
"jangan sesali keputusan ku Ris, ini memang salah. tidak seharusnya aku menghukum mu, tapi, kamu sudah membuat ku kehilangan wanita yang sangat berharga di hidup ku". ucap Bima menatap Risana lekat
"beri aku kesempatan mas, maafkan semua kesalahan ku". ucap Risana memohon
"kesalahan yang sudah lalu tidak mungkin bisa di perbaiki Ris, kalau aku hanya berpisah dengan Nafisa, aku bisa terima. tapi, aku kehilangan Nafisa untuk selamanya. dan itu sangat berat untuk ku". ucap Bima
"maksudnya apa ya?. apa jangan jangan mbak Nafisa meninggal?". tanya dalam hati Risana
"hhmm bagus deh, jadi aku nggak usah repot repot nyingkirin dia". gumamnya dalam hati
"maafkan aku mas, itu semua aku lakukan karena aku sangat mencintai mu. aku ingin menjadi satu satunya milik mu mas tanpa ada mbak Nafisa. karena semenjak dia sakit, perhatian mu lebih banyak ke dia. sedangkan aku kamu nomor duakan terus. padahal aku sedang mengandung anak kamu mas, dan butuh perhatian kamu juga". ucap Risana menangis sesenggukan
"aku memang laki laki terbodoh, menaruhkan perasaan dari istri terbaik ku hanya demi kamu ular dalam rumah tangga ku". ucap Bima dengan emosi
"tega kamu mas bilang seperti itu kepada ku. aku memang salah, tpi tidak seharusnya kamu bilang seperti itu". pekik Risana berdiri memaki Bima
"aku akan pulang kerumah mamah. terlalu sakit jika harus bertahan". pekik Risana berlalu meninggalkan Bima
Risana berlari pelan menuju kamarnya, sesekali mengusap pipi nya yang basah karena air mata. sesampainya di kamar Risana mengambil koper lalu memasukkan barang barangnya, kemudian ia memanggil mbak Anik untuk membawakan kopernya kedalam mobil
"dasar jahat, seenaknya bilang seperti itu. aku juga istrinya, apa salah kalo aku ingin memilikinya seutuhnya. lagian mbak Nafisa juga sakit sakitan nggak bisa menalayani, masih aja di bela terus. awas aku nggak mau kembali kalo nggak di bujuk". ucap Risana dengan tangisnya
ia masih menangis tersedu, mengusap perutnya yang besar. meminta maaf karena harus bertengkar dengan Abahnya.
sepanjang perjalanan Risana tak hentinya menangis, meratapi nasib rumah tangganya yang harus berpisah karena ucapan suaminya yang membuat hatinya sakit.
Risana tak menyangka jika Bima akan berucap yang membuat hatinya sakit. padahal Risana selalu menerima jika Bima bersikap tak acuh
sesampainya dirumah mamah, Risana langsung menuju kekamarnya. ia merebahkan dirinya di ranjang tidur, memejamkan mata, merasakan sakit di hatinya.
"pokoknya aku nggak mau pulang kalo mas Bima nggak kesini meminta maaf sama aku". gerutu Risana menatap langit langit kamar
lelah dengan keadaannya Risana mulai memejamkan mata lalu tertidur lelap. saat sore ia terbangun, namun mamahnya belum juga pulang. hanya ada hampa di hatinya, sesekali ia melihat layar handphone berharap Bima mengabarinya
namun, sama sekali tidak ada pesan dari Bima. Risana berjalan keluar, menatap tamannya yang indah penuh bunga. kemudian ia duduk di kursi panjang memikirkan suaminya.
"kenapa kamu nggak ngasih kabar mas. seharusnya kamu ngelarang aku pergi dari rumah. terus memohon agar aku tetap bersama kamu". gumamnya lirih menatap foto Bima
dari arah gerbang nampak mobil mamah Rossa tengah memasuki pelataran. dengan perlahan Risana menghampiri mamahnya yang baru pulang dari kantor
"sayang, Bima mana?". tanya mamah baru turun dari mobil
"aku lagi berantem sama mas Bima mah". ucap manja Risana memeluk mamahnya
"kenapa sayang?. baru hamil besar gini masih aja berantem beranteman". ucap mamah menenangkan Risana
"masak aku di bilang ular dalam rumah tangga nya mah. padahal selama ini yang meminta aku jadi istrinya kan mbak Nafisa sendiri". ucap Risana sambil menangis
"ayo masuk dulu Ris. tenagin dulu pikiran kamu ya. kasian anak kamu nanti". ucap mamah mengajak masuk kedalam rumah
__ADS_1
sesampainya di meja makan, Risana diambilkan minum mamah Rossa. lalu menceritakan apa yang di alaminya bersama Bima
"Ris, jujur sama mamah. nggak mungkin Bima tiba tiba bilang seperti itu sama kamu, kalau tidak ada penyebabnya. apa yang sudah kamu lakukan sampai Bima semarah itu sama kamu". ucap mamah Rossa menatap Risana lekat
"aku ngusir mbak Nafisa mah karena aku ingin menjadi istri satu satunya, udah lima bulan yang lalu. itu aku lakuin juga karena mas Bima perhatiannya cuma sama mbak Nafisa, padahal aku juga butuh perhatian mas Bima mah. apalagi aku lagi hamil anaknya". ucap Risana merengek
"Ris, apa yang kamu lakukan itu salah. mamah tau kamu cinta sama Bima, begitupun Bima, dia juga mencintai kamu. tapi disini kita lihat keadaan Nafisa, dia sedang sakit keras. maklum kalau Bima lebih perhatian sama Nafisa. dia cinta pertama Bima, wanita yang sudah setia menemaninya disaat suka maupun duka. mamah sudah pernah bilang sama kamu, sebelum menikah dengan Bima, apa kamu sudah siap jika perhatian Bima terbagi dengan istri pertamanya?".
"Ris, jangan karena cinta kamu jadi lupa segalanya. sebagai seorang istri kamu harus patuh sama suami kamu". imbuh mamah Rossa
"tapi aku terlanjur sakit dengan ucapan mas Bima mah". ucap Risana
"wajar kalau Bima seperti itu. terus Nafisa sekarang dimana?". tanya mamah penasaran
"mbak Nafisa sudah meninggal mah. tapi nggak tau kapan. soalnya kemarin mas Bima nggak pulang, terus kita berantem". ucap Risana
"Innalillahi ya Allah. Nafisa meninggal?".
"kamu harus minta maaf sama orang tuanya Nafisa Ris. kasihan Nafisa, kasihan di alam kuburnya". ucap mamah Rossa
"nggak mau. orang mbak Nafisa emang udah sakit sakitan kog. berarti meninggalnya bukan karena aku". teriak Risana
"sejak kapan ego kamu jadi tinggi begini Ris. mamah kecewa sama kamu". ucap mamah berlalu meninggal kan Risana.
sedangkan Bima hanya tiduran dikamar Nafisa tanpa memperdulikan Risana yang sudah pergi kerumah mamahnya. tanpa mengejar atau menghadang, Bima justru mempersilahkan Risana untuk pergi.
tiga hari telah berlalu, Risana masih saja dengan egonya, ia tidak mau pulang sebelum Bima datang menjemput dan memohon agar Risana mau pulang kerumah lagi.
dengan ego masing masing, pasti rumah tangga mereka tidak akan pernah harmonis. beda dengan Nafisa dulu, selalu bisa patuh dengan Bima dan selalu menjadi penyejuk hati Bima
selama tiga hari di rumah mamah Rossa, Risana hanya tiduran dan bermalas malasan, padahal kehamilannya sudah memasuki usia delapan bulan yang seharusnya banyak bergerak dan olah raga.
itu semua Risana lakukan karena masih sakit hati dengan Bima. ia masih saja berharap Bima mau datang kerumah mamah Rossa dan membujuknya pulang
namun entah mengapa Bima seperti enggan menuruti permintaan Risana sekarang. ia lebih memilih fokus menyiapkan materi untuk ujian anak didiknya di sekolahan
dengan perasaan kesal Risana terus saja melihat layar handphone nya. Risana masih saja menunggu pesan dari Bima yang sudah tiga hari tanpa kabar.
"mas, ini sudah tiga hari kita pisah. apa kamu nggak kangen sama aku dan anak kita mas?. kenapa sifat kamu jadi keras gini, padahal aku pergi suapaya kamu ngelarang aku terus aku bisa manja sama kamu". gumamnya sambil mengelus perutnya yang sudah membesar
di rumah mamahnya yang besar ia berjalan menyusuri setiap ruangan. entah mengapa rasa di hatinya ingin kembali kuliah, tertawa bersama teman temannya. menghilangkan risau di hatinya karena rumah tangganya dengan Bima yang sedang tidak baik baik saja
disisi lain, dokter Yuda sudah menemukan cara supaya terlepas dari Monica. diam diam dokter Yuda mendaftarkan dirinya melanjutkan study S2 nya keluar negeri. terkesan jahat memang, namun inilah jalan yang harus dipilih dokter Yuda
memilih pergi dari Monica meskipun pengorbanan Monica banyak untuk dirinya, dan ini salah satu cara supaya ia bisa melupakan Risana, pergi sejauh mungkin lama kembali.
semua data sudah dokter Yuda siapkan, ia memantapkan hatinya pergi meninggalkan negaranya lagi demi melupakan seseorang yang telah melukai hatinya.
setelah semua selesai dokter Yuda kembali ke rumah sakit untuk mengambil berkas berkas pentingnya. kebetulan saat itu Monica meminta dirinya di temani fitting baju pengantin.
__ADS_1
meskipun berat dokter Yuda mengiyakan permintaan Monica. ia segera menuju butik yang sebelumnya mereka sepakati untuk bertemu.
"kamu dimana?". tanya dokter Yuda dalam sambungan telepon
"bentar lagi aku nyampai, tunggu sebentar ya". balas Monica
dokter Yuda mengakhiri telepon nya, ia segera memasuki gedung butik di sambut karyawan yang sudah berdiri di ambang pintu.
"ada yang bisa saya bantu pak?". tanya pelayan butik
"saya sedang menunggu seseorang, sebentar lagi sampai". jawab dokter Yuda
"silahkan pak mari saya antar". ucap pelayan butik mempersilahkan dokter Yuda masuk
dokter Yuda kini duduk di sebuah kursi khusus pelanggan, ia nampak sedikit kesal karena Monica belum juga menampakkan diri.
lama menunggu akhirnya Monica datang juga, ia nampak tergesa gesa takut jika dokter Yuda akan marah. Monica melihat pria idamannya sedang duduk santai di kursi, dengan memakai kemaja putih bergaris merah membuat dokter Yuda semakin terlihat tampan
"maaf Yud, tadi jalanan macet. aku udah cepet cepet kesini malah ada kecelakaan. maaf ya". ucapnya berdiri di depan dokter Yuda
namun dokter Yuda hanya diam tanpa memperhatikan Monica. ia masih saja sibuk dengan ponselnya.
"kamu udah lama Yud disini?". tanya Monica duduk di samping dokter Yuda
"kapan kamu mulai fitting nya?". tanya dokter Yuda
"sebentar aku tanya sama pelayannya dulu". ucap Monica melihat sekeliling
lalu Monica melambaikan tangan kepada salah satu pelayan agar menghampiri dirinya. setelah mengobrol dengan pelayan butik Monica segera keruangan koleksi baju pengantin.
pilihannya tertuju pada kebaya berwarna merah tua yang cantik dan elegan, dan satu lagi berwarna biru muda. saat baju pertama ia memperlihatkan kebaya yang di pakainya di hadapan dokter Yuda.
saat pertama memandang Monica pikiran dokter Yuda kembali ke Risana. ia seolah melihat Risana kembali, dokter Yuda membayangkan jika yang memakai kebaya tersebut adalah Risana
dokter Yuda nampak lama tak berkedip memandang Monica, ia seperti terpesona melihat Monica
"gimana? bagus Yud?". tanya Monica centil di hadapan dokter Yuda
"iya bagus". jawabnya datar lalu memainkan ponselnya kembali
"lihat dulu Yud". pekik Monica kesal
"kan aku udah lihat, emang bagus kog". ucap dokter Yuda
Monica kembali keruang ganti dengam perasaan kesal. saat fitting baju pengantin saja dokter Yuda masih bersikap seperti itu kepada Monica. padahal sejatinya menikah itu dua insan yang menjadi satu, saling melengkapi dan mengisi kekurangan masing masing pasangan
di hati dokter Yuda masih bingung harus berbicara sekarang atau kapan dengan Monica jika dirinya ingin mengakhiri rencana pernikahan yang sama sekali dokter Yuda tidak inginkan.
"besom saja mungkin, aku akan mengajaknya makan malam". batin dalam hati dokter Yuda menatap Monica masuk kedalam ruang ganti
__ADS_1