Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
menantu kesayangan (93)


__ADS_3

surat demi surat telah Bima baca, setiap surat air matanya terus berlinang. dan sampailah pada surat dimana Nafisa pergi dari rumah. ia tak bermaksud menyakiti hati Bima atapun menyalahkan Risana. namun inilah kenyataannya, Nafisa pergi karena Risana.


hati Bima kian hancur, kenapa Risana bisa setega itu dengan Nafisa, padahal Risana tau Nafisa sedang sakit. apa dia tidak ingat karena siapa Risana sekarang menjadi istrinya Bima, bukan kah karena Nafisa?.


Bima tak tau harus mengambil sikap bagaimana, disisi lain ia marah dengan Risana. namun setelah ingat kandungan Risana, hati Bima tak tega jika marah ataupun benci dengan Risana.


"Ya Allah rumah tangga ku hancur karena istri kedua ku. hamba harus bagaimana ya Allah menyikapi Risana?. aku tidak bisa meninggalkannya, namun karena Risana, Nafisa pergi hingga meninggal". oceh Bima, ia bingung harus berbuat apa


"Umi, maafkan Abi selama ini percaya dengan Risana". gumamnya sambil menatap langit


Bima ingat, kematian, inilah yang di janjikan Bima dan Nafisa dulu saat menikah. mereka hanya akan berpisah saat maut memisahkan. dan sekarang janji tinggal lah janji. kenyataan nya mereka lebih dulu berpisah sebelum maut memisahkan


kini Bima tau, betapa besar cinta dan pengorbanan Nafisa untuknya, yang ada sekarang hanya penyesalan.


di pantai angin berhembus pelan, sesekali menyejukkan hati Bima yang panas. ia berjalan pelan ke bibir pantai, mengingat masa indah bersama Nafisa. mengenang wajah Nafisa yang manis yang selalu penuh senyum


di sisi lain, dokter Noval kembali ke makam Nafisa. ia mencium nisan Nafisa yang terdapat nama Nafisa, dokter Noval masih tidak kuasa atas kepergian Nafisa. ia menangis sesenggukan, mengusap tanah merah yang penuh bunga.


"kenapa?. kenapa kamu harus pergi secepat ini ? tepat di saat aku sudah membuka kembali hati ku untuk wanita lain. kenapa Sa. kenapa kamu tidak memberiku kesempatan untuk membahagiakan mu". tangis dokter Noval menatap pusaran Nafisa


"biarpun setiap hari aku menangisi mu, air mata ku takkan pernah habis Sa. aku ingin kamu tau, bahwa kamu tak akan tergantikan".


"Sa, apa kamu juga akan rindu dengan ku di sana?. ini berat untukku Sa, kenapa aku harus kehilangan dua wanita yang aku cintai". gumam dokter Noval dengan lirih


ia masih saja tak percaya jika Nafisa sudah pergi untuk selamanya. terkadang hidup memberi pelajaran, bahwa tak semua yang kita harapkan akan sesuai dengan yang kenyataan.


kadang kita harus di paksa menerima kenyataan yang menyakitkan, namun, Allah tau yang terbaik untuk hamba Nya.


di kediaman Ayah nampak masih banyak pelayat yang datang, karangan bunga banyak berjejer dan terus bertambah memberi ucapan bela sungkawa atas kepergian Nafisa


di sudut ruang tamu, Bunda membuka album kenangan Nafisa. nampak Bunda melihat foto Nafisa dengan mata berkaca kaca, foto dari Nafisa bayi hingga dewasa tersimpan rapi di album


setiap foto, Bunda usap dengan lembut. tak pernah terbayangkan jika Nafisa akan pergi secepat itu meninggalkan Bunda dan Ayah. di samping Bunda ada adik Nafisa mencoba menenangkan Bunda


"lihat Ka, kakak kamu cantik kan. dia memang cantik dari kecil juga cerdas". ucap Bunda menatap foto Nafisa saat masih muda


"iya Bun, Bunda yang sabar ya. Aska juga sangat kehilangan kakak, apalagi selama ini Aska jarang bertemu dengan kakak. dan sekarang setelah bertemu malah menjadi pertemuan terakhir". ucap Aska memeluk Bunda

__ADS_1


Aska adalah adik kedua Nafisa, ia kuliah di luar kota mengambil jurusan hukum. Aska berharap bisa membela orang yang tidak bersalah jika dirinya menjadi pengacara nanti. setelah di beri kabar Nafisa meninggal, Aska langsung pulang untuk melihat kakaknya untuk terakhir kali.


sedangkan Bima pulang kerumah Abah, ia ingin mencari solusi dari masalah rumah tangganya. selama ini Bima menutupi semua dari Abah, Bima takut jika Abah tau, Abah akan menyakahkan Bima.


dengan langkah gontai Bima berjalan masuk kedalam rumah Abah yang kebetulan pintunya terbuka. sesampainya di ruang tamu, Bima duduk dengan lelahnya.


kemudian dari arah dapur datang Umi fatma yang terkejut dengan kedatangan Bima.


"Bim, ada apa datang kemari?". tanya Umi fatma di sebrang Bima


"aku pengen ketemu Abah Um. dimana Abah?". tanya balik Bima


"Abah sedang keluar sebentar. kamu tunggu saja ya". ucap Umi Fatma lalu duduk di sofa


"Bim, gimana kabar Nafisa?. kalian tidak jadi bercerai kan?". tanya Umi fatma penasaran


"maaf kan aku Umi. tidak memberi tahu Umi dan abah". ucap Bima dengan tangis


"kenapa Bim. ada apa?". tanya Umi Fatma semakin penasaran


"Nafisa sudah meninggal Um. pemakamannya tadi siang". ucap Bima menatap Umi Fatma


"Innalillahi wainnalillahi rojiun. kapan Bim meninggalnya? kenapa tidak memberi tahu Umi". ucap Umi Fatma dengan sedihnya


"aku tidak tahu Um. aku cuma datang pas pemakaman, setelah dari pengadilan aku lanhsung kesana". ucap Bima dengan lesu


"ya Allah Nafisa, kenapa nasib kamu kasihan sekali. semoga surga untuk mu nak. karena kamu orang yang baik, istri yang solehah. menantu kesayangan Umi". ucap Umi Fatma tak kuasa menahan tangis


hingga larut malam, Bima sama sekali tidak menghubungi Risana. rasanya enggan untuk Bima jika harus mendengar suara Risana, karena masih merasa kecewa dengan Risana. di taman depan rumah, Bima mengobrol dengan Abah.


Bima meminta pendapat Abah, bagaimana menyikapi Risana yang telah tega mengusir Nafisa dari rumah hingga terjadi salah paham, dan akhirnya membuat Bima dan Nafisa bercerai


"menurut Abah, ya kamu bimbing Risana dengan baik. dia juga istri kamu, baik buruknya istri itu tergantung cara suami mendidiknya. kembali dengan Risana, didik dia menjadi lebih baik. yang sudah berlalu jadikan pelajaran agar tidak terulang lagi. dan kamu Bima, menjadi lah dewasa, apalagi menyikapi masalah rumah tangga kamu. kamu harus bisa menyelesaikan nya sendiri dengan orang tua Nafisa, meminta maaflah, meskipun tidam semuanya salah kamu". ucap Abah panjang


"kenapa saat Nafisa pergi dari rumah, kamu tidak memberitahu Abah?". tanya Abah


"aku takut kalo Abah marah, aku pikir, aku bisa mengatasi semua masalah Nafisa, namun malah menjadi seperti ink". ucap Bima menunduk

__ADS_1


Abah ingin Bima paham akan arti berumah tangga, meskipun Bima sudah dewasa dan paham akan agama. namun kedewasaan seseorang tidak tergantung usia dan pendidikan, melainkan cara pola pikir orang itu sendiri.


"besok Abah akan kerumah Ayah Nafisa, Abah mau ngelawat, sekalian permintaan maaf karena anak Abah ini tidak bisa menjaga Nafisa". ucap Abah dengan serius


"tapi malam ini aku nginep disini ya Bah. udah kemaleman". ucap Bima


"hubungi Risana dulu, dia mungkin khawatir, apalagi dia sedang hamil besar". ucap Abah


"iya Bah". ucap Bima lalu mengambil handphone nya


Bima segera menghubungi Risana, lewat sambungan telepon Risana dengan manjanya bertanya dimana Bima berada. susah untuk Bima berucap manis dengan Risana setelah Bima tau betapa jahatnya hati Risana


"aku ada di rumah Abah, besok baru pulang". ucap Bima datar


"kenapa nggak ngajak aku mas?. aku juga pengen kesana". ucap risana manja


"sudah dulu ya, mas capek mau istirahat". ucap Bima lalu mematikan sambungan telepon nya


"mas. mas. aku belum selesai ngomong". pekik Risana dengan nada tinggi


"mas kamu tu kenapa lagi sih, baru juga kemarin baik bersikap manis, sekarang udah beda lagi". ucap Risana dengan tangan di lipat di dada


ia merasa sangat kesal dengan sikap Bima, padahal Risana sudah menjadikan hamilnya sebagai alasan supaya Bima selalu perhatian dengannya.


"mas aku butuh kamu". ucap Risana merengek


***


di ruman dokter Yuda, ia masih saja di temani Monica. hari harinya hanya bersama Monica, kemanapun bersama Monica.


saat itu Monica mengajak dokter Yuda berkunjung kerumah sakit miliknya, Monica ingin mengenalkan dengan semua pegawai dokter Yuda, bahwa sebentar lagi mereka akan menikah.


orang tua dokter Yuda sangat setuju dengan Monica, menurut mereka hanya Monica yang peduli dengan Yuda, dan berpikir monica adalah wanita yang baik, begitupun orang tua Monica, mereka juga sangat setuju


saat memasuki ruangan nya, dokter Yuda mulai mengingat sekilas wajah Risana. ia mengingat senyum Risana, ia ingat pernah berciuman dengan Risana. ingat potongan potongan kejadian dengan Risana, membuat kepala dokter Yuda semakin sakit


semakin ia mencoba mengingat, kepalanya semakin sakit, hingga ia jatuh kelantai sambil memegang kepalanya.

__ADS_1


"yuda, Yud. kamu nggak apa apa Yud?". tanya Monica panik memegang tangan dokter Yuda


tapi dokter Yuda semakin teriak kesakitan menahan kepalanya yang semakin sakit. Monica yang panik segera menghubungi suster agar membantu dokter Yuda yang kesakitan


__ADS_2