
tak lama dokter dan perawat datang menghampiri dokter Yuda dan juga Monica. perlahan dokter Yuda di baringkan di sofa, lalu di periksa oleh dokter, dan ternyata semua baik baik saja
Monica panik, ia takut jika dokter Yuda telah ingat semuanya. pasti dokter Yuda akan meninggalkan nya, dan benar saja, dokter Yuda sudah ingat semuanya. ia bertanya tanya ada apa dengannya selama ini
"dokter Yuda kemarin mengalami depresi berat, hingga lupa ingatan. alhamdulillah sekarang sudah kembali membaik". jawab dokter tersenyum
"baik pak, kalau begitu saya permisi dulu. jika butuh apa apa hubungi kembali. mari pak, mari bu". ucap dokter berpamitan
setelah dokter keluar..dokter Yuda mencoba menanyakan nya kepada Monica. selama ini apa yang sudah terjadi dengannya.
"kamu lupa ingatan Yud. selama ini aku yang merawat kamu, cuma aku yang peduli dengan kamu". ucap Monica sedikit khawatir
"iya iya, aku ingat. terakhir aku bertengkar dengan Risana di rumah sakit, setelah itu aku tidak ingat apa apa". ucap dokter Yuda mengingat
"Nic, keadaan Risana sekarang bagaimana?. aku ingin bertemu Nic". ucap dokter Yuda
hati Monica terasa sakit, kenapa sekian lama merawat dokter Yuda dengan tulus, berharap ia bisa memiliki dokter Yuda, namun setelah ia ingat semua, tetap saja hanya Risana yang di ingat
"aku tidak tau Yud, dia sudah lama tidak masuk kuliah". jawab Monica lesu
"dia masih ingat dengan ku tidak ya?". tanya dokter Yuda dengan tersenyum
"Nic, aku mau pulang dulu, aku mau bertemu mamah". ucap dokter Yuda berlalu di ikuti Monica di belakang
sepanjang perjalanan, dokter Yuda nampak tersenyum kecil, ia bahagia karena sudah ingat semua tentang dirinya dan Risana. sedangkan Monica hanya diam, sesekali menatap dokter Yuda yang wajahnya terlihat sumringah
"Yud, apa tidak ada rasa sedikit pun untuk ku?. setelah kamu ingat saja tak menganggap ku sama sekali". gumam dalam hati Monica
Monica sangat marah saat itu, ia sama sekali tidak di lihat oleh dokter Yuda. padahal selama dokter Yuda sakit Monica berusaha selalu ada untuk dokter Yuda.
sesampainya di rumah, dokter Yuda segera mencari keberadaan mamah Wijaya. sekeliling rumah ia cari, ternyata mamah Wijaya sedang bersantai di pinggir kolam renang menikmati segelas es lemon yang segar.
kedatangan Yuda yang memanggil namanya membuat mamah Wijaya kaget. mamah seolah tak percaya jika dokter Yuda sekarang sudah kembali ingatannya.
"mamah, aku kangen sama mamah". ucap dokter Yuda memeluk mamahnya
"apalagi mamah sayang, sangattt kangen sama kamu. akhirnya kamu ingat semuanya?". ucap mamah Wijaya
"iya mah, aku sudah ingat semuanya". ucap dokter Yuda tersenyum
"berterimakasih lah sama Monica. selama ini dia yang merawat kamu, dia yang sabar menjaga kamu. hingga kamu ingat semuanya sekarang". ucap mamah bahagia
__ADS_1
"iya mah. Monica, terimakasih untuk semuanya ya. kamu memang sahabat terbaik ku". ucap dokter Yuda menatap Monica
"deg". hati Monica tersentak kaget.
"jadi selama ini aku hanya di anggap sahabat?". tanya dalam hati Monica
"dimana perasaan kamu Yud, aku yang sudah lelah menjaga kamu. memprioritaskan kamu dari semua urusan ku. ternyata aku hanya sahabat?". gumam dalam hati Monica
"iya Yud. sama sama". ucap Monica tidak bersemangat
ia berjalan keluar rumah dokter Yuda, Monica pulang dengan rasa sakit di hatinya. tanpa berpamitan Monica melajukan mobilnya dengan sangat kencang.
"aku sangat mencintai kamu Yud. kenapa yang kamu ingat hanya Risana. kenapa pengorbanan ku tidak pernah kamu hargai Yud?". teriak Monica di dalam mobilnya
sedangkan dokter Yuda masih mengobrol dengan mamahnya. ia bercerita jika ia akan menemui Risana
"tidak!". ucap mamah Wijaya keras
"mamah tidak boleh kamu bertemu dengan Risana. gara gara Risana kamu menjadi seperti ini Yud. mamah mohon sama kamu, lupain Risana. lebih baik kamu sama Monica saja". ucap mamah Wijaya menatap dokter Yuda serius
"tapi aku hanya menganggap Monica sebagai sahabat mah". bela dokter Yuda
"kamu tau Yud. selama kamu sakit Monica sabar merawat kamu, mengantar kamu ke psikiater. setiap hari menemani kamu, hargai sedikit Monica ya". ucap mamah
"tapi aku tidak mau menikah dengan Monica mah. aku tidak mencintai nya". ucap dokter Yuda
"soal perasaan nanti akan tumbuh sendiri seiring berjalannya waktu. seperti mamah dan papah dulu, tidak ada cinta saat pertama pernikahan. siring waktu, cinta itu ada sendiri". ucap mamah Wijaya
dokter Yuda nampak berfikir, ia bingung harus mengambil keputusan apa.
"tega kamu Nic, mengambil kesempatan dalam kesempitan ku". gumamnya dalam hati
seharian dokter Yuda berfikir keras. bagaimana cara agar terlepas dari Monica, namun belum juga menemukan cara agar terlepas dari Monica.
keesokan harinya, dokter Yuda berangkat kerumah sakit untuk mengecek data data selama ia sakit. di mejanya foto Risana ternyata sudah tidak ada.
ia mencari sekeliling, bingung, karena masih ia ingin melihat dan menyimpan foto Risana. lama mencari, tiba tiba ada papah Wijaya datang dari arah pintu
"kenapa Yud?. sedang cari apa?". tanya papah Wijaya
"mencari foto Risana pah". ucap dokter Yuda
__ADS_1
"sudah papah buang. papah tidak mau melihat foto dia lagi". ucap keras papah
"tapi pah". belum selesai berucap, omongan dokter Yuda sudah di potong sama papah Wijaya
"kamu lupain Risana, atau akan papah buat menderita ?". ucap papah Wijaya lalu duduk di sofa
"papah tidak mau kamu sakit lagi hanya karena perempuan itu. lupakan perempuan itu, dia hanya pembawa sial untuk kamu". ucap papah dengan emosi
dokter Yuda hanya diam, ia tidak mau membantah jika papahnya sudah memutuskan. dan ia akan menerima kenyataan jika akan menikah dengan Monica.
disisi lain, Bima pulang kerumah dengan hati hancurnya. sesampainya di rumah Bima lebih memilih tidur di kamar Nafisa. ia merenungi semua kejadian yang sudah menimpa dirinya.
ia kini bagai buah simala kama, bingung harus marah atau harus berbaik dengan Risana. apalagi ia tahu karena Risana lah Nafisa menjadi pergi dari kehidupannya.
di kamar Nafisa Bima tiduran sambil menatap langit langit kamar. pikirannya melayang kemana mana.
sedangkan Risana dari teras atas melihat ada mobil Bima sudah terpakir di depan rumah. tau akan hal itu, ia segera turun kebawah untuk mencari keberadaan suaminya.
"mas Bima sudah pulang. aku samperin deh". ucapnya berjalan menyusuri anak tangga
Risana mencari kearah dapur, namun tidak ada Bima, lalu ia mencari lagi ke taman belakang, juga tak di temui Bima. di depan juga tidak ada, sejenak Risana berfikir, sekarang ia tahu dimana suaminya itu
"aku tau mas, pasti kamu ada di kamar mbak Nafisa". gumamnya lirih lalu menuju kamar Nafisa
perlahan Risana membuka pintu kamar Nafisa, ia melihat lelakinya itu sedang tidur. merasa sudah kangen, Risana mencoba mendekat, ia duduk di tepi ranjang sambil memeluk Bima
"mas, ku kangen sama kamu". ucap nya lirih
tau akan pelukan Risana, Bima hanya diam tanpa membuka mata.
"mas, kenapa tidak mengajak aku kalau mau kerumah Abah?". tanya Risana masih memeluk Bima
"kenapa kamu mengusir Nafisa?". tanya Bima dengan emosi
"aku tidak mengusirnya mas. mbak Nafisa sendiri yang pergi". elak Risana melepaskan pelukannya
"aku sudah tau semua Ris, jangan membohongi ku". teriak Bima
"jadi mbak Nafisa ngadu sama kamu?". tanya Risana menatap Bima
"iya. dia sudah cerita semuanya. setelah kamu lahiran nanti, aku akan mencerai kan mu.biar kamu tahu gimana rasanya menjadi Nafisa". ucap Bima mantap
__ADS_1
"jangan mas. aku sangat mencintai kamu, nanti kasihan anak kamu, dia juga butuh Abahnya. dia juga ingin orang tuanya utuh mas". mohon Risana memeluk lagi Bima