Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
jadi penolong (24)


__ADS_3

siangnya Bima segera masuk ke kelas untuk mengajar ia terus saja memandangi kursi tempat Risana duduk yang kosong.


"dimana anak itu kenapa tidak masuk kelas?". batin Bima khawatir.


"yol Risana kemana, kenapa tidak ikut kelas?". tanya Bima


"nggak tau pak tadi ngobrol sama monica terus nggak tau dimana". ucap Yola


"kamu udah hubungi dia?". timpalnya lagi


Yola hanya menggeleng "cepat hubungi dia yol".titah Bima sedikit keras.


"tidak tersambung pak".kata Yola khawatir.


"mana nomor dia biar saya telepon pake pulsa".


sebegitu khawatir nya Bima hingga meninggalkan kelas tanpa aba-aba.


ddrrrtttt ddrrrtttt


Risana segera menekan tombol hijau di layar handphone nya.


..."kamu dimana ris".tanya Bima sembari berjalan mengelilingi kampus....


"ini siapa?". jawab Risana


"ini pak Bima. kamu dimana?".


"pak pak saya di gudang kampus pak saya di kunci disini pak tolongin saya pak". oceh Risana berharap Bima segera datang.


"kamu tenang saya segera kesana". Bima segera mengakhiri sambungan telepon dan bergegas menuju gudang kampus.


tak lupa Bima meminta kunci cadangan kepada penjaga kampus.


sesampainya di gudang Bima memastikan apa ada Risana di sana.


"Ris kamu disitu?". tanya Bima


"iya pak cepet pak bukain saya takut pak". teriak Risana ketakutan.


dengan cepat Bima memasukkan kunci dan membuka pintunya, Risana yang sangat ketakutan tanpa sengaja memeluk Bima yang sudah menolongnya dengan tangisan lirih yang membuat Bima merasa kasihan.

__ADS_1


"Ris udah tenang dulu". ucapnya dengan melepaskan pelukan Risana.


"ayo kita ke ruangan dosen biar saya bicarakan kelakuan Monica sama kamu ke ketua yayasan".


Risana mengikuti Bima melangkah hatinya sedikit lega meskipun sebenarnya sangat ketakutan dengan situasi yang di hadapi nya Sekarang, situasi dimana ia di musuhi sebagian mahasiswi karena menjadi tunangan pak Bima.


selesai mediasi dengan pihak yayasan dan orang tua Monica di sepakati Monica mendapat skorsing selama 3 hari meskipun Risana sudah memaafkan Monica.


***


hari ini jadwal rutin Nafisa kontrol ke rumah sakit, entah kenapa kista di rahim Nafisa semakin membesar meskipun ia sudah melakukan berbagai pengobatan. Nafisa hanya bisa pasrah dan berserah diri kepada Allah. ia hanya berharap bisa di temani Bima saat-saat terendah nya.


Nafisa berfikir untuk memajukan acara pernikahan Bima dan Risana, ia takut jika nanti ia pergi Bima akan sangat sedih karena kehilangan nya.


"Abi Sabtu malam umi mau kita silaturahmi ke rumah Risana sekalian membicarakan hari pernikahan kalian". ucap Risana di sambungan telepon.


"kenapa buru-buru umi, bukannya kesepakatan kita akhir tahun baru melaksanakan akad?". tanya Bima.


"lebih baik di segerakan kan Abi, biar tidak menimbulkan fitnah, soalnya kan Abi sama Risana satu kampus. takutnya menimbulkan fitnah". jelas Nafisa.


selesai mengakhiri percakapan Bima melanjutkan mengajarnya, sedangkan Nafisa berderai air mata merasakan sakit di perutnya dan di hatinya.


"aku harus kuat ya Allah, aku harus bertahan demi mas Bima, aku mau melihat mas Bima bahagia". ucap lirihnya mengiringi air mata yang berjatuhan.


"nyonya makan dulu ya". kata bik Sumi meletakkan nampan berisi nasi dan segelas air.


"iya Bik". ucap Nafisa mencoba duduk dengan di bantu Bik Sumi.


"bik obat saya ada di dalam tas di atas meja rias, tolong ambilkan ya". titah Nafisa


"banyak sekali nyonya obatnya, untuk yang siang ini minum yang mana?". tanya Bik Sumi


segera Nafisa menunjukkan obat yang harus di minumnya. bik Sumi dengan telaten menyuapi Nafisa sesuap demi suap lalu memberikan obat Nafisa.


"nyonya minum obatnya ya terus tidur, bibik mau beres-beres di dapur dulu". ucap Bik Sumi membantu Nafisa berbaring.


bagi Nafisa Bik Sumi sudah seperti ibunya sendiri Bik Sumi sudah bekerja dengan Nafisa selama 7 tahun lamanya.


sore tiba mobil Bima sudah terparkir di halaman rumah segera ia masuk ke rumah dan membersihkan diri.


bik Sumi yang melihat Bima sudah pulang ingin memberitahu tentang kondisi Nafisa.

__ADS_1


"tuan saya ingin bicara mengenai nyonya". ucap Bik Sumi menghentikan langkah Bima.


"kenapa Nafisa Bik?". tanya Bima.


"keadaan nyonya semakin memburuk tuan, keadaannya sekarang sangat lemah seharian hanya tiduran tidak bisa beraktivitas sama sekali". jelas Bik Sumi.


"tadi Nafisa sudah makan Bik?".


"sudah tuan".


"saya lihat kondisi Nafisa dulu ya Bik".


"iya tuan".


Bima bergegas ke kamar perasaan nya harap-harap cemas memikirkan kondisi Nafisa. sesampainya di kamar Bima segera menghampiri Nafisa.


"umi, umi kenapa?". tanya Bima sangat lembut.


bukannya menjawab Nafisa malah menangis yang membuat Bima menjadi bingung.


"umi jangan nangis ya, umi cerita sama Abi umi kenapa". tanya Bima yang terus menciumi kening Nafisa.


"badan umi sangat lemas bi, perut umi sakit sekali". ucap Nafisa menahan sakitnya.


"kita ke dokter ya, biar di periksa lagi keadaan umi".


"nggak usah bi tadi udah kontrol ke rumah sakit".


"terus kata dokter gimana?".


"hasil kontrol nya ada di dalam tas di atas meja rias".


Bima terbangun dari duduknya diambilnya segera tas dan membukanya, dilihatnya amplop berwarna putih bertuliskan logo rumah sakit perlahan Bima mengambil amplop itu dan membuka isinya.


matanya mulai membaca setiap huruf di kertas itu matanya tercengang melihat hasil laboratorium yang mengatakan kista di rahim istrinya semakin membesar dan perlu tindakan operasi.


seketika badan Bima lemas wajahnya tak kalah pucat dari Nafisa, Bima meratapi nasib istrinya yang begitu pilu dengan langkah gontai ia menghampiri Nafisa segera memeluk dan menciuminya.


"Abi pengen yang terbaik buat umi, umi harus operasi ya biar sembuh". ucap Bima berurai air mata.


"kata dokter umi harus sehat dulu baru nanti di operasi". ucap Nafisa lirih.

__ADS_1


"besok Abah suruh kesini ya, kita kerumah Risana". timpalnya lagi.


"umi nggak usah mikirin itu yang terpenting umi sehat dulu ya". ucap Bima yang terus saja memeluk istrinya.


__ADS_2