
sesampainya di depan pintu, dokter Noval perlahan memegang gagang pintu dan membukanya. ia menatap Monica agak lama, melihat wajah Monica yang pucat panik.
"ada apa nona?". tanya dokter Noval berdiri di ambang pintu
"boleh saya masuk?". tanya Monica menatap dokter Noval serius
"oh tentu boleh, silahkan masuk". ucap dokter Noval memepersilahkan
dokter Noval berjalan santai menuju kursinya, sedangkan Monica berjalan menuju kursi di sebrang dokter Noval.
"ada apa nona datang kemari?". tanya dokter Noval kepada Monica yang baru duduk
"dok, saya takin pasti anda tahu dimana Yuda berada. saya sangat khawatir dengannya, karena sejak kemarin susah di hubungi". ucap Monica dengan wajah melasnya
"yaaa, sebenarnya, saya memang tahu dimana Yuda, tapi, keadaan dia sedang tidak bisa di ganggu". ucap dokter Noval sedikit berfikir
"kenapa?. apa dia sedang marah dengan ku? atau sedang dengan seseorang?". cecar Monica karena penasaran dengan keadaan Yuda.
"tidak nona, dia hanya sedang tidak bisa di ganggu. dia ingin menenangkan pikirannya dulu". jelas dokter Noval menatap Monica
"aku butuh jawaban yang pasti". ucap Monica serius
"itu sudah pasti nona, Yuda sedang tidak bisa di ganggu. intinya dia ingin menyendiri tanpa ada orang lain ". jelas dokter Noval memastikan
"sudah jelas kan nona?". tanya dokter Noval sedikit menyeru
tanpa sepatah kata Monica pergi meninggalkan ruangan dokter Noval, ia semakin frustasi tatkala tak mendapatkan jawaban dari dokter Noval.
Monica melangkah dengan hati yang di penuhi rasa dendam. di wajahnya terlihat sangat marah, ia tak tahu harus kemana lagi mencari Yuda, sedangkan alamat rumah Yuda ia tidak tahu.
merasa pikirannya capek ia memutuskan mengajak teman temannya nongkrong di sebuah cafe. Monica ingin mendinginkan otaknya yang sudah memanas karena memikirkan Yuda.
Monica tak tahu jika perasaannya dengan Yuda telah berubah menjadi cinta, cinta yang berawal dari sebuah balas dendam.
malam telah tiba, setelah pulang mengajar Bima menyempatkan mampir ke toko perhiasan. nampak Bima melihat lihat beberapa perhiasan yang terpajang di etalase.
"mbak boleh lihat yang ini?". tanya Bima pada pelayan toko yang ada si sebrangnya
__ADS_1
Bima menunjuk sebuah kalung emas putih yang cantik dengan permata di tengahnya. setelah di ambilkan oleh pelayan toko, Bima segera mengambil kalung tersebut dan memandangi kalung itu dengan perasaan bahagia.
"semoga kamu suka dengan hadiah ini". gumamnya dalam hati sambil memegang kalung
"mbak saya mau yang ini. tolong di bungkus ya". ucap Bima dengan senyum bahagianya
terlihat Bima menunggu sambil memainkan handphone nya. tak lama kalung pesanannya sudah selesai di kemas. masih dengan perasaan bahagianya Bima mengambil perhiasan itu dan Segera membayarnya.
"terimakasih pak". ucap pelayan memberikan struk dan kartu debit milik Bima
"sama sama mbak". balas Bima tersenyum berlalu menuju mobilnya
selama perjalanan bibir Bima penuh dengan senyuman. ia berharap semoga istrinya bahagia dengan kejutan yang akan di berikannya
tak lama Bima sudah sampai di rumaj sakit, ia segera mencari parkiran yang kosong untuk memakirkan mobilnya, setelah dapat, Bima bergegas menuju ruangan Risana.
Bima berjalan dengan perasaan bahagia, karena ini pertama kalinya ia memberikan hadiah untuk Risana. di depan pintu lift ia merasa tak sabar karena ruangan Risana ada di lantai 7.
"semoga kamu suka Ris". gumamnya dalam hati dengan senyum mengembang di bibirnya
sesampainya di ruangan Risana Bima berjalan dengan cepat, ingin segera memberikan kado terindah untuk istrinya.
"iya mas". jawab Risana membalas senyuman Bima
"udah makan belum". tanya Bima membelai lembut rambut Risana lalu mencium keningnya
"udah mas, baru aja selesai makan di suapin mbak Anik". ucap Risana mendekap tubuh Bima
"aku punya sesuatu buat kamu". ucap Bima mengambil hadiah di saku celananya
"ini". ucap Bima memberikan kotak kecil kepada Risana
"apa ini mas?". tanya Risana dengan senyum bahagianya
"buka dong". ucap Bima menatap Risana
Risana cepat cepat membuka hadiah dari suaminya, perlahan Risana membuka kotak berwarna biru dongker yang ada di tangannya.
__ADS_1
matanya membelalak bulat tatkala melihat kalung emas putih yang sangat indah. Risana mengambil kalung itu melihat permata yang bersilap di tengahnya.
wajahnya sangat bahagia, bibirnya terus mengembangkan senyuman. ia sangat menyukai hadiah dari suaminya, di pikirannya bertanya tanya dari mana Bima tahu jika ia suka emas putih.
"ini cantik sekali mas". ucap Risana memandangi kalung dark Bima
"suka?". tanya Bima mendekap Risana
Risana mengangguk bahagia, kemudian Bima mengambil kalung itu dan di pakaikan di leher Risana. tak hentinya Bima mencium kening istrinya, berterimakasih karena suka dengan hadiah yang di berikannya
"maaksih ya mas, kamu selalu buat aku bahagia". ucap Risana melihat kalung di lehernya
"iya sayang, yang penting kamu sehat. terus bksa pulang kerumah". ucap Bima lalu duduk di kursi samping Risana
"oh iya mas, besok aku sudah boleh pulang. kata dokter tinggal rawat jalan aja". ucap Risana menatap Bima
"tapi masih ada yang sakit nggak?". tanya Bima
"ini yang luka luka masih sakit mas, tapi tinggal nunggu kering aja". jelas Risana
"mas, pengen buah, kupasin ya". ucap manja Risana menatap Bima dengan mesra
"pengen apa sayang?". tanya Bima mendekat ke wajah Risana
"eeemm apel aja mas". ucap Risana menatap mata Bima
sedangakan di sofa ada mbak Anik yang memperhatikan kemesraan keduanya. namun mbak Anik hanya diam dan sesekali tersenyum dengan tingkah keduanya.
disisi lain Nafisa masih berbaring di ranjangnya, ia menatap langit langit kamarnya. serasa sunyi, sepi, dan dingin berada di hatinya. perlahan Nafisa bangkit dari tidurnya, ia berjakan keluar kamar menuju dapur untuk mengambil minum.
di ruang kekuarga ia menatap foto pernikahan Bima dan dirinya, sedangkan di samping nya terdapat foto pernikahan Bima dan Risana. ia terus memandangi kedua foto itu. ada rasa menyesal di hatinya.
"foto kamu dengan Risana saat itu memang terlihat terpaksa mas, karena rasa terpaksa itu membuat ku ingin kamu segera mencintai Risana. tapi, setelah rasa cinta itu tumbuh kamu malah melupakan orang yang ada di samping mu selama ini". ucap nya lirih menatap foto Bima dan Risana
"dan saat foto dengan ku kamu memang terlihat bahagia mas, namun sekarang rasa cinta itu telah pergi seiring datang nya cinta mu untuk Risana". ucap nya lagi memandangi foto dirinya dengan Bima
"aku hanya bisa mengikuti alur yang sudah di tentukan oleh Allah, dan semoga itu jalan yang terbaik untuk ku". ucap Nafisa lalu berjalan menuju arah dapur
__ADS_1
ia mencoba menguatkan hatinya, menerima kenyataan dan mengikuti alur dengan sendirinya. karena jika ia melawannya, ia takut malah menyakiti dirinya sendiri.