Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
sebuah kebetulan (66)


__ADS_3

Nafisa berjalan pelan di temani dokter Noval, saat bersamaan ada Bima mencari Nafisa. dari jauh Bima melihat Nafisa tengah berjalan di samping laki laki lain, ada rasa cemburu di hati Bima.


segera Bima menghampiri Nafisa dan juga dokter Noval. Ia ingin menanyakan siapa laki laki yang ada di samping nya itu. ia berjalan sedikit cepat lalu menghampiri Nafisa dari belakang


"Umi, kata nya mau bertemu dokter Baskoro?". tanya Bima menghampiri Nafisa dan dokter Noval


dokter Noval tersenyum kepada Bima, Bima juga mencoba tersenyum kepada dokter Noval. ada rasa marah di hati dokter Noval saat melihat Bima.


"ingin rasanya aku menonjok muka mu, karena kamu, hidup Nafisa menjadi terpuruk".gumam dalam hati dokter Noval saat tersenyum kepada Bima


"tadi sudah bertemu sama dokter Baskoro, sekarang mau menjenguk pak Selamet". jawab Nafisa lirih


"Abi temenin ya". ucap Bima berjalan beriringan di antara keduanya


Nafisa hanya mengangguk pelan, mereka bertiga berjalan berdampingan. Bima merasa terganggu dengan dokter Noval, ia mencoba mengatakan kepada dokter Noval jika dirinya tidak perlu mengikuti Nafisa


"mohon maaf dokter ini siapa ya?". tanya Bima melihat dokter Noval yang memakai jas putih dokter


"saya dokter Noval, temannya Nafisa. tadi saya bertemu dengannya di ruang tunggu, jadi saya menghampiri nya".ucap dokter Noval tersenyum


"sekarang anda mau kemana dok?". tanya Bima masih berjalan beriringan


"saya mau mengantar Nafisa menuju ruangan dahlia, sekalian menjenguk pasien". ucap dokter Noval


"Nafisa biar saya yang mengantar dok, pasti dokter punya urusan lain kan?". tanya Bima memastikan


dokter Noval nampak berfikir, ia tahu jika Bima tidak senang dengan kehadiran dirinya. karena tidak ingin debat dokter Noval mengundurkan diri dari Nafisa dan bima.


"iya sepertinya saya punya janji dengan pasien, kalo begitu saya permisi dulu. saya pamit ya Sa, mari pak". ucap dokter Noval lalu berbalik badan dan berjalan lurus


sesekali dokter Noval melihat kearah Nafisa, ingin sekali rasanya mengandeng Nafisa dan mengajaknya pergi jauh.


"meskipun kamu tidak pernah bercerita apa apa kepada ku, tapi aku tau Sa, hati kamu sebenarnya hancur". gumam dalam hati dokter Noval lalu kembali keruangan nya

__ADS_1


dokter Noval dan dokter Yuda sama sama di buat bingung dengan perasaan masing masing, bagaimana bisa dua wanita yang mereka cintai ternyata satu suami.


dokter Noval duduk di kursi kerjanya memikirkan Nafisa. sedangkan dokter Yuda duduk di kursi kerja nya memikirkan Risana. suatu kebetulan bukan?.


"ternyata benar cinta memang tak harus memiliki, andaikan dulu aku tidak memaksakan cinta mu, pasti sekarang aku tidak terluka seperti ini".gumam lirih dokter Yuda dengan tertawa kecil


"bahagia mu memang bukan untuk ku Ris, tapi untuk Suami mu sekarang. semoga kamu tidak menjadi egois karena ada istri pertama suami mu yang harus di perhatikan juga". gumamnya lagi masih duduk di kursi kebesarannya


sedangkan di ruangan dokter Noval, ia memikirkan Nafisa. ia tak habis pikir akan diusir Bima dengan cara halus.


"dasar nggak punya hati. tadi saja seenaknya meluk Risana di depan Nafisa. giliran Nafisa jalan sama aku dia cemburu". gumam dokter Noval ia mengumpat kesal dengan sikap Bima yang memeluk Risana di depan Nafisa. dokter Noval tahu dari Yuda yang memberitahu nya lewat pesan


"awas aja, aku malah makin nekat deketin Nafisa. bodo amat di bilang perebut istri orang". gumamnya lagi masih merasa kesal


merasa kesal, dokter Noval berlalu menuju ruangan dokter Yuda. ia ingin bercerita mengenai Nafisa dan dirinya hari ini.


ia masih saja mengumpat kesal kepada suami Nafisa, ingin sekali rasanya membuat Bima kehilangan Nafisa agar Bima tahu betapa berarti nya Nafisa sesungguhnya


beberapa kali di panggil dokter Yuda tidak menjawab sama sekali. merasa takut terjadi sesuatu dengan sepupu nya, dokter Noval mencoba mendekat perlahan.


"Yud". ucap dokter Noval sedikit keras sambil menepuk bahu dokter Yuda


"ada apa Val, bikin kaget saja". ucap dokter Yuda menatap dokter Noval


"ya kamu dari tadi di panggil nggak respon sama sekali, aku takut aja kalo kamu kesambet Yud". jelas dokter Noval lalu duduk di sebrang dokter Yuda


"mikir apa si Yud, sampe melamun nggak jelas seperti itu?. sepertinya aku yang lagi patah hati, tapi kenapa malah kamu yang sedih". ucap dokter Noval melihat Yuda serius


"aku mau ngelupain Risana Val, udah saat nya aku pergi dari kehidupan nya". ucap dokter Yuda dengan tatapan mata kosong


"dari kemarin juga aku sudah bilang Yud, lupain Risana. dia udah bahagia dengan suaminya". ucap dokter Noval mengingatkan


"tadi aku melihat sendiri, betapa besar cinta Risana untuk suaminya. tapi Val, aku kasian dengan Nafisa. dia seperti tak di anggap dalam rumah tangganya sendiri". ucap dokter Yuda menatap dokter Noval

__ADS_1


"ya, aku tahu Yud. sekarang kanker Nafisa malah udah stadium tiga. padahal dia baru kemoterapi satu bulan yang lalu, yang seharusnya kankernya sebagian sudah mati. tapi setelah di lakukan pemeriksaan lagi kanker nya tambah menyebar. ingin sekali aku membawanya ke hongkong Yud untuk pengobatannya". ucap dokter Noval menjelaskan dengan wajah sedih


"Val, kenapa kita bisa kebetulan gini ya, mencintai dua wanita yang ternyata satu suami". tanya dokter Yuda


disisi lain Bima dan Nafisa sudah berada di ruangan pak Selamet. nampak Nafisa tengah duduk di kursi di samping ranjang pak Selamet. sedangkan Bima berdiri di samping Nafisa.


"bagaimana keadaan bapak?".tanya Nafisa


"kaki saya patah nyonya, rencananya akan di lakukan operasi". ucap Pak Selamet menjelaskan


"bapak yang sabar ya, semua biaya bapak biar saya yang tanggung". ucap Nafisa


"sudah di biayai semua sama nyonya Rossa, tadi saya sudah memberi tahu nyonya Rossa jika saya dan non Risana mengalami kecelakaan. setelah ini mungkin nyonya Rossa kesini". ucap Pak selamet dengan merintih menahan sakit


"kronologi nya bagaimana pak bisa di tabrak sama truk?". tanya Bima penasaran


"saya sudah berada di jalur saya Tuan, tapi dari arah berlawanan truk tersebut tiba tiba oleng dan menabrak mobil saya, seketika mobilnya terguling kaki saya terjepit bagian depan. dan non Risana tidak sadarkan diri. disitu saya panik Tuan". ucap pak Selamet masih dengan wajah trauma


"maaf Tuan karena saya mobilnya jadi rusak parah". ucap pak Selamet lagi merasa sungkan


"tidak apa apa pak, namanya musibah tidak ada yang tahu. bapak tidak usah mikir apa apa ya, yang terpenting semuanya selamat". ucap.Bima menenangkan


"iya Tuan". ucap pak.selamet


"bapak sudah menghubungi keluarga bapak?". tanya Bima


"iya sudah Tuan, sekarang istri saya sedang perjalanan menuju kesini". ucap Pak Selamet


"ya sudah, saya pamit dulu ya pak. kalo butuh apa apa bapak bisa menghubungi saya". ucap Bima lalu meninggalkan pak.Selamet


setelahnya Bima dan Nafisa keluar dari ruangan pak Selamet dan menuju ruangan Risana. sepanjang perjalanan Bima mencoba menanyakan siapa dokter Noval sebenarnya.


"dokter Noval sepertinya dekat sekali dengan Umi". ucap Bima tanpa menatap Nafisa

__ADS_1


__ADS_2