Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
aku baik baik saja (67)


__ADS_3

...Hai kakak readers tersayang 🤗...


...mohon bantuan vote nya ya, biar ranking novel ini naik. jika ranking novel ini naik pasti author semakin semangat menulis kelanjutannya....


...terimakasih 😘😘🙏...




"itu perasaan Abi saja, Umi sama dokter Noval hanya sebatas teman. kalo bukan karena dokter Noval, mungkin sekarang Umi masih duduk di ruang tunggu". ucap Nafisa menjelaskan



"kog bisa Mi?". tanya Bima menatap Nafisa dari samping



"tadi dokter Noval menyela antrian praktek dokter Baskoro karena kasihan melihat Umi menunggu lama". ucap Nafisa menjelaskan terus berjalan menatap kedepan



"dokter Noval orangnya baik Abi. sama siapa saja dia baik". imbuhnya lagi mencoba menjelaskan



"tapi dari tatapannya ke Umi terlihat beda, jauhi dokter noval, kalo bisa Umi pindah rumah sakit saja". ucap Bima menatap Nafisa



"tapi ini rumah sakit terbaik di kota ini Abi, Umi juga sudah cocok dengan dokter Baskoro. jika harus ganti dokter, nanti harus mulai menerangkan dari awal lagi". ucap Nafisa berhenti.



di rasakannya badannya lemas, pandangannya mulai kabur. di sandarkan tubuhnya di tembok, ia merasakan pusing di kepala nya. Bima yang melihat Nafisa bersandar di tembok mulai khawatir.



"Umi nggak apa apa?". tanya Bima khawatir memegang pundak Nafisa



"badan Umi lemas". ucap Nafisa masih bersender di tembok dengan mata terpejam



"Umi istirahat ya, Abi antar pulang dulu". ucap Bima panik



"nggak Abi, kita keruangan Risana dulu". ucap Nafisa masih dengan mata terpejam



"kita periksa lagi ya Umi. Abi takut Umi tambah sakit". ucap Bima memeluk Nafisa



"Abi pengen Umi sembuh, jangan buat Abi khawatir ya. Abi takut kehilangan Umi". ucap Bima menangis memeluk Nafisa



"Umi kuat Abi". ucap Nafisa lalu memaksakan kakinya untuk berjalan



Bima mencoba membantu Nafisa berjalan, memapahnya keruangan Risana. sesampainya di ruangan Risana, Bima segera menyuruh Nafisa duduk di sofa.



"kamu dari mana Bim? Risana kamu tinggal sendirian?". tanya mamah Rossa berdiri di samping Risana



"dari ruangan pak Selamet Mah sama Nafisa. tapi tiba tiba badan Nafisa lemas". jelas Bima mendekat kearah mertuanya



"bagaimana keadaan pak Selamet?". tanya Mamah Rossa



"kakinya patah mah, besok harus operasi". jelas Bima



"Sa apa tidak sebaiknya kamu pulang saja?. wajah kamu terlihat sangat pucat. biar di antar pulang sama Bima ya". ucap mamah Rossa merasa kasihan dengan keadaan Nafisa



"Bim antar pulang saja Nafisa, biar mamah yang jaga Risana. kasian dia terlihat sangat lemas". imbuh mamah Rossa menatap Bima


__ADS_1


"iya mah, aku titip Risana ya". ucap bima menatap mamah Rossa



"sayang, mas nganterin Nafisa dulu, nanti mas kesini lagi". ucap Bima lalu mencium kening Risana



"jangan lupa makan". imbuhnya lagi lalu mendekat kearah Nafisa



"ayo Umi kita pulang, umi harus istirahat dan minum obat". ucap Bima membantu Nafisa berdiri



"mah aku pamit ya. assalamualaikum". ucap Nafisa berjalan keluar di gandeng Bima



"iya, hati hati ya sa. waalaikumsalam". sahut mamah Rossa menatap Nafisa keluar hingga hilang di balik pintu



selama perjalanan Nafisa hanya diam menyenderkan badannya di kursi mobil. sesekali Bima menatap kearah istri tuanya memastikan jika Nafisa baik baik saja



"Umi nggak apa apa?". tanya Bima menatap Nafisa



"bagaimana tadi kata dokter Baskoro Mi?". tanya Bima mencoba mengajak ngobrol Nafisa



Nafisa lama menjawabnya, ia ingin menyembunyikan sakitnya yang kini sudah menyebar ke bagian lainnya. Nafisa tidak ingin menambah beban pikiran suaminya.



"Umi baik baik saja Abi, kata dokter keadaan Umi sudah membaik". ucap Nafisa lirih



Nafisa mengingat semua ucapan dokter Baskoro tadi sore, jika dirinya tidak boleh stres dan banyak pikiran. perasaan dan hatinya harus selalu baik dan bahagia. namun nyatanya Nafisa malah selalu merasa sendiri karena Bima yang kini perhatiannya harus terbagi



"aku nggak boleh egois, ini kan yang aku inginkan?. suamiku menikah lagi agar dia segera mempunyai keturunan. dan tidak merasa sedih jika kehilangan aku nanti". gumam dalam hati Nafisa




Nafisa berjalan pelan di bantu Bima untuk masuk kedalam rumah dan diikuti Bik sumi dari belakang yang ingin menanyakan keadaan pak Selamet dan Risana



"Tuan, bagaimana keadaan pak Selamet dan Nyonya Risana?". tanya Bik Sumi mengikuti langkah Bima dan Nafisa



"pak Selamet kakinya patah Bik, dan Risana hanya luka luka". ucap Bima berjalan menuju kamarnya



"oh iya bik, tolong siapkan makan malam untuk Nafisa ya, tolong bawakan ke kamar". ucap Bima



"iya Tuan". ucap bik sumi berlalu menuju kedapur



sedangkan Bima masih membantu Nafisa berjalan menuju kekamarnya. membaringkan tubuh Nafisa di ranjang dan mengganti pakaian Nafisa



mengelap tubuh Nafisa dengan handuk basah agar Nafisa merasa segar. dari arah pintu terdengar suara Bik Sumi yang memberitahu jima makanannya sudab siap



"permisi Tuan makanannya sudah siap". ucap Bik Sumi di depan pintu kamar



"bawa masuk Bik". ucap Bima sedikit keras kearah pintu



mendapat arahan dari Tuannya Bik Sumi segera membuka pintu dan membawa nampan berisi bubur dan teh hangat kedalam kamar Nafisa lalu meletakkan nya di atas meja kamar


__ADS_1


"ini Tuan, saya permisi dulu". ucap Bik Sumi berlalu keluar kamar majikannya



Bima segera mengambil teh hangat agar diminum Nafisa, Bima mencoba membantu Nafisa duduk bersender dinding ranjang. setelahnya mengambil semangkuk bubur dan menyuapi Nafisa.



"Umi makan ya, setelah itu minum vitamin. biar Abi suapin". ucap Bima menyuapi Nafisa sesendom demi sendok



"maafkan Umi Abi, karena Umi tidak memberi tahu Abi yang sebenarnya. Umi kasihan dengan Abi jika harus kesana kemari memperhatikan Umi dan juga Risana. karena tanggung jawab Abi sekarang banyak, nantinya malah Abi yang akan sakit". ucap dalam hati Nafisa menatap Bima yang sedang menyuapinya



"terimakasih Abi". ucap lirih Nafisa menatap Bkma dengan mata berkaca kaca



"iya Umi, terimakasih untuk apa?". tanya Bima heran



"terimakasih sudah menjadi suami yang baik untuk Umi, terimakasih sudah mau menuruti keinginan Umi". ucap Nafisa lirih diiringi tetesan air mata



"iya Umi, Umi jangan nangis, jangan sedih". ucap Bima mengusap pipi Nafisa



"jangan buat Abi sedih ya, Umi makan lagi bubur nya". ucap Bima sambil terus menyuapi Nafisa



setelah selesai Bima segera memberikan Nafisa vutamin untuk diminum Nafisa. setelah nya Bima pamit untuk kembali kerumah sakit untuk menjaga Risana.



"Umi minum vitamin nya ya, setelah ini Umi tidur. Abi mau balik kerumah sakit nemenin Risana". ucap Bima memberikan vitamin dan teh kepada Nafisa



Bima bergegas menyiapkan semua keperluan Risana di rumah sakit. ia berjalan kekamar Risana dan mengambil beberapa baju milik istri mudanya



ia bisa saja menyuruh mbak Anik untuk menyiapkan nya, namun Bima mengurungkan niatnya itu dan memilih menyiapkannya sendiri untuk istrinya



sesudah semuanya siap Bima berpamitan dengan Nafisa dan berlalu pergi menuju rumah sakit B. sepanjang perjalanan Bima mengingat keadaan Nafisa, ia merasa jika istrinya semakin hari semakin tidak membaik keadaannya



"kenapa Nafisa keadaannya semakin memburuk ya, apa karena efek dari kemoterapi?". gumam lirih Bima sambil melajukan cepat mobilnya



"apa aku tanya langsung sama dokter Baskoro? salah kubselama ini tidak pernah menemaninya kontrol di rumah sakit, apa ada yang di sembunyikan dari ku?". gumam nya lagi menerka nerka



"ah besok besok saja, yang terpenting sekarang kesembuhan Risana dulu, setelah itu aku baru bertemj dengan dokter Baskoro". ucap Bima masih fokus menatap ke arah depan



setelah beberapa saat mobil Bima sudah sampai di rumah sakit. ia segera turun dan berjalan menuju ruangan dimana Risana di rawat. sesampainya di ruangan Risana, Bima segera meletakkan barang bawaanya dan mendekat kearah Risana



"sayang udah makan?". tanya Bima menghampiri Risana lalu mncium keningnya



"udah mas, tadi di suapin sama mamah". jawab Risana matanya fokus menatap layar televisi



"sayang nggak istirahat?. udah malem lho". ucap Bima duduk di kursi sebelah Risana



"belum ngantuk mas". jawab Risana manja



"dari tadi udah mamah suruh istirahat Bim. tapi katanya nungguin kamu". ucap mamah Rossa menjelaskan



"iiiihhh mamah apaan sih". gerutu Risana karena mamahnya terlalu jujur

__ADS_1



"jadi nungguin mas baru mau tidur?". tanya Bima menatap mesra Risana


__ADS_2