Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
bunga yang cantik (84)


__ADS_3

"keputusan Ayah sudah bulat, Bunda jangan menghalangi". ucap Ayah berlalu meninggalkan Bunda yang masih duduk di kursi


sejak saat itu Nafisa selalu menulis surat untuk Bima, namun tak pernah ia berikan, surat surat itu ia simpan rapi di dalam laci meja.


saat malam tiba, Ayah mencoba menasihati Nafisa tentang pernikahan, lama berunding dengan Ayah, akhirnya ia menyetujui untuk menggugat Bima meskipun dengan hati terpaksa


"Sa, Ayah ingin bicara". ucap Ayah di berdiri di ambang pintu kamar


"iya Ayah, masuk". titah Nafisa menatap Ayahnya di ambang pintu


Ayah berjalan pelan menuju arah Nafisa, lalu duduk di tepi ranjang, Ayah bingung entah dari mana harus memulai obrolan agar Nafisa bisa menerima nasehatnya, Ayah diam cukup lama, menarik nafas panjang lalu di keluarkannya dengan kasar


"Ayah tau, pasti berat untuk kamu melepaskan suatu hal yang masih ingin kamu miliki, tapi, kita harus lihat, apa manfaat suatu hal itu jika masih kita pertahankan. jika memberi manfaat baik, boleh kita bertahan. tapi jika memberi hal buruk, kita harus rela melepaskan nya". ucap Ayah tanpa menatap Nafisa


"Sa, Ayah ingin yang terbaik untuk kamu. lihat diri kamu sekarang, selama bersama Bima, kamu bukannya sembuh, tapi malah semakin sakit. kamu putri Ayah satu satunya, kebanggaan Ayah, Ayah ingin kamu bahagia. dan satu hal lagi, Ayah mau kamu menuruti satu permintaan Ayah ini". ucap Ayah menatap mata Nafisa serius


"apa Yah". ucap Nafisa lirih


"Ayah ingin kamu tinggalkan Bima, cari kehidupan kamu yang lebih baik. cari kebahagian kamu sendiri. kamu nurut sama Ayah, Ayah tau yang terbaik untuk kamu". ucap Ayah dengan mata berkaca kaca


bibir Ayah bergetar, mengucapkan kata berpisah. Ayah tau, Nafisa masih sangat mencintai Bima, tapi Ayah tidak tega jika Nafisa selalu sakit hatinya, dan mengalami tekanan batin hingga kankernya tidak kunjung sembuh


Nafisa lama berfikir, ia mengingat semua kejadian yang telah ia alamai bersama Bima dan Risana, Nafisa ingat perlakuan Bima kepadanya, Nafisa juga ingat kata kata Risana, jika dia ingin Nafisa pergi jauh hingga Bima tidak tahu.


"baik Yah, aku mau menggugat mas Bima". ucap Nafisa menunduk tak mampu menahan tangis


"besok Ayah akan suruh pengacara Ayah mengurusi perceraian kalian". ucap Ayah dengan hati gembira


"Ayah tidur dulu ya, kamu juga istirahat sudah malam". ucap Ayah berdiri dari duduknya, lalu pergi meninggalkan Nafisa sendiri


Nafisa tahu ini lah jalan yang terbaik untuk dirinya dan Bima, berpisah, mungkin takdir jodoh dirinya dengan Bima hanya cukup sampai disini, dan mungkin ia akan menemukan jodoh pengganti Bima


"mungkin ini sudah jalan kita, meskipun aku kehilangan mimpi indah bersamamu, kehilangan janji mu untuk ku, kehilangan semua harapan yang kita bangun bersama. tapi, cinta ku tetap ada untuk mu. dan aku akan selalu menjadi orang yang sama dengan cinta yang penuh untuk mu". tulis Nafisa dalam suratnya

__ADS_1


hari harinya di lalui dengan hati yang kosong, setiap hari waktunya hanya ia habiskan berdiam diri di teras, memandang taman di depan rumahnya.


Nafisa berfikir entah dirinya bisa melanjutkan hidupnya atau tidak, ia tak tahu kejutan apalagi di masa depannya, yang ia tahu Tuhan maha adil atas apa yang hambanya perbuat


lama melamun tiba tiba ada yang memberi buket bunga di depan wajah Nafisa.


"bunga yang cantik untuk orang yang cantik". ucap dokter Noval memberikan buket bunga untuk Nafisa


"Noval". ucap Nafisa lirih menatap ke arah dokter Noval


"ini untuk mu Sa". ucap dokter Noval menyerahkan bunga kepada Nafisa


"makasih Val". ucap Nafisa menerima bunga dari dokter Noval


"kamu ngapain melamun disini, harusnya kamu nggak boleh banyak pikiran lho". ucap dokter Noval duduk di samping Nafisa


"jalan jalan mau Sa?". ucap dokter Noval dengan senyum manisnya


"iya". ucap Nafisa lirih dengan anggukkan


nampak dokter Noval mendorong kursi roda Nafisa mengelilingi pedesaan, ada senyum kecil di bibir Nafisa, meskipun hanya berkeliling jalan desa itu sudah membuat Nafisa bahagia


langkahnya kini terhenti di sebuah persawahan hijau, dengan pemandangan para petani sedang menanam sayur dan anak anak kecil yang sedang bermain di pinggir sawah.


"indah ya Sa". ucap dokter Noval tersenyum


"andai aku punya rumah disini Sa, pasti bakal betah". ucapnya lagi masih memandang jauh kedepan


"Val, aku boleh bertanya sesuatu?". tanya Nafisa


"boleh Sa, apa aja pasti akan aku jawab". ucap dokter Noval berjongkok di depan Nafisa


"kamu pasti tahu kan hubungan Risana dengan sepupu mu Yuda?". tanya Nafisa membahas Risana dan Yuda

__ADS_1


"kenapa kamu tanya itu Sa?". tanya balik Noval


Nafisa diam melihat kearah dokter Noval dengan serius


"eemm iya tahu Sa, tapi mereka sudah lama putus". ucap dokter Noval


"apa karena Risana menikah dengan mas Bima lalu mereka putus?". tanya lagi Nafisa


"iya mungkin, Yuda bilang seperti itu. kamu tahu Sa, sekarang keadaan Yuda sedang tidak baik. psikisnya terganggu karena tahu Risana menikah, beberapa hari menyebut nama Risana terus, setelah itu dia lupa ingatan". ucap dokter Noval menjelaskan


"keadaan dia sangat memprihatinkan, aku kasihan dengan orang tuanya, apalagi dia anak satu satunya, harapan satu satunya". ucap dokter Noval menunduk merasa sedih dengan keadaan dokter Yuda


Nafisa nampak berfikir, ia merasa kasihan dengan Yuda Karen Risana hidupnya menjadi berantakan, sama seperti dirinya, karena Risana juga hidupnya menjadi berantakan


"Val, kita pulang ya". ucap Nafisa menatap dokter Noval


"iya Sa". ucap dokter Noval berdiri dari depan Nafisa, lalu mendorong kursi rodanya.


di sisi lain, Bima sedang mengajar disekolahan. selama berpisah dari Nafisa hidup Bima menjadi berantakan, ia tak pernah fokus dalam pekerjaan nya, padahal selama ini ia terkenal dengan kecerdasannya.


sorenya Bima pulang dengan tak semangat, sejak di tinggal Nafisa Bima lebih banyak melamun dan jarang makan. sepanjang perjalanan ia hanya fokus menatap kedepan. sesampainya di rumah Bima langsung masuk kekamar Risana.


di meja samping ranjang ia melihat sebuah amplop dari pengadilan agama. hati Bima sudah tahu, itu surat gugatan cerai dari Nafisa.


Bima sama sekali tak menggubris surat tersebut, ia merebahkan dirinya di ranjang, menatap langit langit kamar. kini ia tak punya penyemangat lagi, hanya ada Risana istri keduanya yang sebentar lagi akan menjadi istri satu satunya.


"mas udah pulang?". tanya Risana mendekat kearah Bima


"kog nggak ganti baju dulu mas?". tanya nya lagi duduk di tepi ranjang


"nanti aja Ris, mas lagi capek". ucap Bima


"mas, kandungan ku udah usia tujuh bulan, kalo anak pertama biasanya ada acara tujuh bulanan. mas kapan mau adain acara tujuh bulanan untuk anak kita?". tanya Risana memegang tangan Bima

__ADS_1


"sabtu ya Ris, kamu atur aja acaranya". ucap Bima datar


"nanti kita undang siapa aja mas?". tanya lagi Risana


__ADS_2