Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
resmi bercerai (92)


__ADS_3

setelah satu minggu dirawat, dokter Noval yang di luar kota baru tahu jika Nafisa tengah kritis dan dirawat di rumah sakit. lalu dokter Noval menyempatkan menjenguk Nafisa di tengah kesibukan nya, di ruang NICU, nampak dokter Noval memakai pakaian medis lengkap.


perlahan dokter Noval memegang tangan Nafisa, dengan lirih mengucapkan penyesalannya karena belum mengungkapkan perasaan nya kepada Nafisa.


"aku harap kamu segera sadar sa, agar aku bisa mengungkapkan perasaan ku kepada mu, aku memang laki laki bodoh, karena menunda mengungkapkan nya". ucap dokter Noval dengan menitikan air mata


"Nafisa, aku cinta sama kamu. aku ingin kamu menjadi pendamping hidup ku. aku tau Sa, ini sudah telat, apalagi dengan keadaan kamu sekarang. tapi aku berharap kamu bisa mendengar ucapan ku ini Sa". ucap dokter Noval tak kuasa menahan tangis


ia tak tahan melihat Nafisa penuh dengan alat bantu di tubuhnya. dengan langkah gontai dokter Noval keluar dari ruang NICU, saat di ambang pintu perasaan dokter Noval sudah tidak enak, seakan tau akan terjadi sesuatu dengan Nafisa


kebetulan hari ini bertepatan dengan sidang akhir perceraian antara Bima dan Nafisa. nampak Bima hadir di persidangan dengan kuasa hukumnya, saat palu di ketok hakim di putuskan Nafisa dan Bima resmi bercerai, saat itu pula Nafisa menghembuskan nafas terakhirnya.


sedangkan dokter Noval baru berjalan keluar menutup pintu ruang NICU, tiba tiba semua tim medis berlari ke arah Nafisa. terdengar suara alat medis yang berbunyi panjang. tim medis nampak sibuk mengecek suhu badan, denyut nadi dan detak jantung Nafisa.


dokter Noval diam terpaku, melihat tim medis yang sibuk memeriksa badan Nafisa. ia seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya


nampak tim medis menggelengkan kepalanya, sebagai pertanda nyawa pasien tidak terselamatkan. hati dokter Noval seakan tak percaya jika Nafisa telah meninggal dunia.


"maaf pak, pasien telah meninggal dunia". ucap salah satu suster menatap dokter Noval dengan pandangan menyesal


dokter Noval seakan tak percaya, begitu cepat Nafisa pergi meninggalkannya. bahkan saat dirinya belum sempat menyatakan cinta.


"Nafisa". teriak dokter Noval memandang Nafisa

__ADS_1


dokter Noval mencoba menghampiri Nafisa, namun di halangi oleh tim medis yang berjaga. berkali kali dokter Noval memanggil nama Nafisa yang baru di copot alat bantu medisnya.


ia terus memanggil dengan tangis kencangnya, berharap Nafisa mendengar dan terbangun. namun kenyataan nya Nafisa sudah lebih dulu pulang dan tidak akan kembali.


segera dokter Noval berlari ke arah Ayah dan Bunda, ia mengatakan dengan terbata jika Nafisa sudah meninggal. Bunda yang mendengar tak kuasa menahan tangisnya, dan Ayah memang terlihat tegar, namun di dalam hatinya ia sangat menangis atas kehilangan Nafisa untuk selama lamanya


Ayah hanya melamun, mencoba menerima kenyataan jika putri satu satunya telah lebih dulu di panggil yang kuasa. di ruang tunggu Ayah duduk dengan wajah sedihnya, mendekap Bunda yang terus saja menangis histeris


Bunda teringat ucapan terakhir Nafisa, jika ia tidak akan menghubungi dan menemui Bima lagi, dan ini jawaban atas semua ucapan Nafisa. ia tidak akan menemui Bima lagi, karena ia yang akan pergi untuk selamanya


nampak dokter Noval beberapa kali memukul tangannya ke tembok, ia menyesal karena tidak bisa menjaga Nafisa dengan baik. seharusnya ia tak mengabulkan permintaan Nafisa untuk bertemu dengan Bima.


tentu, penyesalan selalu datang terlambat. berita kematian Nafiaa sudah menyebar ke kalangan teman temannya, hingga Bima juga tau jika mantan istri nya itu telah meninggal


Bunda yang mendengar percakapan antara Ayah dan dokter Noval, mencoba melarang akan pengusiran Bima, karena keadaan sekarang sedang berkabung.


Bunda meminta nanti jika pemakaman Nafisa sudah selesai boleh mengusir Bima. dengan bercucuran air mata dokter Noval menabur bunga di pusaran Nafisa. ia masih saja tak percaya jika Nafisa akan benar benar pergi meninggalkannya.


nampak ada sahabat Nafisa juga yang datang untuk berbela sungkawa, semua bersedih, begitu menyakitkan semasa hidup Nafisa. harus rela berbagi suami saat sedang sakit, dan sekarang harus menghadap sang kuasa lebih dulu.


setelah pemakaman Nafisa selesai, Bunda meminta Bima untuk mengikuti kekamar Nafisa. di kamar Nafisa, Bunda memberikan semua surat Nafisa untuk Bima.


"Bim, Bunda harap kamu bisa memaafkan semua kesalahan Nafisa selama menjadi isrri kamu. ini semua surat dari Nafisa yang di tulis untuk kamu". ucap Bunda sedih sambil memberikan setumpuk surat kepada Bima

__ADS_1


"aku yang hatusnya minta maaf Bun. aku yang selalu menyakiti Nafisa, hingga sakitnya semakin parah". ucap bima


"di sini juga di tulis, setengah aset milik Nafisa di berikan kepada calon anaknya Risana dengan kamu. dan setengahnya lagi di sumbangkan ke panti asuhan". ucap Bunda yang terus saja menangis


"Umi, begitu baik hati mu. hingga aku lupa jika ada hati yang aku sakiti". gumam Bima memegang map hijau


"jangan salahkan diri kamu, toh Nafisa sudah pergi. buat apa di sesali". ucap Bunda tanpa menatap Bima


"maafkan aku Bunda, telah menyianyiakan wanita yang hebat seperti Nafisa". ucap Bima lirih


"kamu baca semua surat dari Nafisa. nanti kamu akan tau kenapa dia pergi meninggalkan mu". ucap Bunda berlalu meninggalkan Bima sendiri.


Bima tahu jika Ayah sangat marah dengannya, terlihat tatapan Ayah saat di pemakaman, begitu ingin memakan Bima. melihat semuanya sibuk, Bima hanya berpamitan dengan Novita, dan meminta maaf karena harus pergi sekarang


tujuan Bima kali ini, ia ingin pergi kepantai menikmati angin sambil membaca surat dari Nafisa. Bima mencoba mengingat kembali kenangan bersama Nafisa saat baru menikah dulu


di dalam perjalannya, Bima memutar musik favorit Nafisa. berharap ia masih bisa merasakan kehadiran Nafisa di sampingnya.


berkali kali ia putar ulang, hingga sampai di pantai tujuannya. Bima segera menuju tempat favoritnya dengan Nafisa, di bawah pohon kelapa, sambil membaca surat dari nafisa.


surat pertama yang Bima baca berisi kekagumannya dengan Risana. kala itu ia melihat gadis baik yang mau menjadi istri kedua dari dosennya dengan sukarela.


sejak saat itu Nafisa mulai punya fikiran untuk menjodohkan Bima dengan Risana. di surat kedua, berisi tentang kesengajaan Nafisa menginap ke rumah Bunda agar Bima dan Risana mempunyai waktu berdua. karena Nafisa melihat di antara Bima dan Risana sudah tumbuh cinta, namun sungkan melakukan karena ada Nafisa di rumah.

__ADS_1


di surat ketiga Nafisa mengungkapkan betapa bahagianya saat tau Risana hamil, selama ini ia juga ingin merasakan hamil, mutah, ngidam, sama seperti yang di alami Risana


__ADS_2