
Bima duduk di bawah di samping kursi roda Nafisa, ia menatap jauh ke laut lepas. begitupun Nafisa, ia menatap jauh ke laut lepas memandang lautan yang begitu indah, tempat di mana mereka pertama kali pergi bersama
Bima teringat pernah membelikan Nafisa satu buah kelapa muda lalu dinikmati bersama. betapa bahagianya mereka saat itu, meskipun tanpa ikatan tapi mereka saling percaya jika masing masing memiliki cinta yang kuat.
"Umi, tunggu sebentar disini ya, Abi mau kesana dulu". ucap Bima menatap Nafisa
setelah beberapa saat, Bima datang membawa satu buah kelapa muda untuk Nafisa. lalu duduk disamping Nafisa lagi. ia menatap jam di tangan kirinya, sudah menunjukkan pukul 14.00, hanya ada waktu dua jam lagi
"Umi, Umi ingat pertama kali kita kesini? Abi ngasih Umi kelapa muda, terus kita menikmati berdua. kita ulang lagi ya". ucap Bima menatap Nafisa dengan senyumnya
saat akan duduk, tiba tiba handphone Bima berbunyi. segera ia lihat ternyata telepon dari Risana, nampak Bima melihat mata Nafisa seakan tak ingin Nafisa tahu jika yang menghubungi adalah Risana
"dari siapa mas?". tanya Nafisa menatap Bima
"Abi angkat sebentar ya". ucap Bima berjalan menjauh dari Nafisa
Bima nampak serius mengobrol, Nafisa tahu pasti telepon itu dari Risana karena gelagat Bima yang aneh. setelah selesai menerima telepon, Bima kembali ketempat Nafisa berada. lalu menikmati kelapa muda yang ia suapkan untuk Nafisa
"Risana bagaimana keadaannya mas?". tanya Nafisa
"dia baik". ucap Bima masih sibuk dengan kelapa muda
"semoga kamu bahagia ya dengan keluarga baru mu nanti. aku ikutan seneng mas". ucap Nafisa dengan senyuman
mendengar ucapan Nafisa yang menusuk hatinya, ia menghentikan aktivitas nya dengan pandangan berfikir.
"kamu juga, semoga bahagia dengan Noval. aku lihat dia sangat perhatian dengan mu". ucap Bima sedikit kesal
"iya, dia memang orangnya baik". ucap Nafisa mengingat dokter Noval
"Ayah juga sepertinya suka dengannya. kamu menikah saja nanti dengan Noval, dia cocok dengan mu". ucap Bima berdiri tanpa memandang Nafisa lalu pergi
Nafisa hanya memandang Bima yang semakin menjauh, dalam hatinya juga sakit. kenapa Bima harus membahas Noval, padahal hingga hari ini hanya ada Bima di hatinya.
__ADS_1
melihat Bima sudah jauh Nafisa mencoba berdiri, ia melangkah sangat pelan dengan kaki yang bengkak. dengan keadaannya yang tak memungkinkan, Nafisa terjatuh dengan teriakan kecilnya
seketika Bima melihat ke arah Nafisa yang berteriak, Bima panik melihat Nafisa jatuh. Bima berlari menuju arah Nafisa, lalu membantunya berdiri.
namun di wajah Bima masih nampak marah, ia seakan tidak rela jika Nafisa dimiliki orang lain, meskipun sebentar lagi mereka resmi bercerai.
"kita pulang saja, sudah hampir sore. nanti Ayah marah". ucap Bima datar mendorong kursi roda Nafisa
sepanjang perjalanan Bima hanya diam fokus dengan kemudinya, ia seakan tak memperdulikan Nafisa yang dari tadi melihat kearahnya. di dalam hati Nafisa bertanya tanya, apa sebenarnya yang ada di fikiran Bima. kenapa dia sangat marah padahal sebentar lagi mereka resmi bercerai.
sesampainya di rumah Ayah, Bima segera membantu Nafisa turun dari mobil, masih dengan wajahnya yang marah. nampak di depan rumah sudah ada Bunda yang menyambut kedatangan Nafisa dan Bima.
"gimana sayang?. seneng?". tanya Bunda tersenyum dengan Nafisa
"iya Bun". jawab Nafisa dengan senyum
merasa tak di perlukan lagi Bima pamit mengundurkan diri. ia berpamitan dengan Bunda dan Nafisa. saat akan masuk mobil Nafisa mengingatkan jika besok Bima masih harus menemuinya. karena besok masih ada satu tempat lagi yang akan di kunjungi
"mas, besok kamu kesini lagi. masih ada tempat yang harus di kunjungi". ucap Nafisa menatap Bima di samping mobilnya
sepanjang perjalan Bima menangis, ia tak rela jika harus berpisah dari Nafisa. ia sangat sangat masih mencintai Nafisa, kali ini Bima frustasi. ia ingat dokter Noval, di hatinya ada rasa sedikit benci, menurui Bima karena dokter Noval sekarang dirinya akan kehilangan Nafisa.
sedangkan Nafisa berada di kamarnya sedang istirahat. ia tersenyum bahagia karena bisa bersama Bima, di ranjangnya Nafisa menulis suratnya lagi. ia mengatakan jika hatinya sangat bahagia, berterimakasih karena mau meluangkan waktu Bima untuk menemaninya seharian.
Nafisa menceritakan masa bersama Bima saat masih kuliah. menuliskan betapa bahagia nya saat itu, dengan perhatian kecil Bima hingga mampu membuat hati Nafisa luluh. meskipun saat itu mereka belum ada status.
di tengah tengah menulis surat, tiba tiba perut Nafisa terasa kram lagi. Nafisa segera memasukkan suratnya dalam laci meja, takut jika Bunda tahu. Nafisa lalu berbaring memandang langit langit kamarnya, ia seakan takut jika tidak bisa lagi melihat senyum Ayah dan Bunda nya.
malamnya Bima baru sampai di rumah, ia berjalan pelan kekamar Risana. saat masuk kamar di dapati Risana sedang duduk di ranjangnya sambil bermain handphone. tahu Bima sudah pulang, Risana segera melempar pertanyaan untuk Bima
"mas sudah pulang". ucap Risana
"sudah makan belum mas?". tanya lagi Risana turun dari ranjangnya
__ADS_1
"belum Ris". ucap Bima membuka baju nya
"aku siapkan makan ya, mas mandi dulu". ucap Risana di depan Bima
"iya sayang". ucap Bima lalu mencium kening Risana
saat di meja makan wajah Bima terlihat seperti orang yang banyak pikiran. Risana melihat akan hal itu, untuk itu Risana enggan bertanya aneh aneh, apalagi mengenai saat Bima bersama Nafisa.
Risana hanya diam, memperhatikan wajah Bima. namun tetap saja hatinya takut jika Bima akan rujuk kembali dengan Nafisa. dan di pikirannya sekarang masih bertanya tanya apa yang di lakukan bersama Nafisa seharian.
***
paginya Bima segera berangkat lagi menemui Nafisa, meskipun masih marah tapi Bima mencoba menata hatinya karena kasihan dengan Nafisa yang sedang sakit.
sesampainya di rumah Ayah, Bima melihat sudah ada Nafisa di depan rumah di temani Bunda. segera Bima turun dari mobil berjalan kearah Nafisa
"sudah siap Umi?". tanya Bima di depan Bunda dan Nafisa
Nafisa hanya mengangguk, lalu ia di bantu Bima masuk kedalam mobilnya.
"Bim, jaga Nafisa ya. jangan terlalu capek". ucap Bunda berpesan kepada Bima
"baik Bun, aku berangkat dulu ya. assalamualaikum". ucap Bima bersalaman dengan Bunda
"wa'alikumsalam". ucap Bunda menatap Bima masuk kedalam mobilnya
Bunda masih memandang mobil Bima hingga jauh tak terlihat, hati Bunda juga sedih, meratapi keadaan Nafisa. entah mengapa Bunda merasa jika Nafisa akan pergi jauh, meninggalkan semuanya.
perlahan Bunda berjalan kekamar Nafisa untuk menenagkan hati dan pikiran Bunda. nampak Bunda duduk di tepi ranjang dengan air mata yang menetes.
saat Bunda melihat sekeliling kamar, Bunda melihat ada kertas terselip di laci meja. segera Bunda membuka laci itu dan mengambil kertasnya.
Bunda melihat ada banyak tumpukan kertas yang tertata tapi, kemudian Bunda mengambil semua kertas itu dan di baca satu persatu. ternyata kertas tersebut berisi surat untuk Bima dari Nafisa.
__ADS_1
hati Bunda kian hancur saat tahu semua yang Nafisa alami saat bersama Bima dan Risana. Bunda merasa tak tahan, lalu mengembalikan surat surat itu kedalam laci meja lagi.