
"kenapa kamu tidak pernah bercerita tentang mantan kamu Ris, kenapa kamu sembunyikan semua dari aku". gumamnya lirih melihat foto di handphone nya
"jadi mereka sudah ada hubungan selama tiga tahun? lalu putus setelah menikah dengan ku? apa lagi yang kamu sembunyikan Ris. permainan apa sebenarnya yang kamu mainkan sekarang". ucapnya lirih tangan kanannya mulai mengepal penuh emosi
ia ingin segera pulang untuk meminta penjelasan kepada Risana, namun melihat Nafisa yang keadaannya tidak memungkinkan untuk di tinggal, Bima mencoba memendam emosinya.
jiwa Bima semakin tergoncang setelah mendapat berita tentang Risana, apalagi sekarang keadaan Nafisa sedang kritis. dengan tangis ia sesekali menatap Nafisa yang masih tertidur pulas, meminta maaf atas semua kesalahannya
"dosa apa Ya Allah sehingga Engkau memberikan cobaan ini kepada hamba, aku sudah percaya sepenuhnya dengan istri kedua hamba, kenapa malah seperti ini. dan sekarang keadaan Nafisa malah semakin parah. apa yang harus hamba lakukan Ya Allah". ucap dalam hati Bima dengan tangisan yang menderu
"maafkan Abi Mi, Abi tidak becus menjadi suami yang baik, semenjak ada Risana, Abi malah lebih perhatian dengan Risana di banding Umi yang sedang sakit". ucap Bima mendekat ke wajah Nafisa
"maafkan Abi Mi". gumamnya lagi penuh penyesalan
sekitar jam sepuluh malam Nafisa baru di pindahkan ke ruang rawat inap, di wajah Bima nampak sangat lelah. di samping Nafisa, Bima melantunkan ayat ayat alquran berharap Nafisa mendengar dan segera sadar.
hampir satu juz Bima membaca alquran, akhirnya Nafisa sadar dari pingsannya. Nafisa melihat Bima, menatap mata suaminya yang menitikan air mata.
"Abi". ucap Nafisa lirih kearah Bima
"iya Umi". ucap Bima mendekat ke wajah Nafisa penuh tangis
"tadi Umi bermimpi, Umi berjalan di tempat yang sangat indah, dengan air yang jernih dan pepohonan yang hijau. Umi sangat bahagia disana, tapi Umi melihat Abi dan Risana berdua, lalu Abi memanggil Umi, setelah itu Umi bangun sudah ada disini". ucap Nafisa lirih dengan suara bergetar
"Umi cepat sembuh ya, Umi semangat, yakin jika bisa sembuh". ucap Bima memberi semangat untuk! Nafisa
"Umi jangan mikir yang berat berat, Umi harus selalu happy". ucap nya lagi denga senyum tangis
Bima semakin menangis saat melihat Nafisa, apalagi setelah Nafisa bercerita jika dirinya bermimpi berada di tempat yang indah, Bima semakin takut kehilangan Nafisa
berhari hari Nafisa dirawat di rumah sakit setiap hari pula tubuh Nafisa selalu di berikan obat kimia yang membuat badannya semakin kurus, dan kini hanya tinggal tulang dan kulit.
hari ini hari terakhir Bima cuti setelah tiga hari mengambil cuti, ia memutuskan pulang kerumah untuk berganti baju. saat sampai di rumah sudah ada Risana menunggu di ruang tamu, seketika Risana menghampiri Bima meminta kejelasan karena beberapa hari ini tidak pulang tanpa memberi kabar kepada dirinya
"mas, kamu kemana aja?. tiga hari aku hubungi nggak pernah di angkat, aku kirim pesan juga tidak di balas". oceh Risana mendekat ke arah Bima yang baru masuk kedalam rumah
Risana sebenarnya tahu jika Bima marah dengannya karena foto dan video percakapan antara dirinya dan Yuda sudah menyebar luas. namun Risana pura pura tidak tahu soal itu
"aku sedang mengurus istri ku yang lagi sakit, apa salah?". ucap Bima menatap Risana serius
"aku juga butuh perhatian kamu mas, apalagi aku sedang mengandung anak kamu". pekik Risana wajah nya mulai memerah karena marah
"kenapa selama ini kamu tidak pernah jujur dengan ku soal mantan kekasih mu, dan kamu... kenapa mau menikah dengan ku padahal sudah mempunyai pasangan, setelah itu kamu pergi meninggalkan dia setelah kamu menikah dengan ku. apa yang sebenarnya kamu sembunyikan Ris". ucap Bima sedikit keras menatap Risana serius
"karna kamu nggak pernah bertanya tentang kehidupan ku yang dulu mas, soal aku meninggalkan mantan ku, karena aku nggak pernah ada rasa cinta sama dia, dari awal kita punya hubungan aku nggak pernah cinta sama dia". ucap Risana menjelaskan hubungannya dengan Yuda
"oh ini, Yuda Pratama pemilik tunggal dari rumah sakit B. dia sempurna Ris, berpendidikan lulusan luar negeri, menurut aku juga orangnya lumayan. tapi kenapa kamu tinggalin?". tanya Bima sambil membaca biodata dari Yuda Pratama
"cukup mas, aku cuma cinta sama kamu. jangan membahas masa lalu. aku nggak bisa kamu cuekin gini mas, aku pengen kamu perhatian lagi sama aku". ucap Risana emosi mendengar ucapan Bima
__ADS_1
"aku minta maaf mas, aku takut kehilangan kamu, aku sayang sama kamu mas". ucap nya lagi sambil memeluk Bima erat
Bima hanya diam, menurutnya ia memang keliru jika mendiamkan Risana apalagi sekarang Risana sedang mengandung, Bima takut jika akan mempengaruhi kesehatan anaknya.
"aku nggak marah, tapi kamu harus mengalah dengan Nafisa, selama 6 hari aku akan menemani Nafisa dan hanya satu hari dengan mu". ucap Bima memberikan syarat untuk Risana
namun Risama hanya diam, ia menurut saja dengan ucapan Bima. meskipun sebenarnya ia tak terima jika hanya di beri satu hari bersama Bima. namun Risana tak berani menolak takut Bima semakin marah.
Bima merasa capek dengan keadaannya sekarang. selama perjalanan mengajar kesekolah Bima berfikir lebih baik dirinya mengundurkan diri dari kampus dan fokus mengurus Nafisa. karena Bima sangat khawatir dengan keadaan Nafisa, ia takut jika dirinya tidak ada waktu dengan Nafisa suatu hari nanti dia akan menyesal.
sepulang mengajar Bima memantapkan hatinya membuat surat pengunduran dirinya. di ruang ketua yayasan Bima duduk di sofa bersebelahan dengan ketua yayasan.
"maaf pak ini surat pengunduran diri saya". ucap Bima menyerahkan amplop berwarna putih di atas meja
"apa alasan pak Bima mengundurkan diri?". tanya pak ketua yayasan
"istri saya sedang sakit parah pak, sedangkan saya paginya sudah mengajar di sekolahan. jadi saya tidak ada waktu untuk merawat istri saya pak". ucap Bima menjelaskan menatap ketua yayasan
"memangnya sakit apa istri anda pak Bima?". tanya ketua yayasan penasaran
"kanker rahim sudah stadium tiga pak". ucap Bima menjelaskan
"apa ada hubungan nya juga dengan berita tentang pernikahan pak Bima dengan mahasiswi yang bernama Risana? sehingga Pak Bima resign dari kampus ini?". tanya ketua yayasan dengan tatapan serius
"tidak pak, sama sekali tidak. ini murni karena keadaan istri pertama saya yang sedang sakit parah. jadi mohon maaf pak, saya harus mengundurkan diri menjadi dosen di kampus ini". ucap Bima tenang menjelaskan kepada ketua yayasan
"lalu bagaimana pak solusinya?. sedangkan saya tidak ingin meninggalkan istri saya terlalu lama". tanya Bima bingung
"kalau bisa, pak Bima cuti saja selama pak Bima mau sampai istri anda benar benar sembuh. yang terpenting bapak tidak resign dari kampus ini". ucap pak Yosef
lama mengobrol akhirnya Bima sepakat untuk cuti sampai waktu yang tidak di tentukan. setelah dari kampus Bima kembali kerumah sakit untuk menemani Nafisa, kali ini Bima benar benar takut kehilangan Nafisa dan ingin memberikan perhatian lebih
setelah satu minggu di rawat akhirnya Nafisa di perbolehkan pulang,.namun ia harus tetap menjalani beberapa kali pengobatan selama lima hari berturut turut. sangat capek rasanya harus bolak balik kerumah sakit.
saat di meja makan nampak Bima menyuapi Nafisa, dengan sabar mengelap sisa bubur yang menempel di mulut Nafisa. Risana yang melihat kejadian itu membuat hatinya semakin sakit
Risana merasa dirinya juga butuh perhatian dari Bima, namun sekarang Bima malah lebih perhatian kepada Nafisa. apalagi setelah Bima tahu tentang masa lalu Risana, membuat Bima semakin jauh dari Risana.
beberapa hari telah berlalu, hari ini giliran Bima tidur di kamar Risana. di ranjang tidur Bima terlebih dulu memejamkan mata tanpa menghiraukan Risana. Bima masih saja merasa kecewa atas sikap Risana yang menutupi masa lalunya.
hampir satu bulan hubungan Bima dan Risana renggang, hal itu membuat Risana tak bisa terima. di saat Nafisa berjemur matahari pagi di halaman rumah, Risana datang menghampiri Nafisa.
kali ini hati Risana penuh dengan emosi. ia berjalan sedikit cepat dengan perut yang sudah terlihat agak membesar, ia menghampiri Nafisa yang duduk sendirian.
"mbak, gara gara kamu mas Bima nggak bisa adil". ucap Risana penuh emosi
"apa maksud kamu Ris?". tanya Nafisa lirih merasa heran
"aku juga butuh perhatian mas Bima mbak. sekarang aku sedang mengandung anaknya, tapi gara gara mbak sakit mas Bima malah lebih perhatian sama mbak.". ucap Risana dengan keras hingga membuat Nafisa kaget
__ADS_1
"aku pengen mbak tinggalin mas Bima, pergi yang jauh. sampe mas Bima nggak tau keberadaan mbak. tolong mbak anak ini juga butuh perhatian ayahnya, jadi mbak jangan serakah menguasai mas Bima sendiri". imbuh Risana semakin menjadi jadi
Nafisa berdiri menatap Risana serius, dengan keadaanya yang lemah Nafisa menampar pipi Risana hingga memerah. menampar keras hingga Risana merasakan sakit seperti yang dinrasakan Nafisa sekarang
"apa kamu masih waras Ris?". tanya Nafisa masih menatap tajam
"apa kamu lupa, mbak yang nyuruh kamu menikah sama mas Bima. karena mbak tau cinta kamu besar dan tulus buat mas Bima. dan saat itu mbak yakin kamu orang yang baik dan tepat. apa karena cinta hingga membuat hati mu buta?". tanya Nafisa dengan menatap Risana serius sampai tidak bisa berkata kata
"ternyata aku salah memilih kamu. aku akan memberikan mas Bima untuk kamu, seutuhnya. dan aku nggak akan ganggu hidup kalian lagi, aku cukup tau diri menjadi beban untuk suami ku. dan semoga kamu bisa bahagia dengan pilihan mu". ucap Nafisa berlalu meninggalkan Risana yang masih berdiri
Nafisa berjalan pelan kekamarnya, dengan keadaannya yang lemah ia menangis sejadinya. Nafisa tak habis pikir akan di perlakukan Risana seperti itu, padahal dulu Nafisa mengira Risana gadis yang baik.
Nafisa duduk di tepi ranjang, ia masih ingat ucapan Risana tadi, Nafisa juga ingat perlakuan Bima saat pertama kali tahu jika Risana hamil,.dan diriya di acuhkan oleh Bima. inilah saat saat terendah Nafisa, ketika dirinya sakit ingin di perhatikan suaminya namun ia malah di cemburui madunya.
"mungkin dengan aku pergi akan membuat keadaan lebih baik, maafkan aku mas, aku harus pergi aku cukup tahu diri dengan keadaan ku". gumam lirih Nafisa lalu bangun dari duduknya
Nafisa berjalan pelan keluar rumah, ia sangat kesulitan dengan keadaan kakinya yang sulit di gerakkan. namun Nafisa terus berjalan meskipun hujan turun dengan lebatnya, membasahi tubuhnya yang lemah. menangis tanpa ada yang tahu
jauh berjalan hingga hujan reda, namun ia tak tahu ingin kemana, dirinya hanya terus berjalan tanpa arah. yang terpenting dirinya menjauh dari Bima dan Risana.
saat bersamaan ada dokter Noval lewat, dari dalam mobilnya dokter Noval merasa kenal dengan wanita yang berjalan di pinggir trotoar. segera dokter Noval menepikan mobilnya lalu menghampiri wanita tersebut
"Nafisa". ucap dokter Noval memegang pundak wanita tersebut
"dokter Noval". ucap Nafisa dengan wajah lekahnya
"kamu ngapain disini? kamu sama siapa?". tanya dokter Noval cemas memegang kedua pundak Nafisa
namun Nafisa hanya menangis meneteskan air matanya tanpa henti, tak tega melihat Nafisa menangis, dokter Noval segera mengajak Nafisa masuk kedalam mobilnya
"ayo ikut aku Sa, kamu jangan di jalan sendirian, bahaya buat kamu". ucap dokter Noval menggiring Nafisa masuk kedalam mobilnya
dokter Noval masih nampak penasaran kenapa Nafisa bisa berada di jalan sendirian tanpa ada Bima atau Risana. sesekali dokter Noval melihat kearah Nafisa ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi
"Sa, sebenarnya kamu kenapa?". tanya dokter Noval
"aku pergi dari rumah Val, aku bertengkar dengan adik ku". ucap Nafisa masih menutupi dari dokter Noval
"adik kamu siapa Sa?". tanya dokter Noval berpura pura tidak tahu
"adik madu ku". ucap Nafisa menatap kedepan
"jadi kamu punya adik madu?". tanya dokter Noval pura pura tidak tahu, karena ia ingin mendengar langsung dari mulut Nafisa
"iya, aku punya adik madu, aku yang memilihnya sendiri, aku yang meminta dia menikah dengan suami ku karena aku tidak bisa memberikan keturunan. apalagi aku mempunyai tumor sangat sulit untuk mempunyai anak. sedangkan suamiku anak satu satunya, aku kasihan setiap melihat dirinya apalagi teman temannya sudah memiliki anak bahkan lebih dari satu. aku mencoba berfikir, mungkin dengan menyuruhnya menikah lagi akan membuat hidupnya lebih baik, ia akan memiliki seorang anak dari darah dagingnya sendiri. namun karena suatu hal suamiku beberapa minggu ini membiarkan adik maduku, dan lebih perhatian dengan ku. hal itu membuat adik madu ku tak terima". ucap Nafisa lirih pandangannya kosong dengan air mata yang menetes
ada rasa marah di hati dokter Noval, kenapa Nafisa harus tersakiti, apalagi dengan keadaannya sekarang, seharusnya Nafisa tidak boleh mendapat tekanan seperti ini, hati dokter Noval merasa sakit melihat Nafisa tersakiti.
"kamu yang sabar ya Sa". ucap dokter Noval merasa iba
__ADS_1