Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
bogem mentah (81)


__ADS_3

"sekarang sudah ada Sa wanita yang seperti itu. dia lah wanita tipe ku, dewasa, kalem, keibuan, tapi, entah aku bisa memilikinya atau tidak". ucap dokter Noval berhenti berjalan


"siapa Val, lalu kenapa kamu tidak mencoba mendekati nya". tanya Nafisa heran


"dia sudah punya orang lain Sa, aku hanya bisa menunggu". ucap dokter Noval melanjutkan keliling kompleks


"ya... kamu coba cari yang lain Val, mungkin itu belum jodoh kamu". ucap Nafisa menasihati


dokter Noval hanya tersenyum mendengar ucapan Nafisa, padahal jauh di dalam hatinya ingin sekali merebut Nafisa dari Bima. karena dokter Noval berharap Nafisa lah jodoh terakhirnya


"kita pulang ya Sa sarapan, kamu udah laper kan?". ucap dokter Noval memutar arah pulang kerumah


dokter Noval segera mengajak Nafisa pulang, hari ini ia sangat bersemangat, ia seperti mendapat suntikan vitamin jika dekat dengan Nafisa


setelah sarapan Nafisa meminta tolong kepada dokter Noval untuk mengantarkan kerumah orang tuanya. ia merasa tak enak jika harus menyusahkan dokter Noval terus terusan. Nafisa lebih memilih bersama orang tuanya yang sudah lama tidak bertemu


"Val, nanti tolong antarkan aku kerumah Bunda ku ya, aku nggak enak jika tinggal lama di rumah kamu, nggak baik juga di lihat orang". ucap Nafisa menatap dokter Noval


"iya Sa. tapi yang penting kita kan nggak ngapa ngapain, disini kan aku dokternya kamu pasiennya". ucap dokter Noval tersenyum


"kamu nggak coba hubungin suami kamu Sa?". tanya dokter Noval melirik Nafisa dari samping


Nafisa hanya menggeleng pelan, ia memastikan jika tak ingin menghubungi bima. ia ingin menepati janjinya tidak akan mengganggu kehidupan Bima dan Risana, meskipun itu membuat hatinya sangat sakit


selama perjalanan kerumah orang tua nya, Nafisa hanya diam menatap kaca jendela. ia memikirkan Bima, di dalam hatinya bertanya tanya bagaimana keadaan Bima dan bagaimana perasaan Bima karena dirinya pergi dari rumah tanpa pamit.


"maaf kan Umi karena menjadi istri durhaka, biarlah Umi yang menanggung sakit ini, jangan sampai Abi yang sakit. Umi ingin Abi bahagia dengan yang Umi pilihkan". gumam dalam hati Nafisa memikirkan Bima


sedangkan dokter Noval masih fokus mengemudi menatap arah depan, walaupun sesekali masih melihat kearah Nafisa yang hanya diam melamun


setelah perjalanan cukup lama, akhirnya mereka sampai di rumah orang tua Nafisa, melihat Nafisa pulang Bunda Isna langsung menghampiri Nafisa dan memeluknya


"anak Bunda, kenapa tidak bilang kalo kesini. biar Bunda siapkan makanan yang enak". ucap Bunda memeluk Nafisa erat


"ini siapa?. kenapa tidak bersama Bima Sa?". tanya Bunda heran menatap Risana dan dokter Noval


"perkenalan tante, saya Noval temannya Nafisa". ucap Noval bersalaman dengan Bunda Isna

__ADS_1


"kamu ada apa dengan Bima?. kalian sedang bertengkar?". tanya Bunda menatap Nafisa serius


Nafisa hanya mengangguk pelan, lalu memeluk Bundanya dengan erat. keadaannya yang sangat kurus membuat hati Bunda merasa sakit, bertanya tanya apa yang terjadi dengan anaknya selama ini


"ayo masuk Sa, ayo nak Noval silahkan masuk". titah Bunda memeluk Nafisa mengajak masuk kerumah


di dalam rumah Noval di persilahkan duduk oleh Bunda, sedangkan Nafisa di ajak masuk kedalam kamarnya sambil menitikan air mata.


"cerita sama Bunda, ada masalah apa kamu sama Bima". ucap Bunda menatap Nafisa penuh haru di tepi ranjang


Nafisa mulai menceritakan semua yang di alaminya selama ini, air matanya tak mampu ia tahan. beban yang selama ini ia pendam ia curahkan semua kepada Bunda.


saat serius bercerita datang Ayah yang menghampiri Nafisa, merasa aneh karena tak biasanya Nafisa datang tanpa memberi kabar.


"Bima mana Sa". ucap Ayah berjalan mendekat kearah Nafisa dan Bunda


"kenapa kamu menangis?. diapakan kamu sama Bima?". tanya Ayah dengan wajah emosi tak terima jika Nafisa menangis


melihat Ayah emosi Bunda mencoba meredamnya, Bunda tidak ingin Nafisa lebih mendapatkan tekanan dari Ayahnya


Ayah segera keruang tamu, menemui teman Nafisa. Ayah nampak masih emosi karena Bima menyianyia kan kesempatan yang di berikan Ayah mertuanya dulu. padahal Ayah Aris sudah tidak setuju jika Nafisa kembali bersama Bima.


"Om". ucap dokter Noval bersalaman dengan Ayah Aris


"kenapa Nafisa bisa bersama kamu?". tanya Ayah sambil duduk di sofa


"kemarin saya tidak sengaja bertemu dengan Nafisa di jalan Om, lalu saya ajak kerumah saya, lalu hari ini saya antarkan kerumah Om". ucap dokter Noval menatap Ayah Aris menjelaskan


"maaf kemarin Nafisa saya ajak menginap di rumah saya Om. karena saya bingung mau saya ajak kemana lagi". imbuhnya lagi merasa sungkan


"Nafisa bercerita apa dengan kamu. kenapa bisa bertemu di jalan?". tanya Ayah penasaran


"kata Nafisa dia sedang bertengkar dengan adik madunya". jawab dokter Noval jujur


dokter Noval tak mau berbohong karena menurutnya lebih baik orang tua Nafisa tahu yang sebenarnya.


"kamu tunggu disini sebentar ya. kamu mau minum apa?". ucap Ayah berdiri

__ADS_1


"apa aja Om". ucap dokter Noval menatap Ayah Aris yang sedang berdiri


sedangkan Bima dirumah masih bingung memikirkan Nafisa, ia tak tau harus kemana lagi mencari Nafisa. hidup Bima kali ini benar benar berantakan, sepanjang jalan ia menoleh kekanan kekiri mencari keberadaan Nafisa.


ddrrtttt ddrrtttt


Bima segera melihat layar handphone nya, ternyata panggilan dari mertuanya. ia semakin khawatir, bagaimana jika Ayah tahu jika Nafisa telah hilang. dengan ragu Bima menerima panggilan dari Ayah mertuanya


"assalamualaikum Yah". ucap Bima dengan gugup


"wa'alikumsalam. dimana kamu?". ucap Ayah dengan nada berat


"sedang di jalan Yah". jawab Bima


"dimana Nafisa". tanya Ayah lagi dengan nada berat


Bima diam cukup lama, ia bingung mau menjawab apa, karena diam Ayah Aris menjawab pertanyaan nya sendiri.


"kamu pasti tidak tahu kan?. dimana letak tanggung jawab kamu, bukannya kamu sendiri yang bilang akan menjaga Nafisa?". ucap Ayah Aris dengan emosi


"maksud Ayah bagaimana?". tanya Bima dengan hati cemas


"Nafisa ada di sini dengan temannya, jangan harap aku akan memberikan mu kesempatan lagi. mulai detik ini kamu tidak usah menemui Nafisa lagi". ucap Ayah lalu mematikan sambungan telepon nya


Ayah Aris sudah hilang kesabaran menghadapi Bima, bagi Ayah ia tak ingin lagi anaknya disakiti perasaannya, sudah cukup Bima menyakiti dengan menikah lagi disaat Nafisa sedang sakit dan butuh suport.


mengetahui Nafisa ada dirumah orang tuanya, segera Bima menyusul Nafisa. hatinya sangat takut menghadapi Ayah mertuanya, ia juga takut jika akan kehilangan Nafisa. dengan kecepatan tinggi Bima melajukan mobilnya.


sesampainya di rumah mertuanya Bima bergegas turun, mendengar suara mobil, Ayah Aris dan dokter Noval juga ikut keluar. mereka bertiga saling bertemu, bertatapan dengan mata penuh emosi


Bima kaget karena ada dokter Noval di rumah mertuanya. padahal kemarin dokter Noval bilang ia tidak tahu dimana Nafisa. seketika Bima membogem keras wajah dokter Noval hingga tersungkur.


bbuuggghh


"keterlaluan kamu Val, kamu bilang tidak tahu dimana Nafisa, sekarang malah kamu ada disini bersamanya". pekik Bima setelah membogem dokter Noval


"apa apaan kamu Bim. Noval tidak tahu apa apa. yang salah itu kamu tidak bisa menjaga Nafisa". ucap Ayah berdiri di antara Bima dan dokter Noval

__ADS_1


__ADS_2