
"sekarang tujuan kamu kemana Sa?". tanya dokter Noval sesekali melihat ke arah Nafisa
"aku tidak tahu Val, aku tidak punya tujuan". ucap Nafisa masih menatap ke arah depan
"kita kerumah ku saja bagaimana?". ucap dokter Noval melihat Nafisa
mendengar dokter Noval mengajak kerumahnya, tatapan Nafisa berubah tajam melihat kearah dokter Noval dengan serius. dalam pikiran Nafisa menebak jika dokter Noval akan macam macam dengannya
"kenapa serius sekali?". ucap dokter Noval menyautkan kedua alisnya
"tenang Sa, di rumah ku ada anak ku, juga ada pengasuh dan asisten rumah tangga. jadi aku nggak bakal macem macem sama kamu". ucap dokter Noval tersenyum menggoda kepada Nafisa
mendengar penjelasan dokter Noval, Nafisa mulai bernafas lega. sesampainya di rumah dokter Noval, Nafisa mencoba turun dari mobil sendiri. dengan susah payah Nafisa mengangkat kakinya turun dari mobil dokter Noval.
di samping pintu sudah ada dokter Noval menunggu Nafisa turun dari mobil, ia tak tega melihat Nafisa susah payah menggerakkan kakinya yang sedikit agak bengkak. dokter Noval berinisiatif membantu Nafisa meskipun ia tahu Nafisa akan menolak
"aku bantu ya Sa". ucap dokter Noval mengulurkan tangannya
namun Nafisa hanya menggeleng, menolak bantuan dokter Noval, ia masih saja mencoba turun dari mobil dengan sendirinya. setelah bersusah payah akhirnya kaki kanannya kini berhasil ia gerakkan, namun ia malah terjatuh di pelukan dokter Noval.
"kan jatuh, aku bantuin nggak mau. sekarang malah meluk meluk gini". goda dokter Noval tertawa kecil
namun Nafisa hanya diam, ia merasakan kakinya yang sakit dan sulit di gerakkan. perasaan Nafisa mulai takut jika dirinya tidak bisa berjalan. apalagi sekarang dirinya sedang jauh dari Bima.
"aku bantuin ya, kaki kamu pasti sulit di gerakkan, karena udah agak bengkak gini". ucap dokter Noval menatap Nafisa berharap mau menerima tawarannya
"anggap aja aku sebagai dokter kamu, kita memang bukan muhrim, tapi disini hanya ada aku. kalo nggak aku bantu, kamu nggak bisa berjalan". ucap dokter Noval membujuk
__ADS_1
"Noval benar juga, dengan keadaan kaki ku seperti ini memang membuat ku sulit berjalan". gumam dalam hati Nafisa memikirkan ucapan dokter Noval
Nafisa mengiyakan bantuan dari dokter Noval, ia tak ada pilihan lain selain memerima bantuannya. karena kaki kanan Nafisa sudah bengkak di akibatkan ginjalnya mengalami gangguan pembuangan melalui urin. alhasil ia sulit buang air kecil dan membuat kakinya bengkak
dengan tertatih ia berjalan di bantu dokter Noval, di hati dokter Noval perasaannya kian gembira, jantungnya berdegup sangat kencang. sesekali ia menatap Nafisa, ia berterimakasih karena kini Nafisa memilih jalan yang benar, yaitu meninggalkan Bima
siangnya Bik sumi sudah siap dengan nampan di tangannya, ia berjalan menuju kamar Nafisa untuk mengantarkan makan siang. sesampainya di depan pintu Bik Sumi mengetuk dengan pelan, namun, tak ada jawaban dari Nafisa. kemudian Bik Sumi mencoba mengetuk lagi dengan keras, namun sama tak ada jawaban dari Nafisa
Bik Sumi mengira Nafisa sedang tidur, karena tak ada jawaban sama sekali. segera Bik Sumi membuka pintu kamar Nafisa meskipun tak ada perintah dari majikannya.
dengan cepat Bik Sumi masuk ke dalam, ia melihat kearah ranjang tidur namun tak di dapati Nafisa. Bik Sumi mencoba tenang, ia melihat sekeliling kamar namun juga tak ada Nafisa. Bik Sumi mencoba mencari di kamar mandi, juga sama tidak ada.
perasaan Bik Sumi mulai panik padahal biasanya Nafisa selalu ada di kamarnya. tak ingin gegabah, Bik Sumi mencari sekeliling rumah di bantu Mbak Anik, mereka sangat panik tatkala tak di dapati Nafisa di penjuru rumah.
merasa khawatir Bik Sumi segera menghubungi Bima, ia takut jika terjadi apa apa dengan Nafisa, karena tak biasanya Nafisa keluar sendirian
"kog bisa Bik?. coba di taman belakang". titah Bima mencoba tenang
"tidak ada Tuan, seluruh penjuru rumah sudah saya cari bersama Anik, namun tidak ada". ucap Bik Sumi menjelaskan dengan cemas
"di kamar Risana mungkin Bik". ucap Bima menebak
"kalau di lantai dua sudah saya cari, tapi, kalau di kamar nyonya Risa belum Tuan, saya takut mengganggu". ucap Bik Sumi yang hampir menangis merasa khawatir dengan Nafisa
"sebentar lagi saya pulang Bik, biar nanti saya coba cari saat pulang dari sekolah". ucap Bima mulai cemas
"iya Tuan". ucap Bik Sumi memutus sambungan telepon
__ADS_1
perasaan Bik sumi kian khawatir, ia juga merasa kasian jika Nafisa benar benar pergi dari rumah. di meja makan Bik Sumi duduk termenung memikirkan Nafisa.
Bik Sumi merasa hidup Nafisa kian menderita sejak datangnya Risana, meskipun hanya asisten rumah tangga dari Nafisa, namun Bik Sumi sudah menganggap Nafisa seperti adiknya sendiri.
"kasian sekali kamu Nyonya, sudah sakit di tambah Tuan punya istri lagi. apalagi istrinya yang kedua serakah". gumam lirih Bik sumi duduk termenung di ruang makan
"semoga nyonya bisa sembuh, bisa bersama Tuan lagi. bibik sudah nyaman dengan keluarga kalian, jangan sampai terpecah belah, karena Bibik juga akan merasa sedih". gumam lirih Bik Sumi meratapi nasib Nafisa
di sekolahan, Bima kian khawatir, ia ingin cepat cepat pulang suapaya bisa mencari Nafisa. Bima mencoba menghubungi Nafisa namun tak ada jawaban, berkali kali ia panggil namun tetap tidak ada jawaban.
"Umi dimana?. kenapa tiba tiba pergi dari rumah". gumam Bima sambil memdekatkan handphonenya ketelinga
"jangan buat Abi khawatir Mi, keadaan Umi sedang tidak sehat". gumamnya lagi mencoba menghubungi Nafisa kembali
selama perjalanan pulang, Bima tak hentinya menengok kanan kiri mencari keberadaan Nafisa. tak habis akal Bima mencoba mencari tahu dari karyawan Nafisa di toko kue. dan, jawabannya sama, tidak.ada yang tahu dimana Nafisa berada.
lalu Bima mencoba menghubungi Novita sahabat Nafisa, jawaban yang sama di dapat Bima yakni tidak tahu Nafisa berada. Bima sudah habis akal, satunya satunya yang belum Bima tanya adalah orang tua dari Nafisa
namun Bima tak berani menanyakan nya, pasti Ayah Aris akan marah jika tahu Nafisa menghilang. pasti Ayah Aris mengira jika dirinya tidak bisa menjaga Nafisa. pikiran Bima mulai kacau, ia pulang dengan hati yang hancur karena tak menemukan Nafisa
langkahnya kini kian lambat, ia duduk terjatuh di lantai karena memikirkan Nafisa. air matanya mulai jatuh membasahi pipi, ia takut jika Nafisa kesakitan. Bima tahu betul bagaimana kesehatan Nafisa saat ini.
"Umi pulang lah, maaf jika Abi punya salah". gumamnya lirih menatap langit yang hitam
ia tak tahu harus ke siapa lagi menanyakan keberadaan Nafisa. jalan satu satunya hanya ada di orang tua Nafisa. namun Bima masih berfikir jika nanti Ayah Aris marah dan tidak terima dengan hilangnya Nafisa.
hati Bima benar benar di buat Nafisa kelimpungan, ia sangat merasakan kehilangan Nafisa, ia tahu kini Nafisa sangat berarti untuk dirinya dan tak mampu hidup tanpa Nafisa
__ADS_1