Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
Risana jatuh cinta (6)


__ADS_3

capek mengelilingi mall, keduanya memutuskan istirahat di cafe di dalam mall itu.


"mbak kayaknya capek banget, kita ngopi dulu yuk di sana".ucap Risana sambil menunjuk arah cafe.


Nafisa hanya mengangguk, tangannya segera di tarik Risana menuju meja cafe


"mau pesan apa kakak?". tanya pelayan cafe.


"kamu mau pesan apa mbak?"tanya Risana pada Nafisa


"aku cappucino aja RIS". ucap Nafisa.


"aku samain aja kak kaya mbak Nafisa". ucap Risana kepada pelayan cafe


"baik kakak silahkan di tunggu ya". ucap pelayan sembari meninggalkan meja cafe.


setelah menunggu beberapa saat, pesanan mereka berdua akhirnya datang. sambil menikmati minuman masing-masing Risana menceritakan jika tengah jatuh cinta. ia menceritakan jika cintanya itu pada pandangan pertama.

__ADS_1


"kenapa senyum-senyum sendiri sih"tanya Nafisa heran.


"tau gak mbak aku tu lagi jatuh cinta, jatuh cinta pada pandangan pertama. orangnya gantenggg .. banget, tinggi, putih udah kayak pangeran dari negeri dongeng mbak". ucap Risana dengan senyum-senyum dan membayangkan lelakinya.


Nafisa pun di buat penasaran dengan pernyataan Risana "emang siapa RIS, temen kuliah kamu?" tanya Risana


Risana hanya menggeleng.


"terus siapa?" tanya Nafisa.


Risana terdiam lama, ia bingung mau bicara mulai dari mana, buat Risana Bima benar-benar orang spesial. Bima lah kriteria cowok impian buat Risana, cowok impian yang sedari kecil ia bayangkan. dan sekarang nyata ada di kehidupannya, tentunya sebagai dosennya.


"iya iya jangan ngambek dong mbak" ucap Risana


"nggak lah, ngapain ngambek sama kamu" timpal Nafisa dengan senyum lembut.


"mbak masih inget nggak waktu pertama kita ketemu di kampus?". ucap Risana

__ADS_1


lama nafisa mengingat akhirnya ingat juga. "iya inget, waktu aku nabrak kamu itu kan?". Jawab Nafisa


"yup betul, nah waktu itu ada dosen baru mbak, jadi dosen aku itu ada study tour ke Turki, di gantikanlah dosen yang sekarang." ucap Risana


mendengar perkataan Risana, Nafisa mulai menerka-nerka jika yang di maksud Risana ialah suaminya sendiri. Nafisa mencoba menenangkan hatinya, meskipun fikiranya banyak tanda tanya. ia terus saja meminum minuman nya tanpa mengindahkan Nafisa yang ada di depannya.


"hallo mbak, mbak, mbak".ucap Risana sembari melambaikan tangannya di depan muka Nafisa


"eh iya Ris iya ,terus terus orangnya kayak gimana". tanya Nafisa gugup.


Risana mulai menjelaskan apa yang di sukai dari dosennya itu, ia juga mengimbuhkan jika teman-teman satu kampus nya juga tergila-gila dengan dosen barunya.


mendengar ucapan risana yang begitu mengagumi Bima, membuat hati Nafisa sakit, ingin menangis ingin berteriak sekencang-kencangnya, istri mana yang rela suaminya di kagumi wanita lain, istri mana yang rela suaminya di cintai wanita lain, apalagi itu di ucapkan tepat di depan muka nya.


sejak saat itu Nafisa menjadi sering berdiam diri, melamun, tidak bersemangat. yang ada hanya rasa bersalah pada dirinya karena menjadi beban untuk suaminya. bik Sumi yang melihat Nafisa lebih sering melamun, mulai khawatir. lalu Bik Sumi menceritakan kepada Bima apa yang di lihatnya.


"umi, umi udah tidur?". tanya Bima

__ADS_1


perlahan Nafisa mulai membuka mata"belum". jawab Nafisa singkat.


"kata Bik Sumi sekarang umi sering melamun, apa ada masalah? maaf ya Abi sering pulang larut, jadi mulai jarang ada waktu buat umi". ucap Bima dengan lembut.


__ADS_2