Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
balas dendam (77)


__ADS_3

"Umi, tadi Umi yang buatin susu untuk Risana?". tanya Bima duduk di tepi ranjang menatap mata Nafisa


"iya Abi, Risana kan baru pulang dari rumah sakit, jadi susu ibu hamil bagus buat kesehatan kandungannya". ucap Nafisa berbaring di ranjang tidurnya


"gara gara Umi ngasih susu, alergi Risana jadi kumat, badannya memerah semua, jadi besok harus kedokter". ucap Bima masih menatap Nafisa


"maaf Abi, Umi tidak tahu jika Risana alergi susu ,Umi cuma pengen kandungan Risana sehat". ucap Nafisa menyesal


hati Nafisa kian sakit, kenapa Bima bilang itu gara gara dirinya, harusnya Risana tidak meminum susu yang di berikannya jika memang dia alergi susu. di tepi ranjang Bima masih saja menatapnya, matanya kian menatap serius seakan emosinya meninggi


"lain kali tanya dulu, kalo udah gini kan kasihan Risana, badannya memerah panas semua". ucap Bima mengingatkan dengan tatapan serius


"maaf Abi". ucapnya lirih dengan menahan tangis di hatinya


Bima diam cukup lama mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia tak tega jika menyakiti hati Nafisa, apalagi cuma karena hal sepele. entah mengapa jika Risana yang kesakitan emosi Bima kian naik, Bima merasa tak terima jika Risana merasakan sakit.


"ya udah, Umi tidur ya, istirahat, malam ini Abi tidur di kamar Risana". ucap Bima mencoba meredam emosinya


Nafisa hanya diam tanpa membalas ucapan suaminya, dirasanya cukup Bima membuat hatinya sakit, terlebih ini bukan sepenuhnya salah dirinya.


tanpa mengecup kening seperti biasanya, Bima hanya berlalu meninggalkan Nafisa di ranjangnya. Nafisa semakin tak kuat menahan sakit yang kian terasa sesak didadanya, air mata yang sudah ia bendung sejak tadi, perlahan keluar menetes.


hatinya terasa sangat kesal dengan sikap Bima, Nafisa ingat akan ucapan Novita, "sedalam apapun pemahaman laki laki tentang agama, ia tak akan pernah bisa adil dengan istri istrinya. pasti, ia akan condong ke salah satunya".


"apa karena aku wanita yang tidak bisa memberikan keturunan lalu di perlakukan seperti ini?. mana cinta mu yang begitu besar untuk ku dulu mas, apa secepat ini semua harus berakhir?". gumam Nafisa mengusap pipinya yang basah


semalaman Nafisa mencoba untuk terlelap, namun fikirannya melayang kemana mana. Ia masih saja memikirkan sikap Bima, ia juga memikirkan ucapan Novita waktu lalu.


Nafisa masih tak menyangka jika sikap dan perlakuan Bima akan berubah total setelah Risana mengandung. di ranjang tidurnya Nafisa hanya diam menatap kearah jarum jam yang terus berputar.


rasanya Nafisa ingin memberhentikan waktu dan menata semua kembali seperti awal. jika di berikan pilihan, ia lebih memilih mempunyai badan sehat dan bisa mempunyai anak, pasti rumah tangganya dengan Bima akan bahagia selamanya.


***


Monica masih saja berkunjung kerumah dokter Yuda, ia masih setia menemani Yuda yang sekarang jiwanya sedang tidak sehat. di taman depan rumah, Monica mengajak Yuda bersantai sembari melihat ikan ikan berenang di kolam.


nampak Yuda duduk si sebuah gazebo di temani Monica di sampingnya. namun tatapan Yuda masih saja kosong, seperti orang yang mempunyai beban pikiran yang berat.


Monica yang melihat hidup Yuda hancur merasa tak terima, ia ingin membuat hidup Risana juga hancur dan tidak bahagia. di pikiran Monica terlintas niat jahat lagi, ia akan menyebarkan foto dan video percakapan antara Yuda dengan Risana


"kasihan kamu Yud menjadi seperti ini, padahal kamu orang yang baik. aku akan membalaskan semua untuk kamu Yud, aku nggak terima jika hidup Risana bahagia. hidup dia juga harus hancur sama seperti aku dan kamu". gumam dalam hati Monica menatap Yuda duduk disampingnya


Monica segera mengambil handphone nya, membuka foto dan video Risana bersama Yuda, lalu dikirmkan kepada orang suruhannya hingga semua orang tau jika Risana telah menjadi istri kedua dari Bima.


"Yud aku tinggal sebentar ya". ucap Monica berlalu meninggalkan Yuda di gazebo


lantas Monica berjalan agak menjauh dari Yuda untuk menghubungi seseorang melalui sambungan telepon.


"aku mau kamu sebar luaskan video tadi, jangan sampai ada yang tau identitas ku". ucap sinis Monica dengan seseorang pria dari handphone nya


"baik boss, akan aku laksanakan serapi mungkin. yang penting bayarannya". ucap pria tersebut


"jangan kuwatir soal bayaran, asal tugas kamu selesai dengan baik, langsung aku bayar lunas". ucap Monica lagi

__ADS_1


"nanti aku kirim kalimatnya". ucapnya lagi lalu mengakhiri percakapan dengan pria tersebut


"cantik, berpendidikan tapi malah jadi pelakor, mau jadi istri kedua dosennya sendiri. padahal dia udah punya kekasih yang baik dan sempurna lho, rela di tinggalin". tulis Monica lalu dikirim ke seseorang yang ia suruh tadi


setelah selesai Monica segera kembali menemani Yuda duduk di gazebo lagi melihat ikan ikan yang berenang.


"cantik ya Yud ikan ikannya". ucap Monica mencoba menghibur Yuda


namun Yuda hanya tersenyum kecil tanpa menatap Monica. meskipun begitu Monica tetap sabar menemani Yuda, merawat Yuda dengan kasih sayang.


disisi lain Risana masih merasakan panas di seluruh tubuhnya, ia histeris kesakitan marah marah kepada Bima karena tak tahan dengan alerginya. namun dengan sabar Bima mengusap tubuh Risana dengan bedak, mencoba meringankan sedikit rasa panasnya


"sabar sayang, nanti sore kita kedokter ya". ucap Bima masih mengusap wajah Risana dengan bedak


"ini gara gara mbak Nafisa mas, ngasih aku susu". ucap Risana kesal dengan wajah di manyunkan


"Nafisa kan nggak tau kalo kamu alergi susu, kamu juga, udah tau alergi masih di minum susunya". ucap Bima sedikit kesal


"kan aku lupa mas, coba kalo nggak di kasih susu, kan aku nggak minum susu". pekik Risana menyautkan kedua alisnya


"iya iya, nanti sore kita ke dokter, jangan marah marah lagi ya, kasihan dedeknya". ucap Bima mengusap pipi Risana dengan lembut


"iya mas". balas Risana manja dengan bibir manyunnya


melihat Risana manja Bima langsung memeluknya, mengecup Kening istri mudanya. ia berharap agar Risana tak merasa sakit lagi, setelah kemarin mengalami kecelakaan dan sekarang mengalami alergi.


sorenya Risana sudah bersiap berdandan cantik di kamarnya, ia duduk di depan meja rias menatap dirinya penuh rasa bangga karena sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.


sedangkan Bima berada di kamar Nafisa sedang bersiap, di depan almarinya ia memilah baju untuk di kenakan periksa kedokter dengan Risana, nampak Bima sedang memakai kemeja berwarna biru muda dengan celana panjang berwarna coklat susu.


Bima melangkah menuju arah Nafisa yang hanya tiduran di ranjang, Bima ingin meminta ijin jika dirinya akan mengantarkan Risana ke dokter kulit, perlahan Bima duduk di tepi ranjang, menatap wajah Nafisa yang begitu pucat.


perlahan Bima memegang tangan Nafisa, dirasakannya badan Nafisa begitu panas. terlihat di dahi Nafisa keluar keringat dingin bercucuran. Bima mulai panik, ia mencoba membangunkan Nafisa namun sama sekali tak ada jawaban. berkali kali Bima menggoyangkan badan Nafisa, namun Nafisa tidak merespon.


tanpa pikir panjang Bima segera menggendong Nafisa keluar menuju mobilnya, ia meminta bantuan Bik Sumi agar membukakan pintu gerbang


dengan cepat Bima berjalan dengan Nafisa yang berada di gendongannya, lalu membaringkan Nafisa di kursi depan dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


sesekali Bima melihat ke arah Nafisa yang diam tanpa bergerak, di wajahnya nampak kecemasan yang berlebih. kali ini dia benar benar lupa jika akan pergi dengan Risana ke dokter kulit. berkali kali Risana hubungi namun tak ada jawaban dari Bima


di kamarnya Risana berdiri di depan pintu menunggu Bima. merasa kesal, Risana mencoba menghubungi mbak Anik, ia menyuruh mbak Anik untuk mencari dimana keberadaan Bima.


"mbak mas Bima dimana ya, tolong bilang kalo di tingguin aku di kamar". ucap Risana melalui sambungan telepon


"sebentar saya tanya sama Bik Sumi ya non". ucap Mbak Anik bangun dari duduknya dan berlalu menuju dapur di mana Bik Sumi berada


"Bik, Tuan Bima dimana Bik? di cariin sama Nona Risa". tanya mbak Anik sedikit berbisik kepada Bik Sumi yang sedang mencuci piring


"tadi Tuan nganterin Nyonya kerumah sakit, karena badannya sangat panas sampe tidak sadarkan diri". ucap Bik sumi pelan kepada mbak Anik takut Risana mendengar


"itu anu Non, Tuan, sedang nganterin Nyonya kerumah sakit, kata Bik Sumi Nyonya badannya sangat panas dan pingsan". ucap Mbak Anik terbata, karena takut akan kemarahan Risana


tanpa ucap kata, Risana begitu saja mematikan sambunga teleponnya dengan Mbak Anik. perasaan Risana semakin kesal saat tahu jika Bima malah mengantarkan Nafisa kerumah sakit, padahal Bima sudah berjanji akan mengantarkan nya ke dokter kulit.

__ADS_1


"pasti Mbak Nafisa sengaja biar di perhatikan sama mas Bima". gumam Risana berjalan kearah ranjangnya


"aaahhhkkk kenapa selalu gini sih, aku capek gini terus. aku pengen kamu cuma perhatian sama aku mas, nurutin semua yang aku mau". teriak Risana merasa kesal


tau akan teriakan majikannya, Bik Sumi dan mbak Anik bergegas naik ke lantai dua dimana kamar Risana berada. Bik Sumi dan mbak Anik hanya mendengar tangisan Risana dari luar kamar, karena takut untuk bertanya. pasti nanti Risana akan marah jika urusannya ada yang ikut campur.


sedangkan di ruang tunggu perasaan Bima sangat khawatir, ia khawatir akan kesehatan Nafisa. namun kali ini ia lebih nampak tenang, ia mampu menguasai emosinya. kali ini Bima merasa lelah karena harus bolak balik rumah sakit. baru saja kemarin Risana pulang, sekarang gantian Nafisa masuk lagi kerumah sakit.


Bima menarik nafas panjang, memikirkan kehidupannya yang beberapa bulan belakangan selalu berada di rumah sakit. ia tak tau harus bagaimana lagi, dengan tenang ia menunggu Nafisa yang di tangani di UGD, namun masih dengan rasa khawatirnya.


seketika terlintas di pikiran Bima, ia ingat jika ada janji dengan Risana mengantarkan nya ke dokter kulit. ia segera mengambil handphone miliknya lalu menghubungi Risana namun tak.ada jawaban dari Risana


berkali kali ia panggil namun sama tak ada jawaban dari Risana. Bima tahu, pasti Risana marah karena dirinya tak kunjung datang menemuinya.


merasa pasrah, Bima memasukkan kembali handphone nya kedalam saku celana dan berjalan menuju pintu UGD. hati Bima kali ini benar bebar di buat bingung, ia di pilihkan pada dua pilihan yang sama sama ia anggap penting. di depan pintu UGD Bima berdiri cemas, ia ingin segera menemui dokter yang menangani Nafisa untuk menanyakan bagaimana keadaan Nafisa.


lama menunggu akhirnya dokter yang menangani Nafisa keluar dan mencari keluarga dari pasien. Bima segera melangkah menuju kearah dokter yang menangani Nafisa.


"keluarga pasien". ucap dokter wanita di depan pintu UGD


"iya dok, saya suami dari pasien". ucap Bima dengan wajah cemasnya


"bisa ikut saya pak, ada yang harus di bicarakan dengan serius". ucap dokter menatap mata Bima serius seakan dunia akan hancur


"iya dok". ucap.Bima sembari menganggukkan kepalanya


setelah mendapat persetujuan dari Bima, dokter segera melangkah menuju ruangan dokter diikuti Bima dari belakang dengan langkah cepat.


sesampainya di ruangan dokter Bima di persilahkan duduk di kursi pasien untuk membicarakan mengenai kanker Nafisa


"silahkan duduk pak". ucap dokter Ratna mempersilahkan


"pak, kanker istri bapak penyeberannya sudah serius. setelah di lakukan pemeriksaan kanker istri bapak sudah memasuki stadium tiga B. kanker stadium ini biasanya sudah menyebar di rahim bagian tengah dan juga saluran kencing. kemungkinan kesembuhannya hanya 60% pak". ucap dokter Ratna serius menjelaskan kanker Nafisa yang sudah meluas


"lalu pengobatannya bagaimana dok?". tanya Bima dengan hati yang begitu hancur


"kanker ini kemungkinan akan menyumbat saluran ginjal. pada tahap ini kanker juga mungkin menginvasi kelenjar limfa terdekat sehingga sangat rentan untuk mengalami metastasis atau penyeberan ke organ lain dalam tubuh. untuk pengobatannya bisa di lakukan radioterapi di barengi dengan kemoterapi". ucap dokter menjelaskan dengan serius


Bima hanya diam meratapi nasib istri tua nya yang begitu pilu, Nafisa harus menjalani beberapa pengobatan kimia yang mungkin akan mengganggu organ lainnya.


Bima keluar dari ruangan dokter dengan hati yang hancur, istri yang selama ini ia nomor duakan sekarang keadaannya semakin memprihatinkan. bagaimana jika Nafisa tidak selamat? pikiran Bima mulai kemana mana. dengan langkah gontai Bima berjalan menuju ruang UGD


rasa di hatinya kian menyesal mengingat kejadian kemarin saat dirinya menegur Nafisa karena memberikan Risana susu, Bima menatap wajah Nafisa yang pucat, tak terasa air matanya menetes, menggenggam tangan Nafisa yang sekarang tinggal kulit dan tulang.


"maafkan Abi, karena tak bisa menjaga Umi". ucap Bima menyesal


tangisan Bima berhenti saat ada pesan masuk dari handphone nya, segera Bima mengambil handphone nya dari saku lalu membuka layar nya.


ternyata pesan dari grup di kampusnya, pesan itu membahas tentang Risana yang ternyata menjadi istribkedua dari dosennya sendiri yaitu dirinya. di grup juga terdapat foto dan video Risana bersama mantan kekasihnya.


Bima ingat jika dirinya pernah bertemu dengan seseorang yang berfoto di samping Risana.


"ini kan sepupunya dokter yang kemarin yang di kenalkan sama Nafisa". gumamnya lirih melihat layar handphone nya

__ADS_1


__ADS_2