Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
jangan panggil bapak (38)


__ADS_3

Risana beranjak dari tempat tidur nya menuju pintu kamar lalu menutup nya. Risana kembali membaringkan tubuhnya di atas ranjang memikirkan perlakuan Bima kenapa bisa Semarah itu melihat dirinya dan Zian berpelukan.


"kenapa pak Bima Semarah itu? bukannya aku nggak pernah di anggap ya". gumam Risana memikirkan sikap Bima


"tapi siapa ya yang video in aku sama Zian, haduh bikin tambah masalah aja sih. tambah lagi kan beban pikiran ku". gumamnya lagi dengan nada pasrah.


malam tiba saatnya makan malam Nafisa dan Bima terlebih dulu duduk di meja makan menunggu Risana bergabung dengan mereka. dengan langkah gontai Risana berjalan ke arah meja makan. hatinya masih bingung dengan sikap Bima yang kadang berubah dan rasanya masih enggan bertemu dengan Bima.


"Ris ayo duduk". pinta Nafisa melihat Risana berjalan mendekat.


"Ris kenapa tadi tidak ikut sholat berjamaah?". tanya Nafisa


"eemm tadi agak nggak enak badan mbak". jawab Risana menundukkan wajahnya


"tadi mbak juga denger mas Bima teriak di kamar kamu, ada apa Ris?". tanya Nafisa menekan. Risana hanya terdiam menunduk


"Abi, jawab ada apa?". apa kalian sedang berantem?". tanya lagi Nafisa dengan lembut.


"tanya sama Risana sendiri". jawab Bima cuek


"haduh .... kalian ini kenapa sebenarnya. Ris jawab pertanyaan mbak ya". ucap Nafisa lagi

__ADS_1


"nggak ada apa-apa mbak, cuma salah paham". Jawab Risana sedikit berbohong. lalu melanjutkan makan.


Nafisa sebenarnya ingin tahu apa yang terjadi dengan Bima dan Risana, kenapa Bima bisa seagresif itu menciumi Risana. Nafisa tau dan Nafisa melihat sendiri semuanya. saat itu Nafisa ingin melihat ke kamar Risana karena mendengar Bima berteriak keras marah kepada Risana. tapi Nafisa terhenti melihat adegan Bima menciumi Risana dengan agresif seketika Nafisa berbalik badan dan kembali ke kamarnya mencoba menenangkan hatinya.


*****


hari mulai pagi lagi hari ini Risana ada jadwal kuliah pagi ia segera bersiap-siap untuk berangkat ke kampus. sesampainya di kampus semua mata mahasiswa melihat aneh ke arah Risana. Risana mulai gelisah "ada apa sebenarnya kenapa semua menatap aku aneh gitu? ".


sesampainya di kelas Risana segera menghampiri yola. Yola sedang duduk di kursi memainkan gadgetnya.


"yol anak-anak kenapa sih liatin aku kayak gitu". tanya Risana heran sembari duduk di kursinya


"siapa yang nyebarin sih, jahat banget". ucap Risana dengan muka yang khawatir.


"tolong Ris jelasin yang sebenarnya, kamu nggak ada apa-apa kan sama Zian". tanya yola intens


"gila kamu yol, emangnya aku ada tampang tukang selingkuh apa?". ucap Risana mendengus kesal.


"ya kali aja kamu khilaf ". ucap yola menggoda.


"soalnya kan Zian idola kampus juga, ganteng, kaya, romantis lagi. coba aja kalo aku yang Deket sama Zian udah pasti aku terima". ucap yola dengan tawa cekikikan.

__ADS_1


"hhhhhh kamu itu ya". ucap Risana menggelengkan kepalanya.


"terus kejadian yang sebenarnya kayak gimana Ris?". tanya yola masih penasaran.


"ya kemarin kan monica abis ngata-ngatain aku terus aku nangis di taman belakang. eh di samperin sama Zian terus di peluk". ucap Risana menjelaskan


"tapi aku terus nolak". imbuhnya lagi.


setelah mata kuliah selesai Risana mengajak Yola ke perpustakaan kampus untuk referensi tugas dari Bima. setelah petang baru pulang kerumah karena malas bertemu Bima.


malam Risana baru sampai di rumah ia segera masuk kedalam saat menutup pintu rumah ia di kejutkan dengan keberadaan Bima di belakangnya.


"ehem ". Bima berdehem keras membuat Risana kaget.


"pak Bima". ucap Risana pelan membalikan badan.


"kenapa jam segini baru pulang". tanya Bima pelan.


"tadi aku di perpus pak ngerjain tugas dari bapak, aku nggak kemana-mana kog beneran". ucap Risana menyakinkan.


"jangan panggil saya bapak, panggil mas seperti Nafisa. kalo di lingkungan kampus baru panggil bapak. dan mulai besok kalau mau pulang telat harus menghubungi saya, harus ijin dulu sama saya". ucap Bima berlalu meninggalkan Risana.

__ADS_1


__ADS_2