
"aku ingin tau, apa sebenarnya hubungan mu dengan Risana?". tanya dokter Yuda menatap Nafisa sembari berjalan
"kita kakak adik". ucap Nafisa menatap lurus kedepan
"tapi kata Risana dia anak tunggal". tanya Yuda seolah tidak tahu
Nafisa hanya diam, ia tak tau harus menjawab apa. tidak mungkin Nafisa bicara yang sebenarnya, itu sama halnya membuka aib keluarga nya sendiri.
"kenapa hanya diam?".tanya lagi dokter Yuda
namun Nafisa tetap hanya diam. ia takut jika salah bicara bisa menjadi fitnah keluarga nya.
"apa kamu bahagia hidup dengan rumah tangga mu sekarang?". tanya Yuda semakin mencecar membuat Nafisa merasa tidak nyaman
"kenapa kamu ingin tau sekali urusan rumah tangga ku?". tanya Nafisa sedikit emosi
"karena yang aku lihat, kamu dan Risana bukan kakak adik yang sebenarnya. seperti tadi suami kamu bersikap seperti itu sama Risana. terus, tadi Risana bilang dia mencari suaminya dan ternyata suaminya itu suami mu juga". ucap dokter Yuda menjelaskan
namun Nafisa hanya diam, ia bingung harus berbuat apa, karena semua yang di ucapkan dokter Yuda benar adanya, sesampainya di pendaftaran ia segera mengurusi data diri Risana dan juga mendaftarkan dirinya untuk kontrol dengan dokter Baskoro.
saat berjalan dengan Nafisa hampir seluruh petugas rumah sakit memberi salam kepada Yuda seperti bawahan memberi salam kepada atasannya. membuat Nafisa merasa aneh dan juga penasaran siapa sebenarnya dokter Yuda.
saat Nafisa mengisi data diri di pendaftaran, dokter Yuda membuka handphone nya menulis pesan untuk dokter Noval. ia memberi tahu dokter Noval jika ada Nafisa di pendaftaran.
"val ada Nafisa di pendaftaran. kamu cepat kesini". tulis dokter Yuda dalam aplikasi percakapan
"mbak saya permisi dulu, masih ada kerjaan". ucap dokter Yuda berpamitan dengan Nafisa
Nafisa hanya tersenyum dan mengangguk, setelah dokter Yuda pergi Nafisa mencoba menanyakan kepada suster siapa sebenarnya dokter Yuda.
"sus, maaf kalo boleh tau dokter Yuda disini sudah lama sus?". tanya Nafisa sedikit menyelembatkan
"sudah bu, hampir tiga tahun". jawab suster dengan tersenyum
"jabatannya disini apa sus?". tanya lagi Nafisa
"beliau pemilik rumah sakit ini Bu, beliau pewaris kedua setelah kakaknya. tapi kakak beliau meninggal jadi beliau pewaris tunggal rumah sakit ini". jelas suster menerangkan.
__ADS_1
"oo benar saja dari tadi petugas sini memberi salam seperti kepada atasannya. ternyata dia memang pemilik rumah sakit ini". ucap Nafisa dalam hatinya lalu melanjutkan menulis data diri
"ini sudah sus". ucap Nafisa memberikan beberapa lembar kertas kepada suster didepannya
"silahkan ditunggu ya bu". ucap suster mempersilahkan
dokter Noval yang sedang istirahat langsung membuka pesan dari dokter Yuda dan bergegas menuju pendaftaran karena ada Nafisa di pendaftaran.
dokter Noval sudah sangat rindu dengan Nafisa, ia selalu menunggu Nafisa dirumah sakit tapi tak kunjung datang lagi. dan sekarang ada Nafisa di pendaftaran kesempatan ini tentunya tidak ia sia sia kan
sesampainya di pendaftaran dokter Noval mencoba mencari Nafisa, nampak Nafisa sedang duduk di ruang tunggu, segera dokter Noval menghampiri Nafisa.
"sendirian Sa?". tanya dokter Noval berdiri di depan Nafisa
"iya". ucap Nafisa datar
"mau bertemu dokter Baskoro?". tanya lagi dokter Noval
"iya". ucap Nafisa masih dengan nada datar
"mau saya antar?". ucap dokter Noval
"iya boleh". ucap Nafisa berdiri dari duduknya
sesampainya di depan ruangan dokter Baskoro dokter Noval dan Nafisa segera masuk. karena sebelumnya dokter Noval sudah meminta izin dengan dokter Baskoro untuk menyela antrean untuk temannya yang juga pasien dokter Baskoro
setelah di lakukan pemeriksaan, di wajah dokter Baskoro terlihat seperti tidak percaya, ada kecemasan yang terlihat diwajahnya
"Bu Nafisa apa yang anda keluhkan belakangan ini?". tanya dokter Baskoro dengan serius
"badan saya semakin lemas dok, beberapa minggu kemarin sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur". ucap Nafisa menjelaskan dengan lirih
"ini tidak mungkin". gumam lirih dokter Baskoro tapi masih bisa di dengar oleh Nafisa dan juga dokter Noval
"kenapa dok dengan teman saya, apa ada yang serius". tanya dokter Noval penasaran
"coba lihat dok hasil laboratorium Bu Nafisa". ucap dokter Baskoro memberikan hasil laboratorium kepada dokter Noval
__ADS_1
dokter Noval membaca dengan seriusnya, nampak ada kecemasan juga diwajahnya. ia menggeleng seperti tidak percaya dengan hasil laboratorium tersebut.
Nafisa yang melihat raut wajah dokter Noval serius menjadi penasaran juga apa sebenarnya yang terjadi. segera Nafisa mengajukan pertanyaan kepada dokter Noval yang masih membaca hasil laboratorium.
"kenapa dok? apa yang sebenarnya terjadi?".tanya Nafisa penasaran sesekali melihay kearah dokter Baskoro dan dokter Noval
"sa..". ucap lirih dokter Noval melihat kearah Nafisa
matanya nampak berkaca kaca, ingin sekali dokter Noval memeluk Nafisa namun dokter Noval mengurungkan niatnya. karena ia tahu Nafisa pasti akan menolaknya.
"kenapa dok? ada apa dengan hasilnya?". tanya Nagisa semakin penasaran dan takut
"seharus nya hasilnya menunjukan penurunan Sa setelah kamu kemoterapi, tapi ini malah menunjukan penyebaran kanker kamu semakin luas, dan sudah stdium tiga". ucap dokter Noval merasa tidak percaya
Mata Nafisa juga berkaca kaca mendengar pernyataan dari dokter Noval. badannya menjadi lemas serasa tak bertulang, hatinya sakit menerima kenyataan yang ada di hadapannya.
matanya mulai berderai air mata, ia berjalan keluar dari ruangan dokter Baskoro dengan langkah yang semakin lambat. di lorong rumah sakit Nafisa sudah tidak bisa menahan kesedihan nya
ia terjatuh duduk menangis di lantai, seakan badai yang menerjang harapannya untuk sembuh. dokter Noval yang melihat Nafisa tersungkur segera menghampiri dan memeluknya untuk bangun, ini pertama kalinya ia memeluk Nafisa dan juga pertama kalinya memeluk wanita setelah sekian tahun
"kamu yang sabar sa, aku akan berjuang untuk kamu. aku akan carikan dokter onkolog yang bagus di luar negeri. kita akan berobat bersama demi kesembuhan kamu, aku janji sa". ucap dokter Noval mencoba menguatkan Nafisa
dokter Novalnmenatap mata Nafisa yang sendu dan wajahnya yang semakin pucat. ia mencoba menguatkan Nafisa, mengangkatnya untuk berdiri.
"dokter Noval tolong antar saya kependaftaran, saya ingin mencari pasien atas nama pak Selamet korban kecelakaan tadi". pinta Nafisa kepada dokter Noval yang berdiri di depannya
dokter Noval segera menemani Nafisa ke pendaftaran, mencari pasien atas nama pak selamet. Nafisa berjalan dengan di dampingi dokter Noval di sampingnya
"selamat sore dokter Noval, ada yang bisa saya bantu". ucap suster di pendaftaran
"pasien atas nama pak Selamet korban kecelakaan tadi di rawat di ruangan mana sus?". tanya dokter Noval kepada pendaftaran
"sebentar ya dok saya cari dulu". ucap suster membuka daftar buku pasien
"di ruang dahlia nomor tiga dok". ucap suster
"terimakasih sus". ucap dokter Noval
__ADS_1
"ayo sa aku antar, pak Selamet ada di ruangan dahlia nomor tiga". ucap dokter Noval mempersilahkan Nafisa berjalan