
"Yud, kamu ngapain disini?". tanya Monica memegang tangan dokter Yuda
dokter Yuda menggeleng pelan masih menatap ke arah Risana pergi. lalu Monica mengajaknya kembali ke tempat game zone, semenjak saat itu ingatan dokter Yuda mulai mengingat Risana
namun ia belum memastikan jika mereka pernah memiliki hubungan. dokter Yuda hanya ingat bagian bagian awal waktu bertemu Risana di rumah sakit.
"Yud nanti mau makan apa?". tanya Monica menggandeng tangan dokter Yuda dengan mesra
"apa aja Nic". jawab dokter Yuda datar
"kita makan di rumah aja gimana?. pasti mamah udah nyiapin makan siang". ucap Monica menatap dokter Yuda mesra
lantas Monica bergegas menuju parkiran di mall D, ia mengajak dokter Yuda untuk pulang. semenjak psikis dokter Yuda sakit, yang ia tau Monica adalah kekasihnya dan akan segera melangsungkan pernikahan, meskipun didalam hati dokter Yuda merasa kurang nyaman dengan Monica
sepanjang perjalanan pulang kerumah, dokter Yuda terus saja mencoba mengingat siapa Risana, berkali kali ia mencoba mengingat masa lalu hingga kepalanya merasa sakit.
"kamu nggak apa apa Yud?". tanya Monica khawatir menatap dokter Yuda
dokter Yuda melambaikan tangannya dengan tangan kanan memegang samping kepalanya yang terasa sakit.
sedangkan Risana di rumah masih memikirkan dokter Yuda, ia penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan Yuda, kenapa dia tidak ingat dengannya sama sekali.
pertanyaan demi pertanyaan ada di pikiran Risana, lama berfikir membuatnya sedikit terasa capek, lalu ia mencoba merebahkan dirinya di ranjang, berharap mengembalikan lagi energinya.
nampak perut Risana kini sudah agak besar, kehamilan nya sekarang sudah memasuki usia 17 minggu, di ranjang tidur ia mengelus pelan perutnya, berharap calon buah hatinya segera tumbuh besar dan sehat
"kamu sehat sehat ya sayang, karena kamu, alasan supaya papah kamu tetap bertahan dengan mamah". ucap Risana sambil mengelus perutnya
dari kamarnya terdengar suara mobil Bima tengah memasuki pelataran rumah, dengan segera Risana menghampiri Bima, turun ke bawah dengan hati hati.
__ADS_1
"udah pulang mas?. gimana? mbak Nafisa udah ketemu?". tanya Risana menghampiri Bima yang baru masuk ke dalam rumah
"dia ada di rumah orang tuanya".ucap Bima lesu dengan keadaannya yang kacau
"hufft malah udah ketemu. harusnya dia pergi yang jauh biar mas Bima nggak nemuin". gumam dalam hati Risana merasa kesal
"sini sini aku pijitin ya, kamu pasti capek muter muter nyari mbak Nafisa". ucap Risana memeluk lengan Bima dengan mesra
dengan langkah gontai Bima berjalan kekamar Risana, hati dan pikirannya kali ini sangat hancur. ia terus memikirkan ucapan Ayah mertuanya tadi.
"Abi nggak mau kehilangan kamu Umi, Abi pengen bareng bareng Umi terus". gumamnya dalam hati saat memasuki kamar Risana
Bima segera merebahkan dirinya di ranjang tidur, ia ingin menenangkan pikirannya. di sampingnya ada Risana yang memeluknya mencoba memberi ketenangan, namun Bima malah merasa jika Risana hanya mengganggu
"aku ingin tidur siang, tolong jangan di ganggu, nanti jika sudah jam empat bangunin". ucap Bima menatap Risana yang tidur di sampingnya
"kenapa kamu masih bersikap dingin mas, apalagi setelah kepergian mbak Nafisa, kamu semakin tak menganggap aku". gumam dalam hati Risana, menatap wajah Bima yang sudah terlelap
disisi lain, Bunda terus saja meratapi nasib Nafisa. dengan wajah sedih, terlihat di mata Bunda mengembun berkaca kaca. tidak tega jika anak perempuan yang ia kasihi selama ini harus merasakan cobaan yang begitu berat.
"kamu yang sabar sayang, cinta memang kadang membuat orang lupa diri, sama seperti kamu. karena terlalu cinta dengan Bima, hingga rela Bima menikah dengan wanita lain". ucap Bunda memegang tangan Nafisa
"kata Ayah, setelah ini kamu akan berobat keluar negeri, di temani sama Ayah. karena bulan depan Ayah kamu sudah pensiun". imbuh Bunda
"tapi aku mau di sini aja Bun, berobat disini. aku pengen sama Bunda sama Ayah. aku pengen ngabisin waktu bersama kalian". ucap Nafisa lirih dengan senyum kecil di bibirnya
"kamu harus sembuh Sa, dokter Noval sudah mencari pengobatan yang terbaik disana. dan kamu bisa melanjutkan hidup kamu". ucap Bunda menasihati
Nafisa diam, entah mengapa ia enggan berobat keluar negeri, padahal ia ingin sembuh dari kankernya. melihat Nafisa diam Bunda mencoba mengerti, mungkin Nafisa butuh berfikir dengan jernih
__ADS_1
"Bunda tinggal dulu ya, kamu istirahat". ucap Bunda berlalu meninggalkan Nafisa di kamarnya
Nafisa tak mampu memungkiri, jika dirinya masih enggan jauh dari Bima. hatinya masih sangat mencintai Bima, bagaimana mungkin cintanya begitu saja hilang setelah sekian tahun bersama dengan cinta yang besar.
malam itu Nafisa mencoba menulis surat untuk Bima, ia curahkan semua perasaannya di surat yang ia tulis dengan rapi. ia menceritakan saat pertama bertemu Risana, dia sangat mengagumi Risana saat itu. gadis polos yang baik dan tidak sombong mempunyai cinta yang besar untuk suaminya dan akhirnya ia minta untuk menikah dengan Bima.
Nafisa memang wanita cengeng, menulis surat saja air matanya berjatuhan membasahi kertas yang sedang ia tulis. di ranjang nya ia duduk wajahnya tengadah ke atas, seakan tidak kuat menanggung beban berat yang sedang menimpanya.
setelah Bunda keluar dari kamar Nafisa, Bunda mencoba mencari Ayah. nampak Ayah sedang duduk santai di samping rumah menikmati kopi dan rokok yang sesekali ia hisap.
pikiran Ayah sebenarnya tertuju pada nasib Nafisa, meratapi nasib putri satu satunya yang kini sangat tragis. di tengah tengah melamun Ayah di kagetkan dengan kedatangan Bunda di hadapannya.
"Bunda, bikin kaget Ayah saja". ucap Ayah menatap Bunda yang berdiri di depannya
"Ayah mikirin apa?. Ayah jangan banyak pikiran ya. nanti darah tingginya kumat". ucap Bunda duduk di kursi samping Ayah
"Ayah sedang memikirkan nasib Nafisa Bun, hidupnya kenapa jadi begini, padahal Ayah sudah sangat berharap bisa menimang cucu. bisa melihat keluarga nya bahagia". ucap Ayah lesu menatap kebawah sesekali masih menghisap rokoknya
"itu sudah kehendak Allah Yah, yang terpenting sekarang Nafisa sehat. kita harus memberi Nafisa semangat, agar dia juga punya semangat untuk sembuh". ucap Bunda menatap Ayah dari samping
"ini semua karena Bima". ucap Ayah dengan mata emosi
"bukan Yah, ini sudah takdir. Ayah tau kenapa Nafisa pergi dari rumah?". tanya Bunda menatap Ayah
"karena Bima tidak bisa menjaga Nafisa". ucap Ayah menebak
"bukan Yah, tapi karena Risana.kalo bisa Ayah jangan memaksa mereka bercerai ya". ucap Bunda memelas
"Ayah akan tetap membuat mereka bercerai. Ayah tidak terima jika Nafisa selalu di sakiti". ucap Ayah merasa mantap dengan keputusan nya
__ADS_1