Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
hari pertama (88)


__ADS_3

Risana penasaran apa yang sebenarnya di bicarakan oleh Bima dan dokter Noval, setelah kepergian dokter Noval perlahan ia mendekat kearah Bima yang masih duduk di ruang tamu.


"mas, tadi Noval kesini ngobrol apa sama kamu?". tanya Risana duduk di samping Bima


"kata Noval, Nafisa meminta ku menemaninya selama dua hari, dia ingin mengucapkan perpisahan". ucap Bima tanpa menatap Risana


"kenapa mas? kenapa harus bertemu?. lewat telepon kan bisa". pekik Risana sedikit kesal


"aku juga tidak tau Ris, Nafisa yang minta". ucap Bima acuh tak acuh


"kalian kan sebentar lagi resmi bercerai. jangan jangan mas mau rujuk sama mbak Nafisa?". tanya Risana menatap Bima penuh kecurigaan


namun Bima hanya diam, ia enggan menanggapi ocehan Risana. andaikan di beri kesempatan lagi, sebenarnya ia ingin rujuk dengan Nafisa dan memulai hidup baru. tanpa mengindahkan Risana, Bima berlalu meninggalkan Risana di ruang tamu lalu diikuti Risana di belakangnya


"mas, aku belum selesai ngomong". pekik Risana berjalan mengekor di belakang Bima


"terus kamu mengiyakan mas, permintaan mbak Nafisa?". tanya Risana mengikuti Bima duduk di meja makan


"iya". jawab Bima datar


"terus nanti kamu nginep disana?". tanya lagi Risana penasaran


"aku nggak mau mas kalo kamu nginep, aku takut di kamar sendirian. kamu kan tau aku nggak bisa tidur kalo nggak ada kamu". ucap Risana mencari alasan


Bima nampak berfikir, ia merasa kasian dengan Risana karena perutnya yang sudah membesar dan butuh perhatian. apalagi setiap malam Risana selalu meminta perutnya di usap, karena calon buah hatinya selalu menendang nendang.


"mas kenapa diem?. jangan nginep ya. kamu boleh ketemu mbak Nafisa, tapi jangan nginep.". ucap Risana merengek sambil menggoyangkan tangan Bima


"iya, sorenya aku pulang". jawab Bima datar


****


keesokan harinya Nafisa duduk di depan cermin meja rias di temani Bunda. ia nampak tersenyum, karena sebentar lagi akan bertemu dengan Bima. Bunda yang melihat Nafisa sedikit berbeda mencoba menanyakan kepada Nafisa


"Sa, kelihatannya kamu sedang bahagia, dari wajah kamu Bunda lihat kebih sumringah". ucap Bunda memeluk Nafisa dari belakang


"Bun, aku minta ijin nanti aku pergi sama mas Bima ya, aku ingin pergi ke tempat yang dulu pernah aku dan mas Bima kunjungi. aku ingin mengenang saat saat terakhir dengan mas Bima". ucap Nafisa menatap Bunda dari cermin

__ADS_1


"Ayah kamu sudah tau?". tanya Bunda menatap Nafisa dari cermin


Nafisa menggeleng, karena dirinya belum meminta ijin dari Ayah. meskipun dia tau pasti Ayah tidak akan mengijinkan, tapi Nafisa tetap bersikeras akan pergi dengan Bima.


"Sa, kamu tau sendiri kan gimana bencinya Ayah kamu sama Bima?. nanti kalo kalian bertemu terus pergi berdua kalo Ayah marah gimana?". tanya Bunda


"aku mohon Bun. aku hanya ingin mengenang masa masa berdua dengan mas Bima. setelah ini aku janji akan melupakan mas Bima, dan tidak akan pernah menemuinya lagi". ucap Nafisa dengan memelas


"nanti Bunda bantu bicara sama Ayah ya. sekarang Bunda bantu sisir rambut kamu". ucap bunda mengambil sisir di depan Nafisa


Bunda mulai menyisir rambut Nafisa, perlahan dari atas hingga ujung. saat di ujung nampak disisir banyak rambut Nafisa rontok. setiap sentuhan Bunda memegang rambut Nafisa langsung terlepas. Bunda sangat sakit hatinya melihat keadaan Nafisa.


"Sa". ucap lirih Bunda dengan mata berkaca kaca sambil menunjukkan rambut Nafisa yang rontok


"itu biasa Bun, setiap habis kemo pasti rambut ku akan rontok". ucap Nafisa masih dengan tersenyum


"Sa, rambut kamu sekarang sudah mau habis, kenapa tidak bilang dengan Bunda?". ucap Bunda lirih lalu memeluk Nafisa


"nggak apa apa Bun. tapi aku tetep cantik kan?". ucap Nafisa mencoba optimis


dari arah pintu ada Ayah datang memberi tahu jika ada Bima di luar. Bunda segera berjalan menghampiri Ayah, Bunda ingin mengatakan jika Ayah harus mengijinkan Nafisa pergi dengan Bima


"untuk apa Bima kesini?. katanya Nafisa yang meminta". tanya Ayah dengan nada emosi


"Yah, sabar dulu ya. kasian Nafisa Yah, beri dia kesempatan bertemu dengan Bima. Bunda sudah bicara dengan Nafisa. katanya dia hanya ingin mengenang masa lalu bersama Bima sebelum dirinya pergi ke luar negeri. Yah, tolong mengerti keadaan Nafisa ya. dia butuh semangat Yah". ucap Bunda dengan wajah memelas


mendengar permohonan Bunda, Ayah kemudian menghampiri Nafisa yang masih duduk di depan cermin.


"kamu mau pergi dengan Bima Sa?". tanya Ayah mencoba mengontrol emosinya


"iya Yah, Nafisa mohon ijinkan ya Yah. hanya dua hari. Nafisa ingin ke tempat yang dulu pernah kesana". ucap Nafisa lirih


"hanya sampai sore, setelah itu langsung pulang". ucap Ayah berlalu meninggalkan Nafisa dan Bunda


Nafisa menatap Bunda dengan mata berbinar menandakan hatinya sedang bahagia, meskipun wajahnya sangat pucat dan kurus.


"Bunda bantu kamu pakai jilbab ya". ucap Bunda membantu Nafisa

__ADS_1


setelah selesai Nafisa di bantu Bunda ke ruang tamu masih dengan duduk kursi rodanya. di wajah Bima juga terlihat bahagia. akhirnya setelah beberapa bulan tak bertemu kini mereka bisa bertemu kembali.


"Sa, kalo Bunda boleh tau, kamu sama Bima mau kemana?". tanya Bunda


"hari ini aku ingin kepantai Bun. aku ingin menyusuri pantai seperti pertama kali aku dan mas Bima kesana". ucap Nafisa mengingat kejadian lalu


"jangan capek capek ya, harus tetep di kursi roda. jangan jalan, nanti kaki kamu tambah bengkak". ucap Bunda menasihati


"iya Bun". jawab Nafisa


"Bim, jaga Nafisa baik baik ya, jangan terlalu capek. juga jangan boleh kalo Nafisa berjalan nanti kakinya tambah bengkak". ucap Bunda menasihati Bima


"iya Bunda, saya pergi dulu ya Bun. assalamualaikum". ucap Bima bersalaman dengan Bunda


"wa'alikumsalam". jawab Bunda mengikuti Bim dan Nafisa keluar


terlihat Bima membantu Nafisa naik ke mobilnya. setelah itu ia masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya. srpanjang perjalanan Nafisa hanya diam, ia hanya menatap arah depan menikmati kendaraan lain yang berlalu lalang.


sesekali Bima menatap Nafisa, ia ingin menanyakan hari ini dirinya ingin kemana.


"Umi, hari ini kita mau kemana?".tanya Bima menatap Nafisa


"aku ingin kepantai mas, seperti pertama kali kita kesana waktu masih kuliah". ucap Nafisa lirih


"hari ini sangat panas Mi, Umi yakin?". tanya Bima


"iya, aku hanya ingin melihat pantai, duduk di bawah pohon". jawab Nafisa


mendengar ucapan Nafisa, seketika Bima ingat masa saat pertama kali ke pantai dengan Nafisa. ia ingat betapa saat itu ia jatuh cinta dengan Nafisa karena kebaikan dan ketulusan hati nafisa.


lama mengemudi, akhirnya mereka sampai di pantai yang mereka tuju. Bima segera turun dari mobilnya, lalu membantu Nafisa untuk duduk di kursi roda.


"sekarang Umi mau ke arah mana?". tanya Bima sambil mendorong kursi roda Nafisa


"tempat pertama kali kita duduk dimana?". tanya Nafisa


Bima berjalan ke arah tempat yang Nafisa maksud, di bawah pohon kelapa. saat itu pantai sangat tenang tanpa ombak, hanya ada angin yang sesekali menerpa badan.

__ADS_1


__ADS_2