
setelah beberapa hari menyelidiki tentang Risana akhirnya menemukan jawaban. seseorang mengirim pesan serta gambar tentang Risana. Nafisa mulai membaca satu persatu, mengamati gambar satu dan lainnya. ia sedikit terharu matanya berkaca-kaca.
"ternyata nasib kamu sama seperti mas Bima Ris, sama-sama anak yatim. sama-sama anak tunggal. tapi kamu beruntung menjadi anak yatim yang kaya raya, punya perusahaan konveksi sukses". gumam dalam hati Nafisa. tangannya terus menscroll layar handphone nya.
Nafisa tak menyangka jika Risana adalah pewaris tunggal SUNOTO GARMEN. sebuah perusahaan konveksi yang berjaya di era sekarang. tapi Risana begitu sederhana tak pernah memperlihatkan kekayaannya, tak pernah sombong dengan apa yang dimilikinya.
ia terus saja menatap layar handphone nya, di rasa kan perutnya mulai sakit, tapi kali ini Nafisa bisa sedikit menahannya.
"ya Allah sakit sekali, sampai kapan aku harus begini. kamu harus kuat Nafisa kamu pasti bisa". Nafisa bermonolog dengan dirinya sendiri.
ia segera menghubungi pegawainya untuk membelikan obat di apotik. setelah mendapat instruksi dari Nafisa, pegawainya segera berangkat ke apotek.
sambil menunggu pegawainya membeli obat, Nafisa tiduran di sofa ruang kantor, ia terus saja memegangi perutnya. fikiranya mulai kemana-mana dia ingat Bima ingat bundanya ingat mertuanya. mereka orang-orang yang sangat berarti di hidup Nafisa, ia tidak ingin menjadi beban di keluarganya. air matanya mulai menetes membasahi pipi lembutnya.
__ADS_1
"mas Bima harus punya keturunan, harus ada penerusnya. tapi aku malah nggak bisa ngasih dia anak, bunda juga berharap sekali punya cucu, Abah juga". Nafisa berbicara dengan dirinya sendiri ia meratapi kehidupannya yang di lihat begitu sempurna, tapi dalam kenyataannya ia wanita yang tak sempurna.
setelah beberapa lama pegawainya datang membawakan obat. lalu membantu Nafisa untuk duduk.
"buk ini obatnya di minum ya, ibuk jangan kecapekan". kata pegawai sambil membukakan obat
Nafisa segera meminum obatnya. lalu pegawainya pamit dari hadapan Nafisa.
Nafisa mulai memikirkan Risana lagi. "aku inget Risana pernah bilang kalau dia mau jadi istri kedua mas Bima. apa aku jodohkan mereka saja ya. biar mas Bima punya keturunan". gumamnya lagi
"iya aku jodohkan saja mas Bima dengan Risana, semoga mereka bisa cocok dan semoga mas Bima mau ngerti perasaan ku ini". gumam Nafisa sambil menitikkan air mata.
__ADS_1
waktu sudah menunjukkan pukul 02.33 Nafisa terbangun dari tidurnya. di dapatinya suaminya tengah terlelap. ia memandangi seksama wajah suaminya .
"Abi maafkan umi yang tak lagi sempurna untuk Abi, maafkan umi yang nggak bisa ngasih Abi keturunan. maafkan semua atas kekurangan umi".Nafisa mengecup kening suaminya sesekali Nafisa mengusap wajahnya yang basah karena air mata. Nafisa memang wanita cengeng apalagi urusan perasaan ia akan terus mengeluarkan air matanya.
ia pun memeluk suaminya yang tertidur lelap. setelah hatinya agak tenang Nafisa beranjak dari tempat tidur lalu mengambil air wudhu dan melakukan sholat tahajud.
mendengar Nafisa melantunkan ayat suci Alquran membuat Bima terbangun dari tidurnya. Bima segera duduk di usapnya ke dua matanya dilihatnya sudah jam 4 subuh.
"Abi sudah bangun". kata Nafisa sambil tersenyum.
"maaf umi, Abi kecapekan sekarang malah jarang tahajud bareng umi". ucap Bima dan beranjak dari tempat tidur.
"Abi ambil air wudhu dulu gih terus kita subuhan". pinta Nafisa menatap wajah Bima
__ADS_1
"baik istri ku tercinta". kata Bima sambil keluar dari kamar.