Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
acara pertunangan(19)


__ADS_3

"kamu sungguh istri yang Sholehah sa, kamu istri yang luar biasa. semoga syurga nanti untuk mu menantu ku". puji Abah untuk Nafisa.


rencananya hari ini Abah dan umi Fatma akan ikut dengan mereka. karena hari pertunangan Bima dan Risana akan di laksanakan besok.


keesokan harinya semua di sibukkan dengan tugas masing-masing. Nafisa sibuk menyiapkan seserahan sedangkan umi Fatma sibuk menyiapkan baju seragam untuk keluarga.


sedangkan Abah Yasir dan Bima mengobrol di taman belakang membahas tentang acara tunangan nanti malam. tapi Bima nampak acuh tak acuh dengan acara pertunangan tersebut. baginya ini semua hanyalah omong kosong yang tak harus di pedulikan.


sedangkan Nafisa sibuk menghias seserahan untuk Risana saat nafisa akan memasukkan cincin ke kotak perhiasan ia termenung sejenak mengingat masa saat bertunangan dengan Bima. semua orang begitu bahagia juga dengan Bima dan Nafisa tampak senyum yang merekah menghiasi bibir mereka.


seketika lamunan Nafisa buyar ia di kagetkan dengan umi Fatma di depannya.


"kamu kenapa sa". tanya umi Fatma yang melihat Nafisa menitikan air mata.


"nggak apa-apa umi, Nafisa hanya terharu". jawab Nafisa sambil menyeka air matanya.


"sa umi juga seorang perempuan dan juga seorang ibu. umi mengerti sekali perasaan kamu sa". ucap Umi Fatma.


seketika Nafisa langsung memeluk umi Fatma di benamkan wajahnya ke dalam pelukan ibu mertua. Nafisa menangis tersedu batinnya sungguh tergoncang rasa di hatinya seperti di cabik begitu dalam. ia tak tau harus berbuat apa ia hanya bisa menangis menerima semua kenyataan.

__ADS_1


"kamu yang tenang ya, yang sabar semua pasti ada hikmahnya". ucap umi Fatma menenangkan.


"makasih ya umi". kata Nafisa tersedu.


"iyaa.. yuk terusin lagi menghiasinya. umi bantuin ya". kata umi Fatma.


malam pun tiba acara di mulai setelah shalat isya' pukul 19.30 semua sudah bersiap menampilkan penampilan yang terbaik. Nafisa juga sudah cantik dengan gaun merah muda dengan warna jilbab senada. anggun manis begitu mempesona .


"Abi pakai ini ya ". titah Nafisa kepada Bima.


Nafisa kemudian membantu Bima mengenakan jas warna putih dan memakaikan dasi warna hitam bergaris. Bima tampak begitu gagah dengan tinggi 180 cm kulit putih hidung mancung dan badan berisi. siapa saja yang melihatnya tentu akan jatuh hati.


setelah siap mereka berdua segera menyusul yang lainnya. "ayo Abi kita ke depan ". pinta Nafisa.


di rumah Risana semua juga sudah bersiap suguhan untuk tamu semua sudah tertata rapi makanan minuman sudah berada di tempatnya masing-masing.


di depan meja rias Risana duduk memandangi dirinya sendiri. perasaan nya sungguh luar biasa campur aduk sampai bibirnya terkunci untuk berbicara. Risana tersenyum di cermin memandangi tata rias di wajahnya yang begitu anggun . "cantik " ucapnya sambil mengelus pipi.


kini mobil rombongan Bima dan Nafisa sudah sampai di pelataran rumah Risana. semua mata terkejut memandangi rumah Risana yang begitu megah bak istana kerajaan. Bima turun dari mobil diikuti Nafisa mereka di sambut para pelayan di depan pintu utama keluarga besar Risana telah menanti lalu mempersilahkan masuk ke ruang utama.

__ADS_1


"Monggo silahkan masuk". ucap om Darwis mempersilahkan.


Bima sekeluarga segera memasuki ruang utama ruangan untuk acara pertunangan dirinya dan Risana. diruangan itu semua keluarga Risana tengah berkumpul menanti berlangsung nya acara pertunangan.


bagaikan seorang putri kerajaan Risana turun menyusuri anak tangga, satu demi satu ia melangkah semua pasang mata tertuju kepada nya, sungguh cantik sekali. meski begitu Bima tidak melirik sedikit pun ke arah risana ia acuh mencoba memandang sekeliling. Risana segera menghampiri mamahnya dan duduk di antara mamah dan neneknya.


"OOO ini calonnya Bima, cantik sekali ya masih muda lagi". ucap paman Bima memuji.


entah bagaimana dengan perasaan Nafisa dia hanya duduk terdiam tanpa sepatah kata.


setelah semua berkumpul acara segera di mulai. satu persatu pihak keluarga memperkenalkan anggota keluarga mereka hingga saat memperkenalkan Nafisa kepada keluarga Risana.


"nah yang ini istri pertamanya Bima". ucap Abah memperkenalkan Nafisa.


semua terdiam tidak ada yang berani mengeluarkan suara, kaget juga kagum hening mulai tercipta. mereka saling pandang memandang bertanya-tanya dalam pikiran mereka kog mau ya di madu kog mau ya nemenin suaminya ngelamar wanita lain. entah asumsi apa yang ada pada pikiran mereka yang jelas keluarga Risana sudah mengetahui nya dan itu bukan menjadi masalah.


Bima terus saja melihat ke arah Nafisa. Bima merasa iba dengan keadaan istrinya " kenapa ini semua harus terjadi? seharusnya aku tetap menerima istri ku bagaimana pun keadaannya aku harus tetap menjaga perasaan nya berjuang bersama nya". Bima hanya bisa bermonolog dengan dirinya sendiri.


tiba saat acara pertunangan Umi Fatma sudah mempersiapkan cincin untuk risana dan segera memakaikan ke jari Risana.

__ADS_1


"biar saya saja yang memakaikannya". ujar Nafisa melangkah menuju panggung tunangan.


semua bersorak tepuk tangan setelah cincin berhasil melingkar di jari manis Risana tak lupa Nafisa memberi selamat dan pelukan hangat untuk risana. entah hati Nafisa terbuat dari apa ia begitu kuat menerima semua kenyataan ia begitu tegar. disaat seperti ini ia masih tersenyum dengan tulus meskipun ia sangat terluka dan masih sangat mencintai suaminya.


__ADS_2