Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
dear diary (41)


__ADS_3

sepulang kuliah Risana pergi kerumah Yola untuk menyelesaikan tugasnya. Risana merasa sangat kecewa dengan Bima, kenapa Bima bisa Setega itu dengannya padahal Bima tau Risana belum mengerjakan tugas karena mengurus dirinya yang sedang sakit.


hingga larut malam Risana belum pulang, membuat Bima khawatir dan menunggu kepulangan Risana di ruang tamu. ia duduk cukup lama merasa khawatir dengan Risana, hingga Nafisa datang menghampiri meminta Bima untuk segera istirahat karena sudah tengah malam.


"Abi belum tidur?". tanya Nafisa berdiri di depan Bima.


"nanti umi, Abi menunggu Nafisa pulang. Abi khawatir udah jam segini belum pulang juga". ucap Bima.


"udah di hubungi Risana nya?". tanya Nafisa duduk di sebelah Bima


"belum". ucap Bima menggeleng


dari luar terdengar suara mobil Risana dan sudah di matikan, Nafisa segera membukakan pintu setelah mengetahui kedatangan Risana dan segera menghampiri nya menanyakan kenapa pulang selarut ini.


"Ris, kenapa baru pulang?". tanya Nafisa yang baru turun dari mobil


"dari rumah Yola mbak". jawab Risana menutup pintu mobil.


"mas Bima sampe khawatir Ris, dia nungguin kamu takut kamu kenapa-kenapa". ujar Nafisa berjalan di sebelah Risana

__ADS_1


"mas Bima khawatir sama aku?, hidih aku pulang semalam ini juga karena dia kan". gumam di dalam hati risana dengan wajah melengos


"hehe tadi ngerjain tugas mbak besok harus di kumpulin jadi aku lembur deh aku kerjain di rumah Yola". jawab Risana memasuki ruang tamu yang sudah ada Bima sejak tadi dan masih dengan posisi duduknya.


"dari mana saja kamu, kamu tau ini jam berapa?". tanya Bima datar memandang wajah Risana yang kelelahan membuat hati Bima merasa iba.


"maaf pak tadi saya ngerjain tugas di rumah Yola karena besok harus di kumpulkan, jadi saya selesaikan secepatnya". jawab Risana dengan acuh ia masih sedikit kesal dengan perlakuan suaminya tadi di kampus.


"saya sudah pernah bilang sama kamu jika pulang telat kasih kabar. jangan seenaknya sendiri sekarang status kamu sudah menjadi istri. mau kemanapun harus ijin dulu sama suami kalo suami ngijinin kamu baru boleh pergi". ucap Bima memberi nasehat dan berlalu begitu saja meninggalkan Risana yang masih berdiri di ruang tamu lalu di ikuti Nafisa di belakangnya.


"Abi, jangan begitu keras dengan Risana. Risana jiwanya masih labil Abi". ucap Nafisa mengikuti langkah Bima.


"tidak umi, seharusnya dia sudah tau batasan-batasan menjadi seorang istri. Abi hanya minta hubungi dulu kalau mau pergi atau mau kemana. karena dia adalah tanggung jawab Abi sekarang. kalau sampai ada apa-apa sama dia yang bertanggung jawab itu Abi. nanti dikiranya Abi tidak becus ngurus dia". ujar Bima membuka pintu kamar dan berbaring di ranjang tidur.


"dia harus banyak belajar dari Umi, biar tau batasan-batasan sebagai seorang istri".ucap Bima memejamkan matanya


"Abi tidur dulu ya umi". ucapnya lagi lalu tertidur pulas karena sedari tadi memang sudah sangat mengantuk dan merasa lega jika Risana sudah pulang.


"iya Abi". ucap Nafisa menyusul suaminya untuk tidur.

__ADS_1


sedangkan di kamar, Risana semakin mengoceh kesal dengan perlakuan Bima. Risana segera membersihkan diri lalu duduk di tepi ranjang ia mencurahkan semua isi hatinya di buku diary betapa menyebalkan Bima akhir akhir ini tapi semakin di buat kesal membuat Risana semakin dalam mencintai Bima.


"dear diary,


aku tak mengerti apa itu cinta, kedatangan nya merubah seluruh hidup ku. entah mengapa aku semakin dalam mencintai nya setiap dirinya membuat ku kesal. memang aneh, tapi itu yang membuat ku tak ingin jauh darinya. aku sudah sangat bahagia bisa memilikinya meskipun belum seutuhnya, aku yang belum di sentuhannya merasa sudah cukup tau diri aku hanyalah bayangan yang tak pernah di anggap. sulit memang menerima kenyataan, tapi hatiku sudah terlalu dalam mencintai nya. dia, hanya dia yang aku inginkan, di setiap nafasku di setiap detak jantungku hanya ada dirinya. suamiku andai kamu tau isi hati ku, aku mencintaimu melebihi apapun dan siapapun. hanya kamu suamiku tak akan pernah ada yang lain". tulis Risana di buku diary nya.


Risana mengungkapkan semua yang dirasakannya hari ini ia benar-benar mencintai Bima dengan sikap anehnya. ia membaringkan tubuhnya di ranjang mengingat wajah Bima yang manis jika sedang marah, Risana yang kelelahan tertidur dengan buku diary yang masih terbuka di atas ranjang.


hari sudah pagi menjelang siang tapi Risana belum bangun juga membuat Nafisa sedikit khawatir. kemudian Nafisa memutuskan melihat ke kamar Risana. di gedor pintu kamar namun tak ada jawaban. Nafisa kemudian mencoba membuka pintunya ternyata tidak di kunci, ia melihat Risana yang masih tertidur pulas. Nafisa mendekat kearah Risana lalu membangunkan Risana dengan lembut.


"Ris ayo bangun udah siang". ucap Nafisa menepuk-nepuk bahu Risana


"jam berapa sih mbak ini?". tanya Risana mengerjap ngerjapkan matanya.


"udah jam 10". jawab Nafisa


"haduh aku kesiangan kan aku ada janji sama pak Anto". pekik Risana beranjak dari tempat tidur nya menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Nafisa


Nafisa yang melihat kelakuan Risana hanya tersenyum menggelengkan kepala. kemudian Nafisa membantu membersihkan ranjang Risana menata bantal dan juga selimut. saat menata selimut Nafisa melihat buku yang masih terbuka, ia segera mengambil buku itu berniat di taruh di atas meja.

__ADS_1


Nafisa melihat sekilas tulisan cinta lalu Nafisa penasaran untuk membacanya. matanya berkaca-kaca melihat diary Risana yang ternyata belum di sentuh Bima hingga saat ini. Nafisa meletakkan kembali buku itu di atas ranjang. ia pergi kekamar nya memikirkan tulisan Risana yang ternyata sangat mencintai Bima.


__ADS_2