
di rumah bundanya, Nafisa menyendiri di taman belakang rumah menikmati malam sendiri, memandang lampu lampu gemerlap dari atas bukit. sesekali tangannya menyeka air mata yang menetes. senyuman getir terlintas di bibir Nafisa, hatinya sakit tapi tak berdarah.
Nafisa duduk terlamun memikirkan Risana dan Bima yang hanya berdua di rumah. "semoga kali ini usahaku berhasil mas, membuat kamu mau menyentuh Risana. dan kamu segera mencintai nya. agar nanti saat aku pergi kamu tidak merasa kehilangan aku".
dari belakang bunda memperhatikan Nafisa yang dari tadi hanya melamun duduk menyendiri. bunda takut jika terus di biarkan Nafisa akan semakin setres dan mempengaruhi kesehatan nya.
"sa". ucap bunda mendekati Nafisa
"Bunda"ucap Nafisa menengok kebelakang
"dari tadi bunda lihat kamu melamun terus, sedang memikirkan Bima dan istri barunya?". tanya bunda memastikan
"tidak Bun, aku hanya sedikit lelah setelah perjalanan cukup jauh". ucap Nafisa sedikit berbohong
"sa bukankah tidak boleh berbohong dengan bunda". ucap bunda tahu jika Nafisa sedang berbohong
"bunda". ucap Nafisa lirih menatap mata bunda nya,
__ADS_1
Nafisa meneteskan air matanya lagi, hatinya seakan tidak kuat menahan bebannya yang terlalu berat. ia hanyalah perempuan biasa yang mempunyai hati dan perasaan. pasti sedikit ada rasa tidak rela berbagi suami dengan wanita lain, meskipun wanita tangguh nyatanya cinta mampu merobohkan nya.
"iya sayang mamah ngerti. ini sudah keputusan yang kamu ambil, kuatkan hati kamu mengiklaskan semua yang sudah terjadi. menerima takdir kamu dengan lapang dada, semoga Allah selalu menguatkan hati kamu". ucap bunda memeluk Nafisa membelai rambut nya perlahan.
Nafisa anak pertama dari tiga bersaudara, adik adiknya kuliah di luar kota semua membuat bunda Nafisa sangat menginginkan seorang cucu. tapi harapan bunda Isna pupus karena Nafisa tidak bisa mengandung lantaran mempunyai kista di rahimnya.
"bunda mendoakan yang terbaik buat kamu sa, bunda berharap kamu selalu bahagia". ucap bunda Isna melepas pelukannya
"ayo masuk sudah malam". ucap bunda berjalan masuk kedalam rumah
*****
Bima pun ikut tidur di samping Risana memeluk tubuh polosnya, Bima memejamkan matanya. dalam pikirannya tiba tiba teringat akan Nafisa yang belum juga memberi kabar hingga hari ini. Bima beranjak dari ranjang tidur bergegas mencari handphone nya.
"tadi malam aku taruh dimana ya?". gumam Bima lirih sembari mengangkat bantal dan selimut
"dimana ya"
__ADS_1
mendengar Bima bergumam lirih dan selimut yang di tarik tarik membuat Risana terbangun, ia menatap wajah suaminya dengan heran.
"cari apa mas?". tanya Risana terbangun
"cari handphone, tadi malem aku taruh di atas ranjang udah aku cari tapi gak ada". ucap Bima masih membuka buka selimut.
"coba cari di bawah kasur, siapa tahu jatuh". ucap Risana menebak
Bima mulai melihat di bawah kasur , meraba raba dan akhirnya menemukan handphone nya kembali. segera Bima membuka layar handphone nya mencari aplikasi percakapan di carinya nama Nafisa, tapi sama sekali Nafisa tidak menghubungi.
"tumben umi gak ngasih kabar, biasanya selalu ngasih kabar kalo lagi jauhan gini". gumam dalam hati Bima melihat percakapannya dengan Nafisa
"assalamualaikum Umi, Umi sampai di rumah bunda jam berapa?, kok nggak ngabarin Abi?". tulis pesan Bima kepada Nafisa
lama menunggu tidak ada jawaban dari Nafisa, kemudian Bima mencoba menelponnya hasilnya sama tidak terhubung perasaan Bima mulai khawatir.
"maaf umi seharusnya tadi malam aku menghubungi mu, maaf kan Abi yang sibuk sendiri". ucap di dalam hatinya merasa bersalah karena tidak memperhatikan istri tuanya.
__ADS_1
Bima teringat ibu mertuanya, ia berniat menanyakan Nafisa kepada mertuanya tersebut. Bima segera keluar dari kamar Risana menuju taman belakang rumah dan segera menghubungi bunda Isna.