
" kasian kamu Sa harus berjuang sendiri. Bunda sangat merasakan apa yang kamu rasakan". ucap Bunda masih duduk di tepi ranjang
"andaikan waktu bisa di ulang, Bunda tidak akan pernah mengijinkan Bima menikah lagi, menurut Bunda lebih baik kalian bercerai dari awal, pasti hidup kamu akan baik baik saja sekarang". gumam Bunda lirih dengan air mata yang semakin deras mengalir
di sisi lain Nafisa masih dalam perjalanan, di hari kedua ini dirinya ingin pergi ke sebuah bukit tempat kedua yang pernah ia datangi bersama Bima.
"kamu ingat mas bukit yang pernah kita datangi?". tanya Nafisa menatap Bima
"iya ingat. Umi mau kesana?". tanya Bima sesekali menatap Nafisa
"iya, aku ingin kesana lagi. karena ini hari terakhir ku bersama kamu". ucap Nafisa lirih
"tapi jauh lho, perjalanannya hampir empat jam. sedangkan keadaan Umi sedang tidak sehat". ucap bima
"aku bisa mas, aku ingin ke tempat itu lagi, suapaya nanti kalau aku pergi aku tidak menyesal". ucap Nafisa mengalihkan pandangannya
"Umi ke luar negeri bersama siapa?". ucap Bima dalam pikirannya menebak dengan dokter Noval
"hanya dengan Ayah, karena Ayah sudah pensiun. jadi bisa nemenin aku di sana". jawab Nafisa
hati Bima lega karena Nafisa ke luar negeri hanya bersama Ayah bukan dengan dokter Noval, Bima tahu jika dirinya egois, tapi, itulah cinta bisa membuat siapa saja lupa diri.
sepanjang perjalanan mereka hanya diam satu sama lain. Bima sesekali menatap Nafisa yang terlihat sangat pucat dan kurus.
lama mengemudi, akhirnya mereka sampai di bukit kenangan mereka. bukit hijau yang indah di pedesaan, dengan udara yang sejuk.
segera Bima membantu Nafisa turun dari mobil. karena jalan yang berbatu Nafisa terpaksa di gendong Bima, karena tidak bisa kalau memakai kursi roda.
kemudian Bima dan Nafisa duduk di semak semak memandang hamparan rumput hijau.di bawah pohon yang rindang
"makasih ya mas, kamu mau perhatian dengan ku. aku kira kamu tidak akan mau bertemu dengan ku setelah sidang perceraian". ucap Nafisa menatap Bima dengan tersenyum
"Umi, beri aku kesempatan lagi, aku mohon cabut saja gugatan Umi. aku akan merawat Umi. kita berobat bersama sama. aku akan adil antara Umi dan Risana". ucap Bima dengan wajah sedihnya
__ADS_1
Nafisa tersenyum mendengar ucapan Bima. dalam pikiran Nafisa, bisa saja ia memberi kesempatan lagi untuk Bima. tapi, hatinya sudah terlanjur sakit dengan Risana.
"tidak mas, karena aku akan pergi. aku akan jauh meninggalkan kamu. lebih baik kamu fokus sama Risana, setelah ini aku tidak akan menemui mu lagi". ucap Nafisa
"aku mohon sama kamu, kamu jaga Risana baik baik ya. sayangi dia, dia wanita yang baik mas". ucap Nafisa lagi memegang tangan Bima
"soal itu aku tidak bisa berjanji". ucap Bima memandang kearah lain
"minggu depan kita sudah resmi bercerai. apa kamu tidak mau mengabulkan permintaan terakhir ku ini?". ucap Nafisa menatap Bima penuh harap
"aku masih cinta sama kamu, Umi". ucap Bima menatap Nafisa
"Umi kenapa pergi dari rumah?. apa salah ku?. andai Umi tidak pergi, pasti kita masih bersama". tanya Bima dengan tangisnya
"kamu tidak salah, aku yang salah. aku yang terlalu egois".ucap Nafisa dengan tersenyum
melihat Nafisa tersenyum dengan ucapan menyalahkan dirinya, seketika Bima memeluk Nafisa. tangisannya semakin keras ia seolah enggan melepaskan Nafisa, firasat Bima mengatakan jika nanti dirinya tidak akan pernah bertemu lagi dengan Nafisa
"jangan menyalahkan diri kamu Umi, ini semua Abi yang salah. andai Abi bisa tegas menolak pasti semua tidak akan seperti ini". ucap Bima memeluk Nafisa erat
"mas, aku punya permintaan lagi". tanya Nafisa masih dalam pelukan Bima
"apa Mi?". tanya Bima masih memeluk Nafisa
"aku ingin foto foto di tempat ini, aku juga mau foto sama kamu. biar nanti jadi kenangan". ucap Nafisa
"nanti di cetak ya mas, jadikan album". ucap nya lagi dengan lirih
Bima melepaskan pelukannya, lalu menatap Nafisa dengan tatapan sedih. ia mengangguk menyetujui permintaan Nafisa, menurut Bima ini permintaan yang mudah.
Bima segera mengeluarkan handphone nya, lalu membuka camera. terlihat Nafisa sudah bersiap untuk di potret, ia tersenyum dengan lebar. berharap di foto ia terlihat bahagia
"sudah siap?". tanya Bima membidik cameranya
__ADS_1
tatapan Bima tak kuat melihat wajah Nafisa yang pucat dan kurus. di dalam hatinya, Bima menahan tangis. setelah hatinya sedikit lega, Bima melanjutkan memotret Nafisa.
potret demi potret telah Bima ambil, kali ini Nafisa ingin foto di antara bunga bunga liar yang tumbuh di bukit itu. segera Bima menggendong Nafisa menuju tempat yang di maksud Nafisa.
di gendongan Bima, Nafisa tersenyum ia bahagia akhirnya keinginannya terwujud. setelah sampai di tempat bunga bunga liar, Nafisa segera bersiap menata senyumnya.
"sudah Umi, setelah ini kita mau kemana lagi?". tanya Bima menatap Nafisa
"kita makan dulu mas, setelah itu kita pulang". ucap Nafisa tersenyum
Bima menuruti semua permintaan Nafisa. hingga malam Bima belum juga pulang, membuat Risana bingung kepikiran.
berkali kali Risana hubungi namun tidak di angkat oleh Bima, karena handphone Bima sudah di silent. berharap tidak ada yang mengganggu kebersamaan dirinya dengan Nafisa.
"mas kamu kemana, jangan jangan kamu sama mbak Nafisa sedang di hotel". ucap Risana bingung di kamarnya
"ayo mas angkat". ucap Risana lagi menghubungi Bima
berkali kali ia panggil namun tak ada jawaban dari Bima hingga ia merasa frustasi. dalam pikiran Risana, ia semakin takut jika Bima akan benar benar rujuk dengan Nafisa
sedangkan Bima dan Nafisa masih dalam perjalanan pulang. nampak Nafisa sangat lelah hingga tertidur di mobil.
sesekali Bima melihat kearah Nafisa dengan tersenyum, Bima sangat rindu melihat Nafisa yang sedang tidur.
"kamu masih cantik Umi saat tidur seperti ini. setelah ini aku tidak akan lagi bertemu dengan Umi. pasti aku akan sangat kangen". gumam lirih Bima sesekali menatap Nafisa
setelah lama di perjalanan mereka telah sampai di rumah, perlahan Bima membangunkan Nafisa yang terlelap. setelah terbangun Bima mengecup kening Nafisa.
mata mereka saling menatap lama, rasanya enggan untuk mereka berpisah. namun, hal itu tentu tidak bisa di paksakan, mengingat Ayah sangat membenci Bima
"sudah sampai rumah, Abi bantu turun ya". ucap Bima menatap Nafisa
Nafisa mengangguk pelan, segera Bima turun dari mobil lalu membantu Nafisa turun. mendengar suara mobil di luar, Bunda segera keluar untuk melihat siapa yang datang
__ADS_1
padahal dari tadi Bunda sudah cemas menunggu Nafisa yang tidak kunjung pulang. karena Ayah hanya memberi waktu sampai sore, jika Ayah tahu pasti nanti akan marah dan semakin membenci Bima