Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
alergi (76)


__ADS_3

Nafisa terbangun dari tidurnya, membuka matanya perlahan, matanya menatap ranjang sampingnya, tak ada Bima di sisinya. ia menarik nafas panjang panjang, lalu mencoba duduk di tepi ranjang


Nafisa tau, pasti Bima hanya menghibur dirinya, ia hanya mencoba adil dengan istri istrinya, setelah terlelap Bima pindah di kamar Risana. namun Nafisa mencoba menata hatinya, memahami keadaan yang ada.


Ia harus kuat menerima semua perlakuan Bima, yang terpenting bagi Nafisa adalah Bima masih mau menemaninya dan mau membagi waktu untuk dirinya.


dari tepi ranjang Nafisa mencoba berdiri menegakkan badannya yang lemah, dengan susah payah, ia melangkah pelan menuju meja makan, sesampainya di meja makan ia duduk termenung memikirkan Bima dan rumah tangganya, Nafisa menatap jam di dinding yang menunjukan angka dua, suasana malam itu hanya ada sunyi yang menemani.


baru saja Nafisa merasa lega karena Bima bisa adil dengan istri istrinya, namun nyatanya, ia hanya mencoba menghibur agar Nafisa tidak sedih, dan agar terlihat adil


merasa sepi, Nafisa kembali kekamarnya, merebahkan lagi badannya, dan mencoba terlelap hingga pagi.


***


hari ini dokter Noval berencana datang keruangan dokter Baskoro, ia ingin menyampaikan rasa terimakasih karena telah membantunya. ia nampak berfikir duduk di kursi nya menghadap jendela


sepintas tersirat di benaknya, bagaimana kabar Nafisa hari ini, ia ingin memastikan jika Nafisa baik baik saja. ia ingat jika sudah mempunyai nomor Nafisa yang ia minta saat makan siang bersama. segera dokter Noval mengambil handphone nya, menulis pesan untuk Nafisa


"hai Sa, bagaimana kabar kamu?.


dari Noval" tulis dokter Noval dalam aplikasi percakapan


di hati dokter Noval perasaannya harap harap cemas, apa pesannya di balas Nafisa atau tidak. sesekali ia menatap layar ponselnya, berharap ada balasan dari Nafisa, namun sama sekali tak ada balasan dari Nafisa. lama menunggu, lalu, dokter Noval memasukkan handphone nya kedalam saku, kemudian berdiri melangkah keluar ruangannya


langkahnya kini tertuju ke ruangan dokter Baskoro, ia ingin bertemu dengan dokter Baskoro empat mata, membahas masalah kanker Nafisa. setelah sampai di depan ruangan dokter Baskoro, dokter Noval segera mengetuk pintu ruangan dokter Baskoro


tok tok tok


"masuk". titah dokter Baskoro di dalam ruangannya


mendapat persetujuan dari dokter Baskoro ia langsung membuka pintu melangkahkan kakinya masuk kedalam. dokter Noval menatap serius mata dokter Baskoro


"silahkan duduk dokter Noval". titah dokter Baskoro melihat dokter Noval berjalan kearahnya


dokter Noval segera duduk di kursi di sebrang dokter Baskoro. ia benar benar takut dengan keadaan Nafisa, ia takut jika kanker Nafisa malah semakin menyebar. apalagi sebenarnya sel kanker Nafisa belum mati sepenuhnya. dan percakapan kemarin bahwa sel kanker Nafisa sebagian telah mati, itu karena permintaan dokter Noval agar Nafisa bisa menjalani pengobatannya dengan tenang tanpa kepikiran karena tidak bisa sembuh


"dokter Baskoro, terimakasih kemarin telah membantu saya, ini semua saya lakukan demi Nafisa, agar dia tidak mekikirkan penyakitnya dengan serius. maafkan saya dokter Baskoro, memanfaatkan jabatan saya dengan sewenang wenang. seharusnya saya tidak melakukan ini". ucap dokter Noval merasa menyesal


"saya paham dokter Noval, bahwasannya perasaan akan mengubah segala hal. apalagi cinta, kita akan melakukan segalanya demi seseorang yang kita anggap penting. jadi, apa dokter Noval ada perasaan khusus dengan Bu Nafisa?". ucap dokter Baskoro dengan tersenyum


"entahlah dok, saya sendiri juga tidak tau. saya hanya ingin Nafisa terlihat bahagia, terus sembuh dari sakitnya". ucap dokter Noval dengan wajah lesu


"tidak apa dokter Noval, yakinkan saja dulu. percaya, jika seseorang yang kita cintai, suatu saat akan bisa menjadi milik kita". ucap dokter Baskoro menyemangati


"tolong jangan beri tahu siapa pun ya dok, ini rahasia kita. biar nanti kalo Nafisa kontrol lagi, biar saya yang urus". ucap dokter Noval menatap mata dokter Baskoro


"iya dokter Noval, sebisa saya akan membantu dokter". ucap dokter Baskoro tersenyum


"kalo begitu saya permisi dulu dok, selamat siang, sekali lagi terimakasih". ucap dokter Noval berdiri dari duduknya dan bersalaman dengan dokter Baskoro


selesai mengobrol dengan dokter Baskoro, dokter Noval memutuskan untuk datang kerumah Nafisa. ia ingin memastikan keadaan Nafisa baik baik saja.


saat menuju parkiran langkah dokter Noval semakin cepat, ia ingin agar segera sampai di rumah Nafisa. rasa di hatinya begitu khawatir, merasa bersalah telah membohongi Nafisa.


sepanjang perjalanan kerumah Nafisa, terus saja dokter Noval menatap layar ponselnya, berharap ada balasan dari Nafisa, namun hingga dokter Noval sampai di rumah Nafisa sama sekali tidak ada balasan


di dalam mobilnya, dokter Noval terus saja mengamati rumah Nafisa, ia terus menatap pintu gerbang yang tertutup rapat seperti tidak ada aktivitas di rumah tersebut, terlihat sangat sepi.


sedangakan di dalam rumah Nafisa, ia hanya tiduran di ranjang, merasakan perutnya yang semakin sakit. di dalam kamarnya ia menahan sakitnya sendiri, tak pernah terbayangkan sebelumnya jika dirinya harus berjuang sendiri melawan kanker ganas yang semakin hari semakin membuat dirinya tak mampu berdiri.


tanpa ada Bima disisinya, tanpa ada Bima yang perhatian dengannya. ia hanya sendiri, menahan semuanya sendiri.

__ADS_1


hari sudah hampir sore, dokter Noval memutuskan untuk pulang karena tidak bisa mengetahui bagaimana kondisi Nafisa, dari pesan yang ia kirim untuk Nafisa juga belum ada balasan sama sekali.


merasa kecewa, dokter Noval melajukan mobilnya sangat kencang. dokter Noval sendiri merasa frustasi memikirkan Nafisa, ia sangat memikirkan kesehatan Nafisa, meskipun dirinya tidak pernah di lihat oleh Nafisa.


di kamarnya, Nafisa mencoba duduk di tepi ranjang, ia mencoba melangkahman kakinya menuju dapur, ia ingin membuat kan susu ibu hamil untuk Risana yang sebelumnya ia titipkan kepada Bik Sumi.


menurut Nafisa, ia sudah lama tidak ngobrol dengan Risana, Nafisa sangat merindukan Risana yang dulu sebelum semuanya berubah seperti sekarang


sesampainya di dapur, perlahan Nafisa mengambil gelas, membuka kemasan susu lalu mengambil dua sendok takar di taruhnya kedalam gelas. Nafisa masih telaten membuat susu meskipun tubuhnya sangat lemah.


dengan tangan gemetar Nafisa mengambil termos air panas, menuangkannya kedalam gelas dengan perlahan mengaduknya satu arah. sesekali Nafisa memegang perutnya yang terasa nyeri karena kanker rahimnya.


susu untuk Risana kini sudah siap, dengan sisa tenaganya Nafisa mencoba membawa susu nya ke kamar Risana, perlahan, Nafisa menaiki anak tangga dengan berpegangan railing


terasa sangat berat untuk Nafisa sampai di anak tangga berikutnya, ia mencoba istirahat menarik nafas panjang lau di keluarkan, begitu terus hingga badannya siap untuk menaiki anak tangga berikutnya.


baru menaiki tiga anak tangga, Nafisa sudah sangat kelelahan, ia mencoba istirahat lagi. menarik nafas panjang panjang lalu di kelurkan, ia ulangi beberapa kali hingga badannya terasa enakkan lagi. menurutnya ini benar benar membutuhkan perjuangan untuk sampai di kamar Risana


merasa enakkan, Nafisa mencoba melanjutkan lagi menaiki anak tangga berikutnya, lama berjuang akhirnya Nafisa sudah sampai di atas, perasaan di hatinya ada bahagia ada sedih. masih dengan kaki yang gemetar setelah menaiki anak tangga, nafisa berjalan menuju kekamar Risana


berjalan dengan sangat pelan, hingga sampai di depan kamar Risana. kemudian Nafisa mencoba mengetuk pintu kamar Risana memanggil nama Risana hingga terdengar oleh Risana


tok tok tok


"Ris, Risana. apa boleh mbak masuk?". ucap Nafisa mengetok pintu Risana dengan pelan


"Ris, tolong buakin pintunya". ucapnya lagi karena tak ada jawaban


tak ingin menyerah, Nafisa terus saja mengetuk pintu kamar Risana, setelah lama mengetuk akhirnya Risana mendengar ada suara Nafisa di luar


"seperti suaranya mbak Nafisa". gumam Risana lirih melihat arah pintu


namun setelah di dengarkan dengan seksama, ternyata memang benar suara Nafisa, lantas Risana segera turun dari ranjangnya berjalan menuju arah pintu.


membuka pintunya dengan cepat lalu menatap wajah Nafisa seperti tak percaya jika ada Nafisa di depannya.


"Ris, mbak bawain susu buat kamu. ini bagus lho buat ibu hamil". ucap Nafisa memberikan segelas susu kepada Risana


"makasih ya mbak". ucap Risana mengambil gelas di tangan Nafisa


"di minum ya Ris". ucap Nafisa tersenyum kepada Risana


"iya mbak". ucap Risana memaksakan bibirnya tersenyum


setelah mengambil gelas dari tangan Nafisa, lalu Risana berjalan ke arah meja lalu menaruhnya. di belakang diikuti Nafisa melangkah masuk kedalam kamar Risana. Nafisa ingin mengobrol sebentar dengan Risana, karena di hati Nafisa tak pernah ada rasa benci kepada Risana, ia menganggap Risana seperti adiknya sendiri


"Ris, kandungan kamu usianya udah berapa minggu?". tanya Nafisa duduk di tepi ranjang


"udah depalapn minggu mbak". ucap Risana menatap Nafisa


"semoga sehat ya Ris, kamu jangan terlalu capek. biar nanti mbak juga bisa gendong". ucap Nafisa masih tersenyum


"iya mbak, aku juga masih minum penguat kandungan kog, apalagi setelah kemarin kecelakaan, takutnya nanti keguguran seperti mbak dulu". ucap Risana sambil memegang perutnya


"deg" hati Nafisa seperti tertampar oleh ucapan Risana. jika di beri pilihan, Nafisa juga ingin bisa mengandung, melahirkan dan mempunyai anak seperti perempuan lainnya. namun Allah berkata lain, ia harus menjalani kisah yang seperti ini.


"Ris, mbak kebawah dulu ya, jangan lupa susunya diminum


"aku anter ya mbak?". tanya Risana


"nggak usah Ris, kasian kamu. mbak bisa sendiri kog. ya...". ucap Nafisa lalu berdiri dari duduknya

__ADS_1


Nafisa berjalan pelan keluar dari kamar Risana, menuruni anak tangga satu persatu, ternyata tidak sesulit saat menaikinya,, Nafisa merasa enteng saat turun lalu segera kembali kekamarnya untuk merebahkan tubuhnya


setelah kepergian Nafisa, Risana duduk di tepi ranjangnya, memikirkan Nafisa yang tiba tiba memberinya segelas susu.


"tumben mbak Nafisa ngasih aku segelas susu". ucapnya lirih merasa aneh


"nggak apa apa deh, niatnya baik biar bayi ku sehat". ucap Risana mengambil segelas susu dari atas meja


Risana segera meminum susu itu, tak ada yang aneh dengan Risana, namun saat malam tiba semua badannya memerah. seperti terbakar, ia terus saja mengusap tangannya yang merasa kepanasan. Risana terus saja kesakitan, merasa tak tahan Risana segera menghubungi Bima


ddrrtttt ddrrtttt


"hallo sayang ada apa?". tanya Bima yang sedang mengemudikan mobilnya


"mas badan ku panas semua mas seperti terbakar". ucap Risana panik masih mengusap tangan dan wajahnya yang memerah


"kenapa.sayang?". tanya Bima ikut panik


"nghak tau mas tiba tiba badan aku memerah terus panas". jelas Risana merengek kesakitan


"ini mas lagi di jalan. tunggu sebentar ya, sebentat lagi nyampe rumah". ucap Bima lalu menutup sambungan teleponnya


merasa panik Bima segera melajukan mobilnya dengan kencang. tak lama akhirnya Bima sudah sampai di rumah, Bima dengan cepat melangkah kekamar Risana yang berada di lantai dua.


"mas, lihat wajah sama badan aku, merah merah semua mas". rengek 'Risana melihat Bima di ambang pintu


"kenapa sayang, tadi kamu habis makan apa?". tanya bima menuju arah Risana


"nggak tahu mas, tiba tiba gini". ucapnya memperlihatkan tangannya kepada Bima


Bima bingung kenapa dengan istrinya, ia melihat sekeliling, Bima melihat ada gelas kosong di atas meja Risana. Bima curiga jika Risana sudah minum susu, karena Risana alergi susu sapi


"sayang, ini gelas apa?". tanya Bima mengambil gelas itu


"itu gelas susu, tadi mbak Nafisa yang kasih. dia kesini bawain aku susu". ucap Risana masih mengusap tangam dan wajahnya


"Nafisa ngasih kamu susu?". tanya Bima tak percaya


"iya mas". ucap Risana meyakinkan


"lantas kamu meminumnya?". tanya lgi Bima memastikan


"iya mas, kenapa memangnya?". tanya.Risana masih belum tahu


"sayang, kamu kan alergi susu sapi, masa kamu nggak inget?". tanya Bima menatap Risana dengan ekspresi tak percaya


"iya mas, aku lupa, aaaa panas mas, sakit". teriak Risana semakin kesakitan


"ini gara gara mbak Nafisa mas ngasih aku susu". teriak Risana menyalahkan Nafisa


"sayang Nafisa nggak tahu kalo kamu alergi susu sapi, jangan nyalahin Nafisa ya. besok kita kedokter, kita berobatin alergi kamu ini". ucap Bima mendekap tubuh Risana


"tetep aja mas yang salah mbak Nafisa". rengek Risana di pelukan Bima


"tenang ya, besok kita kedokter". ucap Bima memeluk Risana


"udah ya, kasian dedeknya". imbuhnya masih memeluk Risana


setelah Risana sedikit tenang Bima mencoba berbicara dengan Nafisa, ia ingin memberi tahu jika Risana alergi susu sapi. setelah Risana terlelap Bima turun menuju kamar Nafisa


keadaan hati Bima bingung karena sikap manja Risana, harus membuatnya menuruti semua keinginan Risana, kali inj Risana ingin Bima memberitahu Nafisa jika dirinya alergi susu sapi

__ADS_1


__ADS_2