malam pertamanya tak sesempurna keinginannya. Risana mengusap kepalanya dengan kasar. aaarrgghhh
tak terasa hari sudah fajar Bima bangun terlebih dulu ia segera beranjak keluar kamar menuju ke tempat sholat, selesai sholat lalu Bima membaca Alqur'an, mamah mertua yang melihat terheran karena Bima sendirian tidak di teman istrinya.
"Bim Risana mana?". tanya mamah Rossa yang akan melaksanakan sholat subuh.
"itu mah masih tidur, saya nggak tega mau banguninnya". ucap Bima dengan nada sedikit malu-malu.
"hhmm pasti semalam kebanyakan ya sampai kecapekan". ucap mamah Rossa menggoda sembari menggelar sajadah di samping Bima.
Bima hanya tersenyum mendengar ucapan mamah mertuanya itu. lalu melanjutkan lagi membaca Alqur'an.
hingga pagi harinya Risana belum juga bangun dari tidurnya sedangkan Bima sudah bersiap di meja makan bersama ibu mertuanya. mamah Rossa pun terheran dengan Risana tak biasanya dia bangun siang seperti ini.
"Risana mana Bim? belum bangun juga?". tanya mamah Rossa.
"i Iyah mah, tadi saya lihat masih tertidur lelap". ucap Bima sambil mengundurkan kursi.
__ADS_1
"coba bangunin Bim masak sudah punya suami mau sarapan malah nggak di layani". titah mamah Rossa.
Bima segera beranjak menuju kamar nya di bukanya pintu kamar, perlahan berjalan menuju kearah Risana ia terus memandangi wajah istri barunya itu.
"kalo lagi tidur manis juga". batin Bima sambil tersenyum senyum.
"Ris ayo bangun udah siang, udah di tungguin mamah di meja makan". ucap Bima sembari menepuk bahu kiri Risana.
dengan mata yang masih sayup-sayup ia mengusap perlahan pangkal matanya "pak Bima, kenapa bapak ada disini?". tanya Risana pelan dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Ris apa kamu lupa kemarin kita sudah menikah?". tanya Bima terheran.
"oh iya ya, maaf pak saya lupa". pekik Risana sembari menepuk jidatnya.
"udah cepetan mandi, saya tunggu di meja makan". suruh Bima yang berlalu meninggalkan Risana
"jam berapa sih kayaknya masih gelap kog udah pada sarapan". Risana mulai melihat jam kecil yang terletak di atas meja samping ranjangnya.
" astaghfirullah udah setengah tujuh, tambah malu kan sama pak Bima, aduh pasti di kiranya aku pemalas". gerutu Risana dengan dirinya.
Risana segera bangun dari tempat tidur nya dan segera membersihkan diri. meskipun tak melakukan malam pertama ia tetap membasahi rambutnya seolah olah seperti pengantin baru pada umumnya.
di meja makan Bima dan mamah Rossa mengobrol banyaknya hal, mamah Rossa merasa cocok dan nyambung dengan Bima karena memang Bima orang nya supel dan mudah beradaptasi.
Risana yang sudah bersiap segera turun ke bawah dan bergabung dengan mamahnya dan juga suaminya.
__ADS_1
"pada ngobrolin apa sih kok kayaknya seru". tanya Risana yang baru datang
"waduh waduh pengantin baru rambutnya udah wangi aja". goda mamah Rossa yang masih menyuap nasi ke mulutnya.
Bima tertunduk malu dengan mulut yang masih mengunyah nasi sedangkan Risana memandangi Bima dengan membulat kan mata nya seolah memberi isyarat tapi Bima hanya tertunduk malu sambil terus menyuapkan nasi ke mulutnya.
***
malam tiba Bima duduk di taman depan rumah di temani suara air kolam yang terus bercucuran. ia ingin menyampaikan betapa rindunya dengan Nafisa ingin sekali rasanya mencurahkan rasa rindunya ini. Bima ingin menghubungi Nafisa tapi merasa tidak enak jika ketahuan mamah Rossa.
mungkin Risana akan mengerti tapi mamah Rossa pasti akan merasa jika Bima orang yang egois, sedangkan sekarang masih suasana pernikahan. Bima hanya bisa memendam rasa rindunya menghantarkan lewat doa berharap Nafisa tau jika dirinya sangat merindukan istri tua nya.
merasa jenuh di taman Bima segera masuk kekamar Risana didapatinya Risana tengah asyik memainkan gadgetnya dengan raut wajah yang sumringah sesekali Risana juga tersenyum.
Bima yang bingung berbuat apa memutuskan untuk duduk di sofa kamar.
"bapak dari mana?". tanya Risana yang masih asyik dengan handphone nya
"dari luar Ris, saya bingung mau ngapain". jawab Bima .
"kalo bingung mau ngapain buat tidur aja pak". ucap Risana terkekeh.
Bima yang belum mengantuk memutuskan untuk menonton TV yang ada di kamar Risana. Risana yang senyum senyum sendiri sesekali di lirik Bima "apa yang dia lakukan sampai senyum-senyum sendiri". gumam Bima heran.
"Ris kamu ketawa sama siapa, sama pacar kamu?". tanya Bima curiga.
__ADS_1
"nggak pak ini lho lagi bercanda sama Yola, saya nggak punya pacar pak, kan saya sudah punya suami". Jawab Risana terkekeh.