Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
tujuh bulanan (85)


__ADS_3

"undang keluarga terdekat saja Ris". ucap Bima memejamkan matanya


melihat Bima tak acuh membuat hati Risana sakit, ia kira setelah kepergian Nafisa, Bima akan lebih mencintainya dan bisa memiliki hati Bima sepenuhnya.


"mas, apa kamu tidak bahagia?". ucap Risana menatap Bima


"aku bahagia Ris, aku hanya capek". ucap Bima masih memejamkan mata


"kenapa sikap kamu gini mas, kadang tidak peduli dengan ku, aku butuh kamu mas". ucap nya dengan rengekan


mendengar Risana merengek Bima membuka matanya, menatap Risana dengan mata lelah. ia berfikir kini ia telah kehilangan Nafisa, jangan sampai kehilangan Risana juga, apalagi sekarang Risana tengah mengandung anaknya


"maaf kan aku Ris". ucap Bima bangun dari tidurnya


"nanti kita urus sama sama ya, yang sederhana saja yang penting keluarga ngumpul". ucap bima memeluk Risana


"maafkan aku Ris, aku masih memikirkan Nafisa, aku masih mencintai nya". gumam dalam hati Bima


sejak saat itu Bima mulai belajar menerima Risana kembali, menyayangi nya dengan sepenuh hatinya. Bima juga mulai memperhatikan hal kecil yang Risana suka.


acara tujuh bulanan Risana berlangsung sederhana namun sangat meriah, setiap momen ia abadikan dengan kamera dan di jadikan video


keluarga besar dari Risana dan dari kelurga Bima semua nya berkumpul, semua bahagia karena sebentar lagi anggota keluarga baru akan segera hadir, apalagi ini cucu pertama untuk Abah Yasir dan Mamah Rossa.


di sesi acara tersebut nampak Risana tengah di mandikan dengan air kembang, terlihat Abah Yasir mendapat giliran pertama menyiramkan air ke badan Risana, semua bersorak bergembira, seolah lupa ada Nafisa yang sedang berjuang melawan sakit, dan pernah ada di tengah keluarga mereka juga


sesi berikutnya acara foto foto, nampak Bima memeluk Risana dengan mesra, mencium kening Risana lalu mencium perut Risana yang sudah membesar.


selesai berfoto Risana berjalan menuju sudut taman untuk menemui saudara saudaranya. nampak Risana tengah asyik mengobrol dengan saudara saudaranya, senyum di bibirnya selalu merekah menandakan dirinya sedang bahagia

__ADS_1


dari jauh Bima memperhatikan Risana, melihat senyum Risana yang manis, Bima ingin menata hati nya, memulai hidup baru bersama Risana dan buah hatinya nanti


"aku akan melupakan mu Sa, meskipun dengan perlahan, pasti nanti aku akan terbiasa hidup tanpa kamu". gumam dalam hati Bima melihat kearah Risana yang sedang berbincang dengan saudaranya


dari arah pintu Bima melihat ada Yola dan Zian datang, segera Bima berjalan ke arah keduanya, untuk menyambut Yola dan Zian.


"pak Bima, selamat ya Pak". ucap Yola berjabat tangan dengan Bima


"selamat Pak". ucap Zian juga berjabat tangan dengan Bima


"terimakasih ya. silahkan Yola, Zian dinikmati hidangannya". ucap Bima tersenyum


Zian menatap Bima lama, ada rasa sungkan di hatinya karena pernah suka dengan Risana, meskipun sekarang ia dan Risana berteman dan masih ada rasa cinta di hatinya


"Risana di mana pak?". tanya Yola celingukan


"itu di sana". ucap Bima menunjuk arah dimana Risana berada


Yola dan Zian segera menghampiri Risana, Yola segera memeluk sahabatnya itu yang sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. sedangkan Zian ia hanya tersenyum, melihat pujaan hatinya kini tengah berbahagia.


"selamat ya Ris, semoga dedeknya sehat dan nanti persalinan selamat semua". ucap Zian tersenyum dengan Risana


"makasih Zian". balas Risana tersenyum juga


Bima sangat sibuk saat itu nampak ia berdiri menerima tamu yang baru datang, meskipun hanya keluarga dan teman dekat yang diundang tapi acara tujuh bulanan Risana sangat istimewa hingga membuat Bima terlihat sibuk


"hai Bim". ucap Rasyid berjalan kearah Bima


"hai syid, aku kira kamu tidak datang". ucap Bima berjabat tangan dengan Rasyid

__ADS_1


"pasti datang Bim, tapi maaf istri ku tidak bisa ikut karena sudah ada acara dengan teman temannya lebih dulu". ucap Rasyid berdiri di depan Bima


"iya nggak apa apa Syid. silahkan dinikmati hidangannya Syid". ucap Bima


Rasyid lalu mengambil segelas minuman, nampak ia berbincang dengan Bima. menanyakan kabar Nafisa, karena Rasyid tau bagaimana perjuangan Bima dan Nafisa saat masih kuliah.


"Nafisa gimana Bim?". tanya Rasyid sambil menikmati minumannya


"dua minggu laginsidang putusan pengadilan". ucap Bima lesu


"jadi kalian benar benar bercerai?". tanya Rasyid tak percaya


"ini sebenarnya salah paham Syid, entah kenapa tiba tiba Nafisa pergi dari rumah. dan Ayah ingin aku dan Nafisa bercerai. saat di pengadilan aku ingin bertanya dengannya, tapi di halang oleh Ayah, sampai sekarang aku masih bertanya tanya Syid, apa penyebab Nafisa pergi". ucap Bima


"kamu tidak membela Bim, jika ini hanya salah paham". tanya Rasyid


"aku membela pun percuma Syid, Ayah sudah sangat membenci ku". ucap Bima dengan wajah sedih


sedangkan Nafisa sedang duduk di kursi rodanya menatap arah jendela di kamar. Nafisa melihat satu persatu foto dan video acara tujuh bulanan Risana di sosial media.


matanya mengembun, air mata sudah penuh membasahi pelupuk matanya. ia tak tahan melihat Bima dan Risana bahagia, hatinya sakit mengapa Bima begitu cepat melupakannya.


"ini kan yang aku mau, dia tetap bahagia meskipun setelah kepergian ku". gumamnya lirih melihat video Bima dan Risana


"semoga kandungan mu sehat Ris, kamu juga sehat. aku titipkan mas Bima untuk mu ya, jaga baik baik cintanya. semoga kalian langgeng sampai menjadi kakek nenek". gumamnya lagi sambil menyeka air mata yang berjatuhan


Nafisa lalu mengambil selembar kertas, ia menulis semua perasaannya yang ia jadikan sebuah surat, dan selalu ia simpan rapi di laci meja.


"nanti bila kita sudah tidak bersama lagi, sudah tidak diijinkan saling menatap lagi, aku akan tetap bersyukur, karena pernah di beri kesempatan dicintaimu, pernah menjadi alasan mu tertawa, pernah menjadi pendengar cerita cerita mu. setidaknya aku sempat menjadi sesuatu di hidup mu. dan nanti aku akan kembali menemui mu sebagai seseorang yang lukanya telah sembuh, sebagai seseorang yang kepingan hatinya telah kembali utuh. akan ku ceritakan kepada mu betapa aku hatus tertatih, bangun dan berlari dari kejaran bayang bayang mu. tentang betapa hebat aku harus berdebat dengan hati ku untuk terus melangkah atau menyerah, betapa aku harus sanggup walau sebenarnya berat. nanti aku akan kembali menemui mu, sebagai seseorang yang cintanya masih, tapi rasa ingin memilikinya sudah tidak". tulis Nafisa dalam suratnya

__ADS_1


hatinya sakit melihat Bima dan Risana, namun mau apa lagi, ini sudah takdirnya berpisah dari Bima. dan memulai hidup baru lagi sambil terus menjalani pengobatan kankernya.


sebelumnya Nafisa akan berangkat ke Tiongkok bersama Ayah, namun karena keadaan Nafisa sangat lemah terpaksa Ayah mengundur semua jadwal pengobatan Nafisa.


__ADS_2