
"boleh Sa, apa aja permintaan kamu, akan aku kabulkan selama aku bisa". ucap dokter Noval berhenti melangkah lalu berlutut di depan Nafisa
"aku sangat merindukan mas Bima, aku ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali. hanya dua hari Val". ucap Nafisa menatap dokter Noval dengan serius
hati dokter Noval begitu sakit mendengar ucapan Nafisa, karena Nafisa masih memikirkan Bima, padahal Bima sudah membuat nya menderita.
niat awal ingin mengungkapkan perasaan, ia urungkan karena Nafisa masih mengharapkan Bima. tapi dokter Noval mencoba memaklumi karena memang cintanya begitu besar untuk Nafisa
"lalu aku harus bagaimana Sa". tanya dokter Noval menatap Nafisa
"aku minta sama kamu, tolong temui mas Bima. minta dia datang kerumah Ayah. aku ingin menghabiskan waktu ku bersamanya selama dua hari. tolong Val hanya kamu yang bisa bantu aku". ucapnya memelas
dokter Noval berfikir lama, ia tak tau harus mengiyakan permintaan Nafisa atau malah menolaknya. tapi ia terlanjur berjanji akan menuruti semua permintaan Nafisa selama ia bisa.
"besok aku coba temui Bima ya, semoga Bima mau menemui kamu". ucap dokter Noval mencoba menutupi rasa kecewa di hatinya
entah mengapa Nafisa merasa ini pertemuan terakhirnya dengan Bima, setelah ini ia tidak akan pernah menemui Bima lagi. ya mungkin karena sebentar lagi mereka akan resmi bercerai dan dirinya akan berobat ke luar negeri.
di sisi lain Bima juga merindukan Nafisa, ia sengaja masuk kedalam kamar Nafisa, mencoba mengingat masa lalu dirinya dengan Nafisa.
nampak Bima duduk di tepi ranjang memandang foto pernikahan dirinya dengan Nafisa. ia tersenyum kecut, hatinya sakit karena harus berpisah dengan wanita yang selama ini berjuang untuknya.
ia berjalan ke sekeliling kamar, ia menatap jendela ia ingat senyum manis Nafisa.
"Umi aku sangat rindu kamu, aku ingin bertemu ingin memeluk mu". ucap Bima dengan mata berkaca kaca
batin Bima menangis meronta, kenapa dirinya harus berpisah dengan Nafisa padahal selama ini dirinya merasa baik baik saja dengan rumah tangganya.
dari arah luar Bima mendengar suara Risana memanggilnya, segera Bima keluar dari kamar Nafisa mencari keberadaan Risana.
"ada apa sayang?". tanya Bima berjalan kearah Risana
"mas kita belanja keperluan dedek yuk, kan udah tujuh bulan. kata orang tua nggak apa apa kalo udah tujuh bulan. ya mas". ucap Risana manja sambil memeluk lengan Bima
__ADS_1
"iya, tapi kamu siap siap dulu ya, masak mau jalan pake daster gini". ucap Bima mencubit kecil hidunh Risana
"iya mas, anterin kekamar, kaki ku sakit naik turun tangga mas". ucap Risana masih dengan nada manja
"mau di gendong?". tanya Bima menggoda
".eeemmm enggak usah, kasian kamu mas. sekarang aku tambah berat, apalagi perut aku udah besar gini". ucap Risana berjalan menuju anak tangga
"gandeng aja". imbuhnya lagi
setelah bersiap Bima dan Risana segera menuju mall D, ia ingin membeli perlengkapan untuk calon buah hatinya.
lama perjalanan hingga akhirnya mereka sampai di mall tersebut. Risana segera turun dari mobil di barengi Bima yang juga sudah turun. lalu bergandengan tangan menuju gedung mall, kearah perlengkapan bayi
"mas yang ini bagus ya, anak kita kemungkinan kan perempuan, jadi warna pink cocok deh". ucap Risana memilih selimut
"iya sayang, bagus". ucap Bima
"habis ini kita milih box bayi ya mas, pilih yang warna pink juga". ucap Risana sesekali mengelus perutnya
"asal jangan terlalu capek ya". imbuhnya lagi
lantas mereka melanjutkan memilih perlengkapan bayi. lama memilih akhirnya mereka selesai membeli perlengkapan bayi. Risana nampak bahagia, karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu terlebih sekarang dia sudah menjadi istri Bima satu satunya
"kita makan siang dulu ya, kasian anak Abah nanti kalo laper". ucap Bima tersenyum mengelus perut istrinya
"iya mas". ucap Risana tersenyum
mereka kemudian makan di restoran tak jauh dari mall tersebut. setelah selesai Bima dan Risana segera kembali kerumah. saat sampai di depan rumah ia melihat ada dokter Noval yang sudan menunggu.
hati Bima kaget karena da dokter Noval, apalagi Risana tak kalah kaget. namun mereka mencoba bersikap biasa saja.
"ada apa Val kamu kesini". tanya Bima berjalan kearah Bima
__ADS_1
"bisa kita ngobrol sebentar Bim?". tanya balik dokter Noval
"silahkan masuk". titah Bima melangkah masuk kedalam rumah
"Sayang, suruh Bik Sumi sama mbak Anik bawa masuk belanjaan tadi ya. mas mau ngobrol sebentar sama Noval". titah Bima kepada Risana
perasaan Risana sedikit takut, ia takut jika dokter Noval akan membahas masalah dokter Yuda. namun Risana mencoba tenang, lalu berjalan ke arah dapur untuk mencari keberadaan mbak Anik dan bik Sumi.
"baik mas". ucap Risana berlalu ke arah dapur
"silahkan duduk". titah Bima
"ada keperluan apa kamu kesini Val?". tanya lagi Bima merasa penasaran
"ini mengenai Nafisa". ucap dokter Noval lalu diam sejenak
"dia ingin kamu menemaninya selama dua hari. dia bilang ingin mengucapkan perpisahan, karena sebentar lagi dia akan berobat ke Tiongkok". ucap dokter Noval menatap Bima serius
Bima tau Nafisa akan merindukannya, karena sudah beberapa bulan lamanya mereka tidak bertemu, hingga sidang perceraian pun Ayah melarang mereka bertemu.
"akan ku usahakan, karena aku harus menjaga Risana yang sedang hamil besar. jadi, aku tidak bisa berjanji". ucap Bima sedikit ragu
Bima ragu karena Ayah tidak mungkin mengijinkan mereka bertemu, apalagi ini selama dua hari. padahal di dalam hatinya ia sangat merindukan Nafisa, ingin sekali melihat wajahnya, dan memeluknya.
"aku mohon Bim, kasian Nafisa. aku sudah berjanji akan membawakan kamu untuk dirinya. aku tidak mau dia kecewa". ucap dokter Noval sedikit memelas
"terlihat sekali kamu sangat mencintai Nafisa Val, hingga kamu mau menurunkan harga dirimu di depan ku. aku bahagia akhirnya ada yang menjaga Nafisa, jadi aku tidak khawatir lagi". gumam dalam hati Bima melihat wajah dokter Noval
"baik Val, besok aku akan kesana". ucap Bima
"kamu langsung saja kerumah, karena hari ini Nafisa sudah pulang". ucap dokter Noval
"baik, kalau begitu aku akan ambil cuti. karena kalau pulang dari mengajar waktunya akan habis". ucap Bima memikirkan Nafisa
__ADS_1
kebetulan besok hari minggu, jadi Bima hanya perlu cuti satu hari. merasa sudah mendapatkan persetujuan Bima, dokter Noval segera pamit dari hadapan Bima. ia cukup lega, akhirnya dia bisa membawakan Bima untuk Nafisa meskipun hatinya sakit.
"aku pendam dulu Sa perasaan ku, besok setelah kamu bertemu dengam Bima, aku akan langsung mengungkapkan isi hati ku". ucap nya saat perjalanan pulang kerumah