
Bima segera bangun dari tidurnya beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Bima selalu menyempatkan shalat tahajud jika terbangun di sepertiga malam.
"umi ayo bangun sholat malam". pinta Bima menggoyangkan tubuh Nafisa
"iya Abi, udah jam berapa?". tanya Nafisa dengan mata yang masih mengantuk.
"udah jam 3 umi. kita tahajud sama-sama ya". pinta Bima.
Nafisa segera bangun dan mengambil air wudhu.
******
pagi telah tiba Bima segera bersiap berangkat mengajar. Nafisa juga sudah bersiap hendak ke toko kuenya. mereka sama-sama sibuk menyiapkan diri. setelah siap keduanya lalu pergi menuju meja makan. di meja makan Bik Sumi sudah menyiapkan sarapan.
"ini buat Abi". ucap Nafisa sedang mengambilkan sarapan untuk Bima.
"umi, Abi mau ngomong soal kemarin". kata Bima dengan memandang istrinya.
Nafisa segera menghentikan sarapan nya meletakkan sendok di atas piring lalu mengambil air minum.
"iya,, Abi gimana?
umi Nggak maksa Abi buat mau menikah dengan Risana. apapun keputusan Abi umi terima". kata Nafisa dengan menggenggam tangan suaminya.
"maafkan Abi mi, Abi ingin buat umi bahagia. jika dengan menikahi Risana bisa buat umi senang. Abi akan lakukan itu". timpal Bima dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"apa jawaban Abi ini serius". tanya Nafisa ingin menyakinkan.
"iya Abi mau". ucap Bima dengan mengusap pipi lembut Nafisa.
Nafisa mulai bingung dengan perasaannya entah dia harus bahagia atau harus terluka dengan jawaban Bima.
"umi akan membicarakan semua sama Risana, dan umi akan mempersiapkan hari lamaran untuk nya juga". ucap Nafisa dengan mata yang berkaca-kaca seolah batinnya menolak untuk menerima jawaban Bima. tapi harus tetap maju demi kebahagiaan suaminya.
mereka lalu melanjutkan sarapan dan bergegas berangkat ke kantor masing-masing.
hari ini sungguh hari yang berat untuk Bima hatinya diserang rasa dilema, di dalam kelas ia hanya melamun tak fokus mengajar murid-muridnya.
"semoga keputusan ku kali ini tepat dan tidak menyakiti hati Nafisa". gumam Bima yang duduk termenung di depan kelas.
sedangkan Nafisa sibuk dengan urusan di toko kuenya karena hari ini mendapat banyak pesanan.
Nafisa: assalamualaikum Ris
Risana: waalaikumsalam mbak. ada apa mbak?.
Nafisa: hari ini bisa datang ke toko kue ku Ris?
Risana: aku bisanya siang mbak jam 1 an.
Nafisa: iya. aku tunggu ya.
__ADS_1
Nafisa tidak menjelaskan tentang perihal apa meminta Risana untuk datang ke toko kuenya. Risana juga tidak bertanya kenapa dirinya di minta datang ke toko kue Nafisa. Risana hanya menerka-nerka di dalam fikiranya seakan tau apa yang akan di bahas Nafisa.
"mungkin ini masalah pak Bima, haduh aku harus gimana ini. apa pak Bima mau menikah sama aku?". Risana bermonolog dengan dirinya sendiri dan menjerit kegirangan.
setelah menghubungi Risana, Nafisa segera melanjutkan kesibukannya lagi. meskipun Nafisa adalah pemilik toko kue tapi dia tidak pernah malu membantu karyawannya mengemas kue-kue pesanan pelanggan.
Nafisa memang tidak pernah membedakan antara dirinya dan karyawan. baginya karyawan adalah keluarga sendiri.
saat asyik mengobrol dengan karyawan tiba-tiba ada yang memesan kue kepada Nafisa.
"mbak aku mau yang ini". kaylta seorang pria sambil menunjuk kue yang di inginkan
"oh yang ini kak, berapa biji?. tanya Nafisa.
"3 aja, eh nggak jadi ganti yang ini aja". tunjuk lagi beda kue.
Nafisa menghela nafas dengan sabar mengganti kue yang di tunjuk pelanggannya. baginya ini adalah hal yang biasa sebagai seorang penjual. karena pembeli adalah raja.
laki-laki itu terus saja mengerjai Nafisa mengganti kue yang sudah di ambilkan tapi tidak jadi. pegawai Nafisa yang melihat kejadian itu merasa tidak enak dan ingin mengambil alih yang melayani pembeli.
"biar saya saja buk". kata seorang pegawai.
"tidak usah Ra biar saya saja". ucap Nafisa
"tapi kasian ibuk di kerjain cowok itu ibuk kan pemilik toko ini". ucap Safira pegawai toko.
__ADS_1
"iya nggak apa-apa kamu lanjutin aja kerjaan kamu". pinta Nafisa
laki-laki itu memang pesan banyak kue tapi hampir satu jam memilih-milih kue. sedangkan toko sedang ramai.