
Monica terus saja mengumpat kesal, ia tak habis pikir akan mengalami hal seperti itu. padahal rencana awal tadi mau jalan-jalan bersama teman temannya
"sial, rencana mau ngilangin sedikit beban malah nambah beban". ucap Monica kesal lalu melajukan mobilnya
"cowok tadi ganteng juga, tapi kalo sama pak Bima, ya lebih ganteng pak Bima lah". ucap Monica tertawa cekikikan
karena sudah tidak mood untuk jalan jalan, Monica memutuskan untuk pulang mencari keberadaan dompetnya.
****
di rumah bundanya, Nafisa menghabiskan waktu untuk menyendiri membaca Alqur'an dan buku buku kajian Islam tentang poligami. ia ingin apa yang di lakukan nya menjadi berkah untuk keluarga nya dan kebahagiaan untuk Bima
tiga hari berlalu Nafisa hanya diam, menyendiri tanpa mengabari Bima, tanpa keluar dari kamar, sampai makan dan keperluan lainnya di antar bundanya ke kamar. bunda Isna yang melihat keadaan Nafisa mulai cemas dan khawatir.
lalu mengadukan kepada ayah Nafisa tentang keadaan Nafisa yang semakin memburuk.
"kasihan sekali kamu nak, harus menanggung beban pikiran yang sebesar ini. semoga kamu cepat pulih sayang, biar ceria seperti dulu". ucap lirih bunda Isna memperhatikan Nafisa dari pintu kamar.
dengan segera bunda Isna melangkah menuju ruang tengah, dimana ayah Nafisa sedang mengerjakan tugas kantor yang belum selesai. ayah Nafisa adalah seorang direktur di sebuah perusahaan properti, karena kesibukannya tak jarang membuat ayah Nafisa tidak ada waktu untuk keluarga. hari weekend pun kadang masih mengerjakan tugas dari kantor.
"yah, bunda mau ngobrol sebentar". pinta bunda Isna duduk di samping ayah Nafisa
"ada apa Bun, kerjaan ayah masih banyak". ucap ayah Aris yang masih menatap layar laptop
"ini soal Nafisa yah, dari kemarin dia tidak keluar kamar, tidak mau makan, bunda khawatir dengan kesehatan nya". ucap bunda Isna cemas
mendengar ucapan Bunda Isna membuat ayah Aris menghentikan aktivitas nya, nampak ayah Aris sedang memikirkan sesuatu, di dalam hatinya ada rasa kecewa dengan Bima, kenapa disaat Nafisa sakit seperti ini Bima malah menikah lagi meskipun itu atas permintaan Nafisa sendiri.
__ADS_1
"Ayah coba bicara dulu sama nafisa, semoga dia mau mengerti Bun". ucap ayah meletakkan laptop nya di atas meja
Ayah berjalan melangkah menuju kamar Nafisa, ada rasa sedih yang menyelimuti hatinya, kenapa putri satu-satunya yang teramat ia sayangi mengalami nasib yang seperti ini. dari kecil Nafisa sangat di sayang ayahnya karena anak perempuan satu-satunya di keluarga itu dan dua adiknya laki laki semua.
Ayah sudah sampai di depan pintu kamar Nafisa, ada sedikit keraguan saat akan masuk. ayah takut jika nanti Putrinya tidak bisa menerima nasehat nya. perlahan ayah membuka pintu kamar Nafisa, berjalan masuk mendekati Nafisa yang sudah terlelap.
dengan wajah sedih ayah memandangi wajah putrinya, nampak ada senyum getir terlintas di bibir ayah. pipi yang sudah mulai berkerut di basahi oleh butiran butiran air mata, hatinya tau betul apa yang di rasakan oleh putrinya.
"kasihan kamu nak, padahal ayah sangat berharap keluarga kamu akan menjadi keluarga yang bahagia, mempunyai anak-anak yang Sholeh dan Sholehah. mempunyai keturunan keturunan yang baik, karena kamu dan Bima orang yang baik. tapi, Allah berkehendak lain, menguji kesabaran dan kesetiaan mu kepada suami mu". batin dalam hati ayah mendongak an wajahnya ke atas agar air mata jatuh tak terlalu banyak.
ayah menarik nafas panjang, ikut merasakan apa yang di rasakan putri tercintanya. tak ingin mengganggu istirahat Nafisa, ayah memutuskan kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan kembali pekerjaan nya.
*****
di rumah Bima, ia nampak menikmati hari-hari bersama Risana, entah apa yang membuat Bima seakan lupa dengan Nafisa. padahal selama ini Bima selalu ingat Nafisa setiap saat selalu memberi kabar bagaimana pun keadaannya.
"Ris, maaf jika aku terlambat mengungkapkan rasa di hati ku, semenjak kehadiran kamu entah mengapa hati dan fikiran aku tidak pernah sinkron. aku selalu memikirkan kamu, tapi aku menjadi salah tingkah jika di dekat kamu. Ris kalo aku minta kamu buat nikah sama aku pasti udah terlambat. tapi aku mau minta sama kamu. mau kah kamu menjadi ibu dari anak-anakku?". ucap Bima memeluk erat Risana dia atas ranjang
Risana tersenyum bahagia, karena apa yang di inginkan selama ini akhirnya menjadi kenyataan. di dalam hatinya mengungkapkan ia bersedia menjadi ibu dari anak-anak Bima.
"iya mau mas, aku mau menjadi ibu dari anak-anak mu. aku juga mau hidup menua bersama kamu". ucap Risana bahagia
"nanti jalan-jalan mau, sekalian belanja bulanan". pinta Bima masih memeluk erat Risana
"iya mas, oh ya tadi pagi mas kemana aku cari-cari keliling rumah nggak ada. aku kira kamu juga ngikut ilang mas". tanya Risana
"tadi pagi aku jalan jalan keliling kompleks, aku masih kesel aja sama kamu karna menatap Zian seperti itu". ucap Bima mengingat dengan senyum tipis
__ADS_1
"maaf ya mas, aku nggak bermaksud buat kamu sakit hati. aku sama Zian hanya berteman, nggak lebih dari itu". ucap Risana menjelaskan
"iya sayang, yang terpenting jaga hati kamu buat suami mu". ucap Bima semakin memeluk Risana erat
keduanya saling bercumbu lagi hingga pertempuran pun tak terelakkan.
hari sudah sore Bima dan Risana bersiap jalan ke mall menikmati waktu berdua sambil berbelanja bulanan. sesampainya di mall keduanya langsung menuju area perlengkapan kebutuhan sehari-hari. Bima dan Risana berjalan beriringan Bima mendorong keranjang belanjaan sedangkan Risana mimilih barang yang akan di beli.
saat bersamaan dari kejauhan ada seorang pria yang memperhatikan langkah mereka. mengikuti kemana mereka pergi, hingga akhirnya mereka pulang.
didalam mobil pria itu bergumam memuji Risana dan mengungkapkan kerinduannya selam ini.
"jadi sekarang kamu tinggal disini Ris". gumam pria itu
"kamu tambah cantik Ris, aku kangen saat saat bersama kamu". gumamnya lagi masih mengawasi dari dalam mobilnya
melihat Risana sudah masuk kedalam rumah, pria itu bergegas meninggalkan rumah Risana.
sedangkan Risana dan Bima masuk kedalam rumah meletakkan barang belanjaan dan bersiap sholat isya.
Risana dan Bima sudah selesai sholat tiba-tiba Risana kepikiran Nafisa yang sudah tiga hari tidak ada kabar, lalu menanyakan nya kepada Bima.
"mas apa mbak Nafisa sudah ngasih kabar?". tanya Risana masih menggunakan mukena
"belum, rencana ini mau aku hubungi". ucap Bima melanjutkan dzikir nya.
lantas Risana segera mencari handphone nya berniat menghubungi Nafisa, namun di luar jangkauan. ada sedikit rasa khawatir dengan Nafisa karena sudah tiga hari ini tidak ada kabar.
__ADS_1