Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
maaf (11)


__ADS_3

Bima bergegas mengambil kunci mobil, dengan cepat melajukan mobilnya. setiap jalan di telusuri nya, di lihat ke kiri ke kanan namun tetap saja nihil.


"kamu di mana umi, jangan buat Abi khawatir". ucap Bima dengan perasaan was-was.


jam sudah menunjukkan pukul 01.05 tapi Bima belum juga menemukan Nafisa. pikirannya mulai kalut ia takut jika istrinya di goda orang-orang jahat. tiba-tiba fikiranya berinisiatif untuk datang ke cafe tadi, segera dia menuju kesana,


tapi sayangnya cafe sudah tutup.


Bima sudah hilang akal rasa khawatirnya sudah berlebih, "umi maafkan Abi yang nggak becus menjaga umi". selalu Bima menyalahkan dirinya sendiri.


tak sengaja Bima melihat perempuan duduk di trotoar di lihatnya dengan seksama. segera Bima turun dari mobil dan menghampiri perempuan itu.


"umi". teriak Bima senang telah menemukan istrinya.


Nafisa berdiri dari duduknya lalu menghampiri Bima, karena fisiknya yang lemah dan kedinginan membuat Nafisa tidak sadarkan diri.


dengan sigap Bima menggendong Nafisa lalu membawanya pulang.


setelah sampai di rumah Bima segera meminta pertolongan Bik Sumi.

__ADS_1


"bik tolong siapkan air hangat sama kompres ya, sekalian teh hangat juga, nanti tolong antar ke kamar". pinta Bima.


"iya tuan". kata bik Sumi lalu bergegas ke dapur.


dengan telaten Bima merawat Nafisa, mengganti pakaiannya, mengganti kompres setelah dingin, dengan seksama mengecek suhu tubuh Nafisa.


"Alhamdulillah panasnya sudah turun". kata Bima lalu meletakkan kembali handuk kompres ke dahi Nafisa


Bima begitu lelah dia mencoba membaringkan tubuhnya di samping Nafisa. lalu tertidur dengan memeluk istrinya. Bima memang seperti itu, setiap Nafisa demam ia akan tidur tenang jika suhu tubuh istrinya sudah kembali normal.


hari sudah pagi matahari sudah menampakan cahayanya, perlahan Nafisa terbangun dari tidurnya. ia menatap lekat wajah suaminya lalu mencium bibir Bima dengan lembut.


"terimakasih Abi sudah menjadi suami yang baik buat umi". batin Nafisa lalu beranjak dari tempat tidur.


"nyonya, nyonya sarapan dulu ya". kata bik Sumi yang berdiri di samping Nafisa.


karena badannya yang masih lemas Nafisa hanya mengangguk. segera Bik Sumi mengambilkan sarapan untuk Nafisa setelah Nafisa mengiyakan.


Bima yang masih tertidur mencari keberadaan Nafisa. Bima membuka matanya perlahan melihat arah jam dinding kemudian melihat sekeliling kamar. "mungkin umi di luar". batin Bima lalu menyusul Nafisa.

__ADS_1


perlahan Bima berjalan ke meja makan. dia melihat Nafisa tengah di suapin Bik Sumi


"biar saya saja Bik". ucap Bima ingin menggantikan menyuapi Nafisa.


dengan segera Bik Sumi meninggalkan meja makan lalu menuju dapur.


"Abi minta maaf ya umi soal tadi malam, maaf Abi malah meninggalkan umi". ucap Bima menyesal.


tanpa basa-basi Nafisa langsung melempar pertanyaan ke pada Bima mengenai permintaannya.


"Abi mau kan menikah sama Risana?". tanya Nafisa datar


Bima hanya terdiam, dia takut jika salah dalam mengambil keputusan.


"beri Abi waktu ya mi, Abi butuh memikirkan jawaban nya". jawab Bima yang masih menyuapi Nafisa.


hari ini Bima memutuskan mengambil cuti .ia ingin menemani Nafisa seharian, sekalian menebus kesalahannya.


Bima masih bingung dengan permintaan istrinya, semalaman memikirkan tentang perjodohan dengan Risana, membuat hatinya kalut antara iya apa tidak. perlahan matanya mulai terpejam, bima teringat akan sosok ibunya yang begitu ia cintai, begitu ia rindukan. ibunya berpesan "anakku carilah jawaban yang tepat, pilihlah yang terbaik untuk istri mu. yang engkau pun ridho atas itu.ibu pamit ya".

__ADS_1


Bima membuka mata "ibu, arrghh hanya mimpi. gumam Bima memanggil ibunya.


"mungkin itu jawaban dari ibu. sepertinya aku harus solat istikharah, aku ingin keputusan yang terbaik untuk keluarga ku". batin Bima lalu beranjak ke kamar mandi.


__ADS_2