
"oh, benarkah? lantas apa kau kenal dengan dengan mantan kekasih ku? namanya Risana". tanya dr. Yuda dengan gaya santai nya
"sepertinya tidak, kita beda fakultas". jawab Monica berbohong
dr. Yuda mengangguk percaya dengan ucapan Monica dan terus memperhatikan Monica.
"oh ya, kalo boleh tau kenapa ruangan dokter lebih besar dari yang lainnya? menurut ku ini cukup luas dari ruangan dokter lainnya". tanya Monica merasa penasaran dengan ruangan dr. Yuda yang memang luas.
"ah tidak, sama seperti ruangan dokter lainnya kog". ucap dr. Yuda menyakinkan
Monica hanya mengangguk Percaya, namun di dalam hatinya masih ada perasaan tidak percaya. dan berniat mencari tahu tentang siapa dr. Yuda sebenarnya
"oke, lain kali kita ngobrol lagi. ah iya, saya belum tau nama kamu". ucap dr. Yuda dengan senyum tampan nya
"Monica" ucap Monica sedikit salah tingkah lalu berdiri dari duduknya dan menuju keluar
"tunggu". ucap dr. Yuda melihat Monica sudah di ambang pintu
"iya". ucap Monica menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah dr. Yuda
"ini STNK milik mu dan kalo boleh, sekalian aku meminta nomor telepon mu". ucap dr. Yuda melangkah menuju ke arah Monica.
dr. Yuda segera beranjak dari duduknya melangkah menuju kearah Monica lalu menyerahkan STNK milik Monica.
"terimakasih". ucap Monica mengambil STNK miliknya dari tangan dr. Yuda
"ini nomor saya"ucap Monica lagi memberikan kartu nama nya kepada dr. Yuda.
"oke thanks, see you again". ucap dr. Yuda tersenyum manis
Monica pun membalas senyuman dr.Yuda lalu segera pergi meninggalkan ruangan dr.Yuda, sepanjang perjalanan keluar dari rumah sakit Monica terus mengumpat kesal, ia iri dengan Risana yang di kelilingi cowok cowok keren dan kaya, lalu bergegas meninggalkan rumah sakit
****
beberapa hari telah berlalu, Nafisa bersiap untuk kembali kerumah Bima, nampak ia sedang bersiap merapikan barang bawaannya di kamar di temani bunda.
__ADS_1
"sa sudah semua barang-barang kamu?". tanya bunda menutup koper milik Nafisa
"iya bun sudah". jawab nya lirih
"bener nggak ada yang ketinggalan?". tanya lagi bunda menyakinkan
Nafisa hanya mengangguk pelan, di hatinya sudah sangat rindu dengan suami nya, rasanya ingin segera bertemu dan memeluknya dengan erat.
"apakah kamu akan masih sama seperti kemarin mas, masih seperti suami ku yang dulu walaupun sekarang sudah ada Risana?". gumam di dalam hati Nafisa duduk di tepi ranjang
dalam lamunannya Nafisa kembali merasakan sakit yang teramat hebatnya. ia mulai tak sadarkan diri lagi, badannya jatuh ke lantai membuat bunda Isna panik memanggil manggil nama nafisa, bunda semakin panik tatkala hanya berdua saja dengan Nafisa.
bunda Isna segera memanggil asisten rumah tangga nya, bunda berteriak keras panik akan keadaan Nafisa yang tak sadarkan diri.
"mbak atun cepet tolongin mbak, Nafisa pingsan". teriak bunda memanggil asisten rumahtangga nya.
mbak atun yang mendengar teriakkan bunda segera melangkah menuju ke tempat bunda berada. sesampainya di kamar Nafisa mbak tak kalah paniknya dengan bunda
"mbak atun cepat hubungi bapak. bilang kalo Nafisa pingsan. suruh pulang sekarang". titah bunda cemas dengan keadaan putrinya
rasa khawatir nampak di wajah ayah, tak lama mobil ayah sudah sampai di rumah. ayah yang sudah sangat khawatir langsung menuju kamar Nafisa dan segera membawa nya kerumah sakit diikuti bunda di belakang yang terus saja menangis
di rumah sakit ayah dan bunda menunggu di ruang tunggu UGD, wajah mereka sangat terlihat cemas. hati ayah semakin marah dengan Bima karena tidak ada perhatian sama sekali dari Bima untuk putrinya.
"yah, bunda hubungi Bima dulu ya kalau Nafisa masuk rumah sakit". ucap bunda menatap ayah dari samping
"tidak usah, biarkan saja Bima. nanti kalo ingat dia akan cari sendiri istrinya". ucap ayah sedikit emosi mendengar nama Bima
mendengar ucapan ayah Aris membuat bunda semakin bingung hanya terdiam, di sisi lain hati bunda ada rasa kecewa dengan bima, tapi dilihat sisi baiknya memang ini sudah takdir dari yang maha kuasa.
hampir setengah jam bunda dan ayah menunggu, akhirnya dokter yang menangani Nafisa keluar. dengan segera ayah dan bunda menghampiri dokter tersebut.
"pak Bu, apa sudah lama pasien memiliki penyakit kista?". tanya dokter nampak cemas
"iya sudah lama dok, tapi sudah berobat dan terapi juga. katanya juga mau operasi". ucap bunda menjelaskan
__ADS_1
"sudah terlambat Bu, kista di rahimnya termasuk kista ganas dan sekarang sudah menjadi kanker, karena terlambat di tangani. dan penyembuhan nya hanya bisa di lakukan kemoterapi". ucap dokter menjelaskan penyakit Nafisa
hati ayah bagai di sambar petir yang begitu keras, harapannya untuk kesembuhan Nafisa kini malah semakin pupus dengan pernyataan dokter. rasa kecewanya dengan Bima semakin menjadi jadi, dan ingin memisahkan Nafisa dari Bima.
"saya permisi dulu pak Bu". ucap dokter berlalu meninggalkan ayah dan bunda yang masih berdiri di ruang tunggu.
bunda yang sangat khawatir segera menghampiri Nafisa di ruang UGD. tak henti-hentinya bunda menangis meratapi nasib putrinya. tangisnya begitu pilu, ingin sekali merasakan apa yang Nafisa rasakan.
terlihat ayah juga meneteskan air mata tak kuat melihat putrinya terbaring sakit. ayah terus menatap wajah Nafisa yang pucat. tubuhnya nampak lebih kurus dan sedikit kering,hatinya juga sakit dan terluka.
tanpa sepengetahuan ayah, bunda mencoba menghubungi Bima memberitahu jika Nafisa sakit dan dirawat di rumah sakit.
"assalamualaikum bim. bunda mau menyampaikan jika Nafisa sakit dan sekarang di rawat di rumah sakit".tulis bunda dalam pesannya
Bima yang sedang istirahat segera membuka handphone nya setelah mendengar nada pemberitahuan, Bima melihat ada pesan dari ibu mertuanya, dengan cepat Bima membuka pesan dari mertuanya yang ternyata kabar bahwa Nafisa sedang sakit.
dengan segera Bima meminta izin kepada guru lainnya jika istri nya sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. tanpa pikir panjang Bima segera menyusul dimana Nafisa di rawat.
sesampainya di rumah sakit Bima bertanya di bagian pendaftaran menanyakan ruangan dimana istrinya di rawat.
"sus, pasien atas nama Nafisa Fitriyani di rawat di ruangan mana ya". tanya Bima dengan was was
setelah mendapat informasi dari suster Bima segera mencari ruangan tersebut. tak lama Bima menemukan ruangan Nafisa, perlahan Bima masuk menuju kearah Nafisa. tapi dengan segera di hadang oleh ayah.
"ikut aku". ucap ayah sedikit emosi
dengan segera Bima mengikuti langkah ayahamertuanya menuju keluar ruangan. hati Bima mulai takut nampak di wajah mertua nya ada rasa marah yang siap menerkam dirinya.
"tinggalkan Nafisa, dan kamu bisa berbahagia dengan istri muda mu". ucap ayah menatap Bima penuh emosi
"tidak yah, aku sangat mencintai Nafisa bagaimanapun keadaannya aku akan menerima nya". ucap Bima memelas
"jika kamu menerima keadaan Nafisa bagaimanapun keadaannya, tidak seharusnya kamu menikah lagi. yang seharusnya kamu lakukan jaga dia, temani dia, urus dia bukannya malah menikah lagi". ucap ayah dengan emosi yang memuncak
Bima hanya terdiam mencerna ucapan ayah mertuanya, dan membenarkan apa yang di katakan ayah mertuanya itu
__ADS_1
"dan kamu tahu sekarang, kista di rahim Nafisa sudah menjadi kanker, jadi, saya tekankan sekali lagi, tinggal kan Nafisa". ucap ayah Aris berlalu pergi meninggalkan Bima yang masih banyak dengan pertanyaan di kepalanya.