
"badan Umi lemas Abi, Abi sarapan sendiri ya". ucap Nafisa masih tidur di ranjangnya
"sekalian Umi mau bilang, nanti Umi mau kerumah sakit di temenin sama Novita, soalnya Umi tau pasti Abi sangat sibuk". ucap Nafisa menahan tangisnya
"iya udah, Abi mandi dulu ya". ucap Bima lalu mencium pipi Nafisa tanpanada respon dari Nafisa
kemudian Bima beranjak dari duduknya berjalan menuju ke kamar mandi, sesekali ia melihat kearah Nafisa yang masih dalam posisi tidur miringnya.
"apa Nafisa marah karena aku kurang perhatian dengannya?. tapi kan Risana sedang di rumah sakit, aku juga cuma jaga pas malem, karena aku bisanya malem. aku coba bujuk lagi nanti agar dia mau mengerti". gumam dalam hati Bima saat di kamar mandi
setelah selesai mandi, Bima melihat Nafisa masih dalam posisinya, karena tak ingin mengganggu Nafisa, Bima mengambil sendiri semua keperluannya. saat ganti baju, sesekali Bima melihat kearah Nafisa yang masih tidur.
setelah itu Bima sarapan sendiri di layani Bik Sumi, saat di meja makan Bik sumi melihat hanya ada Bima yang sarapan tanpa di temani Nafisa, segera Bik sumi menghampiri Tuannya untuk menanyakan keperluan Bima
"Tuan sarapan sendirian?". tanya Bik Sumi berdiri di samping Bima
"iya Bik, Nafisa lagi sakit, tadi badannya lemas". ucap Bima menatap bik Sumi
"biar bibik yang ambilkan ya Tuan". ucap Bik Sumi lalu mengambil piring dan nasi
"Nafisa tadi udah sarapan belum bik?". tanya Bima menatap bik Sumi yang sedang mengambil nasi
"belum Tuan, tadi saya ke kamar nyonya karena bibik khawatir nyonya belum keluar kamar, mau bibik ambilkan sarapan, tapi kata nyonya nanti saja". jelas Bik Sumi lalu menyerahkan piring kepada Bima
"makasih Bik". ucap Bima
"saya permisi Tuan". ucap Bik Sumi lalu kembali lagi kedapur
setelah selesai sarapan Bima kembali lagi kekamar Nafisa untuk berpamitan kepada Nafisa. ia segera kekamarnya membuka pintu dengan perlahan takut Nafisa kaget.
Bima melangkah pelan menuju kearah Nafisa yang masih tidur. lalu duduk di tepi ranjang menatap punggung Nafisa, setelahnya mendekat kewajah Nafisa.
"Abi berangkat ya, Umi jangan lupa sarapan". ucap Bima lalu mencium kening Nafisa
"Abi hati hati ya". ucap Nafisa membaringkan tubuhnya lalu menatap Bima
__ADS_1
"iya Umi, Umi jaga kesehatan biar cepat sembuh". ucap Bima menatap Nafisa, lalu Nafisa memiringkan tubuhnya kembali
sebelum berangkat Bima menuju meja rias untuk mengambil handphone nya, tapi ia lupa menaruh handphone nya dimana.
Bima mencoba mencari di sekeliling meja, membuka laci meja satu persatu, saat membuka laci paling bawah Bima menemukan amplop berwarna putih dari rumah sakit. karena penasaran Bima mencoba membuka amplop tersebut.
Bima membaca dari atas melihat setiap kata dari surat itu, ternyata surat itu berisi hasil laboratorium penyakit Nafisa. Bima nampak terpukul sekali dengan isi surat tersebut, tapi Bima mencoba menyembunyikan tangisnya, ia takut Nafisa tahu jika Bima sudah mengetahui jika kanker Nafisa sudah parah.
Bima merasa sangat bersalah, karena selama ini mengacuhkan Nafisa dan lebih perhatian dengan Risana. karena sudah siang, Bima bergegas memasukan kembali surat tersebut kedalam amplop lagi.
dengan rasa iba, Bima membalikkan badan berjalan menuju kearah Nafisa. melihat punggung Nafisa dengan tangis, hati Bima begitu sakit, ketika tahu kanker Nafisa sudah stadium tiga. ia merasa tak tega, sebab selama beberapa minggu ini dirinya lebih perhatian kepada Risana dari pada Nafisa
selama perjalanan ke sekolahan, Bima tak hentinya menangis, meratapi nasib istri tua nya yang begitu memilukan. sedangkan di kamarnya Nafisa masih membaringkan tubuhnya, menahan perut dan pinggang nya yang masih saja terasa sakit.
lalu Nafisa mencoba duduk di tepi ranjang, masih memikirkan ucapan Novita jika dirinya harus meninghalkan Bima. ia tak tahu harus mengambil keputusan seperti apa, karena dirinya yang masih mencintai Bima, sedangkan Bima bersikap tak acuh dengannya
sekitar pukul setengah sembilan Novita sudah sampai di rumah Nafisa, ia bergegas memencet bel rumah, tak lama Bik Sumi membukakan pintu untuk Novita
"silahkan masuk non, sudah di tunggu nyonya Nafisa di kamarnya". jelas Bik Sumi di ambang pintu
"Terimakasih bik". ucap Novita berlalu masuk menuju kamar Nafisa
"sa, jangan banyak melamun ya. kamu itu seharusnya banyak tersenyum Sa. nggak boleh mikir yang berat berat". ucap Novita berdiri di depan Nafisa
"iya Nov". ucap Nafisa lirih
"kita berangkat jam berapa Sa?". tanya Novita menatap wajah sahabatnya
"sekarang ya, aku siap siap dulu". ucap Nafisa berdiri melangkah menuju ke almari nya
"aku bantu Sa". ucap Novita mencoba membantu Nafisa yang nampak kesulitan berjalan
Novita mencoba membantu Nafisa memilihkan baju dan membantu nya berdandan, karena tubuh Nafisa memang benar benar lemas.
Novita dengan senang hati membantu sahabatnya itu. Novita ingat akan kebaikan Nafisa disaat dirinya terpuruk, dimana saat itu suaminya selingkuh dengan wanita yang lebih muda darinya dan lebih memilih selingkuhannya, dan Nafisa selalu menjadi pendengar baiknya, menyemangati dirinya agar selalu melihat kedepan, melihat anak anaknya
__ADS_1
setelah siap Novita dan Nafisa berjalan menuju mobil Novita, dengan sabar Novita membantu Nafisa naik ke dalam mobil.
selama perjalanan kerumah sakit, Novita mencoba menanyakan bagaimana kelanjutan rumah tangga Nafisa bersama Bima. Nafisa ingin lanjut apa ingin menyudahi semuanya
"tadi pagi Bima pulang apa nggak sa". tanya Novita sambil mengemudi
"pulang Nov, tapi aku nggak nyapa dia, kamu tau sendiri badan ku lemas". ucap Nafisa lirih melihat ke depan
"terus Bima gimana?". tanya Novita penasaran
"dia kira aku marah, padahal aku emang lagi sakit. terus dia berangkat ngajar, tapi mas Bima masih pamitan sama aku". jelas Nafisa
"kenapa kamu sabar banget sih sa, kalo aku jadi kamu, aku udah minta pisah Sa". ucap Novita sedikit emosi
"aku nggak tau Nov harus gimana". ucap Nafisa tak semangat
"kamu pengennya lanjut apa gimana sa?". tanya Novita lagi
"insya Allah aku mencoba bertahan Nov". jelas Nafisa mantap dengan pilihannya
"aku akan mendukung apapun keputusan kamu sa, asal kamu bahagia. tapi, jika sikap Bima masih sama, aku minta sama kamu tinggalin Bima. aku akan urus semua untuk kamu". ucap Novita sesekali menatap Nafisa
lama mengemudi, akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Novita segera membantu Nafisa turun dari mobilnya, dan berjalan menuju pendaftaran.
Nafisa duduk menunggu di ruang tunggu dan Novita mengurusi pendaftaran untuk Nafisa. entah kebetulan atau di sengaja, tiba tiba dokter Noval datang menghampiri Nafisa di ruang tunggu dan mengajak Nafisa untuk mengikutinya keruangan dokter Baskoro
"siapa ini Sa?". tanya Novita kepada Nafisa melihat ada seorang dokter menghampirinya
"ini dokter Noval Nov, dokter Noval ini sahabat saya novita". ucap Nafisa memperkenalkan masing masing
"hai dok". sapa Novita tersenyum kepada dokter Noval
"hai Nov". balas dokter Noval tersenyum
"mari saya antar langsung keruangan dokter Baskoro". ajak dokter Noval menatap Nafisa dan juga Novita
__ADS_1
"ayo Sa, ikut aja, ini antri nya lama lho, tadi katanya badan kamu lemes". ucap Novita membujuk dengan senyum senangnya
Nafisa mengikuti saran sahabatnya, mereka bertiga lantas berjalan bersama beriringan menuju ruangan dokter Baskoro. Novita sesekali melihat dokter Noval, menatap matanya.