
sesaat Bima menatap ke arah Risana mata mereka saling memandang. suasana kelas begitu hening seakan mengisyaratkan dua manusia tengah beradu rasa. Risana yang malu dengan tatapan mata Bima seketika menundukkan wajahnya. pipinya mulai merah merona jantungnya berdetak tak beraturan seperti bom waktu yang siap meledak.
"haduh jantung ku". batin Risana sambil memegang dadanya.
Yola yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya tersenyum sendiri dan menggelengkan kepala.
dengan seksama Risana mendengarkan penjelasan Bima di depan kelas. Risana yang tengah merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya membuatnya tidak bisa menahan diri. terus saja dia memandangi wajah Bima yang sesekali menatapnya.
dua insan manusia ini sama-sama di buat bingung dengan perasaan masing-masing. sadar akan tatapan Risana yang tak biasa dengan segera Bima menyelesaikan tugas nya.
bel sudah berbunyi menandakan mata kuliah telah berakhir. Bima segera beranjak dari tempatnya dan bergegas menuju ruang dosen.
sedangkan Risana dan yang lainnya bersiap-siap untuk pulang. langit begitu mendung bersiap untuk menurunkan hujannya. para mahasiswa berlarian mencari tempat meneduh berdiri di sisi kampus menunggu redanya hujan.
sialnya hujan bukannya tambah reda tapi malah semakin banyak menurunkan airnya.
"duh gimana ini, hujannya malah tambah deres. mana aku nggak bawa mobil sendiri". ucap Risana yang berdiri di samping dinding kampus.
Risana berinisiatif menghubungi sahabatnya Yola, tapi Yola sudah pulang terlebih dulu.
"haduh mana batere ku juga habis lupa nge-charge". kata Risana
hari sudah malam hujan masih meneteskan airnya , dingin sunyi. Risana berjalan keluar kampus ia berniat berjalan kaki sembari menunggu di jemput supirnya.
asyik dalam lamunannya Risana di kagetkan kedatangan mobil yang berhenti di sampingnya.
"pak Bima". Risana kaget melihat Bima dari jendela mobil yang berhenti.
__ADS_1
"kenapa jalan?". tanya Bima.
"ini anu pak tadi di antar supir malah lupa ngasih tahu buat jemput. ini malah batere ku juga lowbat". ucap Risana gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"ayo masuk, saya antar". pinta Bima
kebetulan malam ini tugas Bima sudah selesai semua, jadi bisa pulang lebih awal.
Risana yang bingung dengan tawaran Bima hanya mematung dan tak bersuara. pikirannya entah melayang kemana, yang pasti hatinya sangat berbunga-bunga.
"Ris mau apa nggak?". kata Bima mengagetkan lamunan Risana.
"eh iya pak". Risana bergegas masuk kedalam mobil Bima lalu memasang safety belt.
sepanjang perjalanan keduanya hanya diam satu sama lain. suasana hening dingin sunyi, tanpa sepatah kata terucap dari mulut mereka.
"rumah kamu sebelah mana Ris". tanya Bima
"oh itu pak di jalan cendrawasih nanti belok kiri". ucap Risana terkaget.
Risana benar-benar gugup, ia tak sanggup menahan gejolak di hatinya. meskipun ia tahu Bima adalah suami sahabatnya.
setelah beberapa lama perjalanan akhirnya Bima sampai pada jalan yang di arahkan Risana. segera Bima menghentikan laju mobilnya
"yang mana Ris rumah kamu?". tanya Bima.
"sana pak ujung sana". kata Risana menunjukkan arah rumahnya .
__ADS_1
setelah sampai di depan rumah Risana segera turun dari mobil Bima.
"saya balik ya". pamit Bima.
"iya terimakasih pak. hati-hati ya di jalan". pinta Risana
Bima segera memutar kemudinya dan melaju meninggalkan risana .di depan gerbang rumah Risana menatap mobil Bima yang telah menjauh meninggalkan nya hingga tak terlihat.
di perjalanan pulang kerumah, Bima merasa bersalah telah memberikan tumpangan kepada Risana.
tapi dia merasa kasihan jika harus jalan sendirian. ia juga merasa punya tanggung jawab karena Risana adalah mahasiswi nya.
******
"aku sayang kamu Risana". Bima terkaget membulatkan matanya. dia bingung kenapa mengucapkan sayang kepada Risana yang bahkan tak ada rasa apapun.
"mimpi apa tadi, aarrhhgg buat aku bingung saja". Bima menggerutu di dalam hatinya sembari menepuk jidatnya.
"apa itu sebuah jawaban?". Bima mulai mengingat ingat tentang solat istikharah nya kemarin.
"apa ini artinya aku harus mengiyakan?
ya Allah aku tidak sanggup kalau harus menyakiti hati wanita ku. hamba sungguh sangat mencintai nya.
perlahan Bima menatap Nafisa membelai rambutnya mengecup bibirnya.
"maafkan Abi ya umi". ucap Bima memeluk Nafisa yang terlelap.
__ADS_1