
"selamat tinggal Umi, aku akan selalu merindukan mu. aku akan selalu mengenang mu. kamu cinta pertama ku, wanita terhebat yang pernah ada dalam hidup ku. selamat tinggal, semoga kita bisa bertemu di lain waktu". ucap dalam hati Bima sambil membantu Nafisa turun dari mobilnya
"Abi pulang dulu ya, sampai ketemu di lain waktu". ucap Bima menatap Nafisa penuh haru
"Bunda, aku pamit dulu". ucap Bima bersalaman dengan Bunda
"iya Bim, terimakasih ya sudah menjaga Nafisa dengan baik". ucap Bunda
"permisi dulu Bun, assalamualaikum". ucap Bima berlalu masuk kedalam mobilnya
"wa'alikumsalam". ucap Bunda menatap Bima masuk kedalam mobil
nampak mobil Bima sudah pegi menjauh, Nafisa segera di bawa masuk oleh Bunda kekamarnya. Nafisa terlihat sedih, karena ia harus pergi dari hidup Bima selamanya setelah mereka bercerai nanti.
Nafisa di bantu Bunda berbaring di ranjangnya, ia bercerita jika dirinya akan mulai melupakan Bima, dan memulai hidup yang baru.
Bunda sangat mendukung rencana Nafisa, apalagi Bunda tahu selama ini Bima lebih memilih Risana dari pada Nafisa yang sedang sakit.
dari handphone nya, Nafisa mulai menghapus semua foto Bima. menghapus semua kenangan bersama Bima, ia memantapkan hati untuk hidup tanpa Bima. ia akan optimis jika ia akan sembuh.
"selamat tinggal mas, aku akan jauh meninggalkan mu. semoga kamu bahagia dengan Risana dan anak mu nanti". gumam lirih Nafisa menatap foto Bima
disisi lain, Bima sudah sampai di rumah. dengan wajah manyun Risana sudah menunggu Bima di teras rumah. tahu akan kedatangan suaminya Risana langsung menghampiri mobil Bima yang baru di parkir.
"mas, dari mana saja sih. aku khawatir sama kamu". ucap manja Risana di samping mobil Bima
"di telfon nggak di angkat, aku sampai nggak bisa tidur mikirin kamu mas". ucap Risana sedikit keras menatap Bima yang baru turun dari mobil
"maaf sayang, tadi Nafisa ngajak keluar kota. jadi perjalanannya lama". ucap Bima lalu memeluk Risana
__ADS_1
"memangnya dari mana?". tanya Risana di dekapan Bima
"dari bukit yang pernah aku kunjungi bersama Nafisa. sudah ya sayang mas capek, pengen istirahat". ucap Bima berlalu kekamarnya
Risana sedikit cemberut, melihat Bima mengacuhkan dirinya. segera Risana menyusul Bima masuk kedalam kamar. ia memeluk Bima dari belakang yang baru saja melepas bajunya untuk di ganti dengan yang bersih
"mas, aku takut kehilangan kamu. aku ingin selalu bersama kamu". ucap Risana lirih
Bima segera membalikkan badannya, menatap wajah Risana dengan mesra, meskipun badannya sangat lelah setelah seharian bersama Nafisa, namun ia mencoba sabar menghadapi Risana dengan sifat manja dan ke kanak-kanak kan nya
"iya sayang, kita akan selalu bersama. jangan nangis ya, kasian dedeknya". ucap Bima sambil mengelus perut Risana
namun di hati dan pikiran Bima masih memikirkan Nafisa, lalu Bima duduk di tepi ranjang dengan wajah lesu. Risana yang melihat wajah capek Bima merasa kasihan. namun di hati Risana seolah tahu jika Bima sedang memikirkan Nafisa.
perlahan Risana mendekat ke arah Bima, ia duduk di pangkuan Bima dengan wajah menghadap Bima. perlahan Risana mencium bibir Bima, dengan lembut dan bergair*h.
nafas keduanya semakin tersengal, membara dalam kenikmatan. Bima sudah tak sabar, hasrat nya kini sudah memuncak.
sedang kan disisi lain Nafisa sedang menahan sakitnya, perutnya di rasa semakin sakit. ia mencoba bangun dari tidurnya, ia berjalan pelan menuju kursi roda. namun tiba tiba ia mengalami pendarahan hebat.
Nafisa mencoba memanggil Bunda dengan suara lirih, namun tak ada jawaban dari Bunda. Nafiza semakin panik karena darah yang keluar begitu banyak. ia semakin tak kuat menahan sakitnya, hingga akhirnya tak sadarkan diri.
sekitar tengah malam, Ayah baru selesai shalat tahajud. firasat Ayah sudah tidak enak, kemudian Ayah mencoba melihat Nafisa di kamarnya.
betapa terkejutnya Ayah, mendapati Nafisa sudah tergeletak di lantai dengan darah berceceran. Ayah berlari kencang ke arah Nafisa. dengan sekuat tenaganya berteriak memanggil nama Bunda.
tak ada jawaban, Ayah segera berlari kekamarnya membangunkan Bunda yang masih terlelap.
"Bunda, Bun. bangun. Nafisa pingsan mengalami pendarahan". teriak Ayah panik mencoba membangunkan Bunda di ranjang
__ADS_1
"dimana Yah?". tanya Bunda tak kalah panik
"di kamarnya Bun. ayo cepat kita bawa kerumah sakit Bun". ucap Ayah berlari kekamar Nafisa lagi
sesampainya di kamar Nafisa Ayah segera menggendong Nafisa menuju garasi mobil, di bantu Bunda membuka pintu mobil lalu pintu garasi.
selama perjalan kerumah sakit tak hentinya Bunda menangis memanggil nama Nafisa di pelukannya. firasat Bunda mulai tidak enak, Bunda seakan tahu jika Nafisa akan pergi untuk selamanya.
karena jalanan yang lengang, Ayah dengan leluasa memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga tak lama akhirnya Ayah sudah sampai di rumah sakit.
melihat keadaan Nafisa yang sudah parah, tim medis langsung membawa Nafisa keruang IGD, lalu di rawat di ruangan NICU.
hati Ayah dan Bunda sudah ciut, sudah tak ada harapan lagi untuk Nafisa sembuh. hati Ayah semakin membenci Bima, karena Bima Nafisa menjadi mengalami pendarahan hingga tak sadarkan diri.
"ini semua gara gara Bima, karena dia mengajak Nafisa pergi jadi Nafisa kecapek an. dan sekarang mengalami pendarahan". ucap Ayah duduk di ruang tunggu di samping Bunda
"Ayah, untuk kali ini Bima tidak salah Yah. Nafisa sendiri yang meminta. tolong Ayah jaga emosi Ayah, keadaan Nafisa sedang kritis sekarang". ucap Bunda dengan tangisnya
di ruang NICU Nafisa di pasang alat bantu medis di tubuhnya, berharap Nafisa masih bisa bertahan hidup.
seluruh tubuhnya di suntik bergantian untuk mengambil sample darah. di ruangan steril itu Nafisa hanya sendiri berjuang untuk hidup, tanpa ada siapa pun.
dari kaca luar, Ayah dan Bunda melihat Nafisa yang terbaring tanpa suara. hati Ayah semakin pilu. tak ada semangat di hati Ayah. padahal Ayah sudah yakin Nafisa akan sembuh saat berobat ke Tiongkok nanti dan bisa melanjutkan hidupnya kembali
"Bunda tidak kuat Yah melihat Nafisa, kenapa jadi seperti ini?. padahal kemarin keadaannya sudah membaik sebelum pergi dengan Bima". ucap Bunda dengan tangis lirihnya
"itu alasan Ayah, kenapa tidak setuju jika Nafisa dengan Bima. pasti nanti Nafisa akan tambah sakit. lihat sekarang, benar kan apa yang Ayah khawatirkan". ucap Ayah menatap Nafisa dari kaca luar
"dari awal sebelum kankernya menyebar, Ayah sudah tidak setuju jika Nafisa kembali dengan Bima. karena Bima tidak becus menjaga Nafisa, dia hanya bisa menyakiti hati Nafisa". ucap Ayah hatinya semakin dendam dengan Bima
__ADS_1