Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
cinta sejati (75)


__ADS_3

"toko kue dia udah punya banyak cabang lho Val, dia bisnis women yang hebat". ucap Novita memuji


"benarkah?". tanya dokter Noval menatap Nafisa


"nggak banyak kog". jawab Nafisa menunduk


"kamu memang wanita sempurna Sa, nggak salah jika aku mengagumi mu". ucap dalam hati dokter Noval, menatap Nafisa dengan senyuman


"iya Val, cabangnya udah di mana mana, bahkan udah di luar kota". ucap Novita semangat


"hebat sekali ya". ucap dokter Noval memuji menatap Nafisa mesra


"itu juga bisnis suami ku kan Nov". ucap Nafisa membela


"tapi kan dari awal yang ngurusi kamu semua, suami kamu cuma membantu". ucap Novita membalas


Nafisa hanya diam menunduk, karena memang sebagian toko kuenya hanya dirinya yang mengurus. apalagi setelah Bima menjadi dosen menjadi jarang mengurusi bisnis mereka sehingga harus Nafia semua yang menghendle


setelah menunggu beberapa saat, akhirnya makanan yang mereka pesan sudah datang. lantas mereka menikmati makanan masing masing. dokter Noval yang duduk bersebrangan dengan Nafisa sesekali melihat kearah Nafisa, memperhatikan Nafisa yang sedang mengunyah makanan, dokter Noval begitu mengagumi Nafisa yang terlihat kalem dan keibuan


tak ingin melewatkan momen manis itu segera dokter Noval mengeluarkan ponsel miliknya di arahkan ke wajah Nafisa yang sedang menikmati makanan lalu memotret nya diam diam, dokter Noval tersenyum manis melihat manisnya wajah Nafisa.


selesai makan siang Novita meminta untuk saling tukar nomor telepon, Novita menyimpan nomor telepon dokter Noval untuk Nafisa di handphone Nafisa.


sedangkan Monica masih saja mencari alamat rumah dokter Yuda, ia mencoba mencari di internet dan menanyakan kepada teman teman ayahnya dimana alamat pemilik rumah sakit B.


usaha Monica membuahkan hasil, akhirnya ia mendapatkan alamat rumah dokter Yuda. tak ingin berlama lama Monica segera mengemudikan mobilnya menuju alamat yang tertera pada secarik kertas.


rasa di hatinya bahagia bercampur khawatir, ia takut jika Yuda tidak mau menemuinya dan membencinya. lelah mencari alamat Yuda, ia kini telah sampai didepan rumah megah dengan pintu gerbang yang menjulang tinggi.


"iya ini bener rumah Yuda". gumam Monica melihat rumah Yuda dari sebrang jalan di dalam mobilnya


segera Monica turun dari mobilnya menuju gerbang rumah Yuda, didepan gerbang Monica berbicara dengan seorang satpam, Monica meminta izin untuk menemui Yuda. tetapi satpam melarangnya karena keadaan Yuda yang tidak bisa di ganggu


"pak apa benar ini kediaman Pratama?". tanya Monica pada seorang satpam yang berdiri di balik pintu gerbang


"iya benar non, Nona ini siapa ya?". tanya pak satpam menatap wajah Monica


"saya Monica pak temannya Yuda, apa bisa saya bertemu dengan Yuda?".tanya lagi Monica


"tidak bisa nona, keadaan Tuan muda sedang tidak bisa di ganggu". seru pak satpam menatap Monica


"saya mohon pak, saya ingin sekali bertemu dengan Yuda. karena dia susah di hubungi pak". ucap Monica memelas kepada Pak satpam


"maaf nona, Tuan muda memang sedang tidak bisa di ganggu". seru pak satpam lagi


mendengar ada keributan di luar membuat mamah Wijaya mencoba keluar ingin tau apa yang sedang terjadi. mamah Wijaya melihat ada seorang gadis yang sedang berbicara dengan pak satpam, dengan memelas


"ada apa ini pak?". tanya mamah Wijaya menuju arah pak satpam


"ini nyonya, gadis ini memaksa bertemu dengan Tuan muda". ucap pak satpam kepada mamah Wijaya


"siapa gadis ini?". tanya mamah Wijaya menatap Monica


"katanya temannya Tuan muda nyonya". ucap pak satlam menjelaskan


"saya Monica Tante, teman baiknya Yuda. saya kesini ingin bertemu dengan Yuda". jelas Monica menatap mata mamah Wijaya berharap di perbolehkan bertemu dengan Yuda


"baik, kamu boleh bertemu dengan Yuda. tapi dengan satu syarat. kamu tidak boleh mengucap nama Risana". ucap mamah Wijaya menjelaskan menatap serius mata Monica


di dalam hati Monica bertanya tanya, "ada apa dengan Yuda? ada apa juga dengan Risana?. kenapa tidak boleh mengucap nama Risana di depan Yuda?".


"buka gerbangnya pak". titah mamah Wijaya berdiri menatap Monica


mendapatkan perintah dari majikannya, pak satpam segera membukakan pintu gerbang yang terkunci rapat itu. setelah terbuka Monica bergegas masuk mengikuti langkah mamah Wijaya.


"ikuti saya". ucap mamah Wijaya berlalu menuju kedalam rumah


Mamah Wijaya terus melangkah kedalam rumah hingga sampai didepan kamar Yuda, perlahan mamah Wijaya membuka pintu kamar Yuda, dan mempersilahkan Monica masuk bertemu dengan Yuda

__ADS_1


kaki Monica perlahan melangkah masuk kedalam kamar Yuda, ia mendapati Yuda tengah terbaring lemas di ranjang tidur. dengan langkah tak percaya Monica berjalan menghampiri Yuda. di dalam hatinya menangis bertanya tanya kenapa dengan Yuda?


"Tante, Yuda kenapa?". tanya Monica dengan tangisan


"sejak kemarin Yuda seperti ini setelah semalaman tidak pulang, ia mabuk berat hingga tak sadarkan diri. keesokan harinya dia hanya melamun, pandangannya kosong setiap mamah tanya siapa Risana, dia akan menangis. Tante bingung dia kenapa, Tante sudah panggil dokter spesialis saraf, juga sudah panggil psikolog, namun belum ada perubahan". ucap mamah Wijaya dengan wajah yang begitu sedih


"apa kamu kenal dengan Risana?". tanya mamah Wijaya menatap Monica penuh harap


"eemm tidak kenal Tante". ucap Monica berbohong


Monica takut jika dia bilang kenal Risana, mamah Wijaya akan menyuruhnya menemui Risana dan akan mempertemukan antara Yuda dan Risana. menurut Monica ini lah kesempatan mendekati Yuda dan juga mamahnya


"Monic, Yuda sangat susah makan, setiap harinya hanya minum. itupun kalo dia mau. Tante sangat khawatir, sudah tiga hari dia seperti ini". ucap mamah Wijaya sedih melihat kearah Yuda


"Risana bikin ulah lagi, pasti karena kejadian kemarin Yuda jadi gini. pasti dia sangat terpukul karena penghianatan Risana, Yud, aku akan ada untuk kamu Yud. hingga kamu bisa membuka hati untuk ku". gumam dalam hati Monica melihat Yuda yang masih terbaring lemah


Monica mencoba melangkah mendekati Yuda, membelai wajah Yuda dengan lembut. ia menatap wajah Yuda yang pucat, tubuhnya lemah. tau akan sentuhan tangan seseorang, Yuda mulai membuka matanya, melihat kearah Monica. perlahan Yuda bertanya kepada Monica


"kamu ngapain disini Nic". tanya Yuda lirih menatap mata Monica


"aku nemenin kamu Yud, kamu kenapa nggak kerumah sakit?. dari kemarin aku cari kamu". tanya Monica memegang tangan Yuda


"aku dirumah Nic, aku sakit". ucap Yuda lirih menatap sekeliling


"kamu makan dulu ya, aku suapin". ucap Monica membujuk


"nggak Nic, aku lagi nggak pengen makan". ucap Yuda menolak


"kalo gitu, kita jalan jalan keluar yuk, kita cari udara segar". ucap Monica membujuk dengan senyumnya di iringi anggukan dari Yuda


"ayo aku bantu". ucap Monica membantu Yuda bangun dari ranjang tidur


Yuda hanya menurut dengan semua ucapan Monica, tangan Monica menggandeng tangan Yuda, mencoba membantu Yuda berjalan menyangga lengannya agar tak terjatuh.


"kita ketaman dekat sini aja ya". ucap Monica berjalan memeluk lengan Yuda


"duduk pelan pelan Yud". ucap Monica membantu Yuda duduk di sebuah kursi di taman


Monica juga duduk di samping Yuda, memeluk tubuh Yuda dengan erat. ia sangat bahagia bisa dekat lagi dengan Yuda, di bibirnya terlihat senyum indah mengembang


"Nic, kamu percaya cinta sejati?". tanya Yuda memandang jauh kedepan


"percaya, memangnya kenapa?". tanya Monica mendongakkan wajahnya ke arah Yuda


"jika kamu memiliki sebuah pilihan, antara harus menyelamatkan sahabat baik mu atau kekasihmu yang sangat kamu cintai, dan disaat itu mereka sama sama tenggelam. maka, mana yang akan kamu selamatkan lebih dulu?". tanya Yuda masih menatap jauh kedepan


"eemmm, aku nggak tau Yud. itu pilihan yang sulit. mungkin aku akan menyelamatkan kekasihku dulu karena aku sangat mencintai nya". ucap Monica masih memeluk Yuda erat


"berarti kamu lebih mengutamakan kebahagiaan kamu sendiri Nic, kamu beda dengan Risana. jawaban dia adalah lebih menyelamatkan sahabatnya, karena sahabat lebih utama. dan ternyata benar, dia meninggalkan ku demi kebahagiaan sahabatnya". gumam dalam hati dokter Yuda mengingat lagi Risana


"kenapa diam Yud?". tanya Monica melihat wajah Yuda


"ya kamu benar Nic, jika kita mencintai seseorang, maka kita harus memperjuangkan nya". ucap Yuda tanpa menatap Monica


"kita pulang yuk Yud, kita makan siang dulu". ucap Monica membujuk agar Yuda mau makan


kemudian Monica membantu Yuda berdiri dari duduknya, mereka berjalan bergandengan menyusuri jalan, tak lama mereka sampai di rumah Yuda. mamah Wijaya yang tau Yuda tak lagi murung berinisiatif agar Monica berkunjung setiap hari kerumah Yuda


agar Yuda mempunyai teman ngobrol dan semangat lagi menjalani hidup.


****


malamnya, Risana sudah siap siap untuk pulang kerumah. nampak Mbak Anik sibuk memasukan barang barang milik Risana kedalam tas, sedangkan Bima mengurusi administrasi Risana.


setelah semua siap, Bima segera kembali ke kamar inap Risana. membantu mbam Anik menyiapkan semuanya, meskipun Risana sudah boleh pulang, namun di wajah Bima terlihat seperti banyak beban.


di fikirannya memikirkan Nafisa yang sakitnya sudah mulai parah. di kamar inap Risana Bima hanya melamun seperti banyak fikiran, tau suaminya hanya duduk berdiam diri. Risana mencoba menghibur Bima.


"mas, lihat deh, ini anak kita". ucap Risana memegang foto hasil USG kandungannya

__ADS_1


"mana sayang?". tanya Bima berjalan mendekat kearah Risana yang duduk di atas ranjang pasien


"ini anak kita mas, umurnya baru 8 minggu". ucap Risana bahagia menatap wajah Bima


"adek, sehat sehat ya didalam perut Umi, nanti kalo udah besar main sama Abah, sama Umi Nafisa sama Umi Risa juga". ucap Bima berbicara di depan perut Risana


Bima nampak bahagia meskipun awalnya ia nampak sedih karena memikirkan Nafisa. Risana juga nampak tersenyum bahagia, puas menciumi perut istrinya, kemudian Bima beranjak dari duduknya meminta Risana untuk segera pulang, karena khawatir dengan keadaan Nafisa


"sayang kita pulang ya, semuanya udah siap. kamu duduk di kursi roda, sini biar mas bantu". ucap Bima membantu Risana turun dari ranjang lalu duduk di kursi roda


sepanjang perjalanan pulang kerumah, Bima lebih banyak diam dan fokus menatap kedepan. padahal biasanya Bima selalu mengajak ngobrol Risana meskipun sedang berkendara.


Risana tak tau apa yang sebenarnya suaminya pikirkan, sesekali ia menatap kearah Bima yang hanya diam. Risana mulai menerka nerka apa Bima tidak bahagia dirinya pulang?


Risana ingin sekali bertanya, namun ia takut jika Bima merasa terganggu. lama perjalanan, akhirnya Bima dan Risana sudah sampai di pelataran rumah.


dengan hati hati Bima menggendong Risana menuju kekamarnya. menaiki anak tangga satu persatu diikuti mbak Anik di belakangnya.


di dalam kamar Nafisa, ia mendengar suara mobil Bima datang, ia mencoba mengintip dari balik jendela melihat Bima tengah menggendong Risana masuk kedalam rumah


Nafisa hanya diam, lalu ia duduk di tepi ranjang memikirkan Bima dan Risana. Nafisa ikut bahagia atas kepulangan Risana dari rumah sakit.


sesampainya di kamar, Bima dengan hati hati merebahkan tubuh Risana di atas ranjang.


"ini barangnya di taruh mana Tuan?". tanya Mbak Anik menatap Bima dengan tas besar di tangannya


"yang obat taruh di meja sana mbak. yang pakaian di taruh di belakang ya". ucap Bima menjelaskan


"saya permisi kebelakang dulu Tuan, Nona". ucap mbak Anik berlalu meninggalkan kamar Risana


"sayang, kamu istirahat. jangan tidur malem malem. aku mau kebawah dulu. ya...". ucap Bima mengudsap lembut rambut Risana


"pasti mau ke kamar mbak Nafisa". ucap dalam hati Risana menebak


"disini aja mas, temenin aku. kan aku masih sakit". ucap manja Risana menahan Bima agar tetap bersamanya


"nanti mas kesini lagi. mas mau kebawah sebentar aja.. ya...". ucap Bima memelas menatap mata Risana


"hhmm ya. ya udah, aku mau tidur aja". ucap Risana sedikit marah


"maaf ya sayang". ucap Bima memelas menatap wajah Risana


"selamat tidur". ucap Bima lalu mencium kening Risana


setelahnya Bima segera keluar dari kamar Risana menuju kekamar Nafisa. saat membuka pintu kamar Nafisa, Bima melihat Nafisa tengah duduk di tepi ranjang dengan wajah yang pucat.


Nafisa sedikit kaget saat pintu kamarnya tiba tiba terbuka. padahal di dalam hati Nafisa menerka pasti Bima tidak akan menemuinya karena Risana sedang sakit.


namun dugaan itu salah, ternyata Bima datang kekamar Nafisa, memeluk dan mencium kening Nafisa mendekap erat, Bima juga meminta maaf karena jarang ada waktu untuk dirinya.


"Umi. maafin Abi Umi. sekarang jarang ada waktu buat Umi". ucap Bima duduk di samping Nafisa


Bima memeluk tubuh Nafisa dengan erat, ia takut jika dirinya menjadi suami yang dzolim kepada istrinya sendiri, padahal selama ini Nafisa juga sakit. namun dirinya malah lebih mengutamakan Risana


melihat sikap Bima seperti itu membuat Nafisa merasa aneh, Nafisa malah bingung ada apa sebenarnya dengan suaminya


"Umi sudah minum vitamin?".tanya Bima masih memeluk Nafisa


"udah Abi, Risana bagaimana Abi?. apa sudah benar benar sehat?". tanya Nafisa lirih di pelukan suaminya


"sudah Umi, tinggal rawat jalan". ucap Bima melepaskan pelukannya


"Umi, apa kata dokter soal sakit Umi?". Tanya Bima memegang kedua bahu Nafisa


"alhamdulillah, sebagian sel kankernya sudah mati. minggu depan Uminsudah bisa kemo lagi". ucap Nafisa menatap mata Bima serius


"Alhamdulillah, sekarang, Umi istirahat. di temenin Abi, Abi di sini tidur bareng Umi". ucap Bima masih menatap Nafisa


Nafisa hanya mengangguk membaringkan tubuhnya di ranjang, di temani Bima di sampingnya, memeluk Nafisa hingga terlelap

__ADS_1


__ADS_2