
Nafisa terus saja memandangi Bima dan istri barunya dengan isak tangis yang menderu mungkin orang lain akan memahami betapa beratnya harus membagi cinta.
Nafisa terus saja duduk bersandar di tembok yang kokoh berharap hatinya juga akan kuat menerima kenyataan ini.
sesekali mata para undangan memandang nya dengan lekat seolah memastikan jika dirinya lah istri tua dari Bima. Nafisa sedikit mendengar "iya benar itu yang duduk sendiri di pojok", hatinya malu tapi ia hanya diam menata hati dengan omongan omongan orang yang mungkin sedikit tak mengenakan hati.
"itu lho istri tuanya kok kayaknya pasrah gitu ya, kasihan". ucap ibu satu.
"iya, ya emang cantik kan istri muda lah kaya lagi". ucap ibu ke dua
"eh tapi kok jeng Rossa boleh ya anaknya jadi istri ke dua?". tanya ibu ke tiga.
"katanya sih yang minta istri tua sendiri yang melamar Risana buat jadi madunya". jawab ibu ke satu dengan bibir yang di manyun kan.
"ya ampun ada ya wanita seperti itu, padahal suaminya udah ganteng banget lho kalo aku ni jadi istri yang tua nggak bakalan mau berbagi suami". ucap ibu ke tiga.
__ADS_1
"sungguh luar biasa wanita yang seperti itu". ucap ibu kedua.
Nafisa dengan jelas mendengar obrolan ibu ibu tamu undangan itu yang memang sengaja mengobrol di dekat Nafisa meskipun agak sayup-sayup karena terhalang suara musik yang keras.
Nafisa merasa ia ingin segera melompat ke danau yang airnya melimpah ingin berenang bebas ingin melepaskan semua beban pikirannya yang selama ini ia tanggung.
sesi ucapan selamat sudah selesai kini tinggal acara foto foto dengan kerabat dan sahabat, Nafisa yang sedari tadi melamun di kagetkan dengan panggilan namanya untuk menaiki pelaminan bersama Bima dan Risana. awalnya ia menolak untuk berfoto Nafisa beranggapan apa aku akan kuat bersanding dengan mereka berdua?. anggapan itu segera di tepis saat umi Fatma yang meminta Nafisa untuk ikut berfoto.
ia segera berjalan menuju pelaminan jantung nya berdegup kencang kakinya lemas tak ingin berjalan tapi Nafisa mencoba kuat memaksakan diri nya dan hatinya untuk kuat.
sesampainya di pelaminan tukang foto menyuruh Nafisa dan Risana saling merangkul Bima. Bima awalnya agak sungkan membalas rangkulan Risana hingga terlihat oleh tukang fotografer. "saling rangkul ya, mas Bima tolong rangkulan sama istri barunya yang mesra". ucap tukang foto yang membuat hati Bima agak sungkan dengan keadaan, mau nggak mau harus bersikap mesra dengan Risana.
semua mata yang melihat di buat kagum dengan keharmonisan mereka bertiga.
selesai berfoto Nafisa segera turun dari atas pelaminan tapi tangan Bima menahan tangan Nafisa "umi". ucap Bima dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
seketika Bima memeluk erat tubuh nafisa semua tercengang melihat Bima dan Nafisa " maafin Abi ya umi maaf untuk semuanya". ucap Bima penuh rasa bersalah.
" iya Abi". balas Nafisa melepaskan pelukan Bima.
Nafisa segera turun dari pelaminan dan berpamitan dengan keluarga Risana. "ayo sa kita pulang". ajak umi Fatma merangkul bahu Nafisa. Nafisa terus saja memeluk tangan umi Fatma dan berjalan keluar menuju parkiran.
di dalam mobil Nafisa hanya terdiam melihat ke arah jendela , umi Fatma yang melihat nya merasa kasihan dengan keadaan Nafisa.
segera umi Fatma memeluk Nafisa berharap bisa melupakan sedikit beban pikirannya.
"yang sabar ya nduk semoga kamu kuat menjalani semua". ucap umi Fatma menenangkan Nafisa.
"insya Allah umi aku ikhlas dengan semua, aku ridho dengan semua, aku akan menganggap Risana seperti adik ku sendiri mi". jelas Nafisa dengan menitikkan air mata.
"umi akan selalu mendoakan kamu sa". ucapnya lagi.
__ADS_1
Abah Yasir yang mendengar percakapan mereka hanya bisa tersenyum dan mendoakan untuk kebaikan Nafisa.