Salah Memilih Madu

Salah Memilih Madu
cinta yang tulus (74)


__ADS_3

Novita melihat ada cinta yang tulus dari mata dokter Noval, Novita tahu dari cara dokter Noval melihat Nafisa, saat berbicara dengan Nafisa, sikapnya kepada Nafisa semua menunjukkan jika ada perasaan khusus untuk Nafisa.


saat diruangan dokter Baskoro nampak Nafisa dan Novita duduk di sebrang dokter Baskoro, sedangkan dokter Noval berdiri di belakang Nafisa. menemani Nafisa hingga selesai kontrol dengan dokter Baskoro.


setelah di lakukan pemeriksaan ulang, wajah dokter Baskoro masih saja sperti sebelumnya, terlihat cemas dan mengerutkan dahi, seperti orang yang sedang memikirkan hal besar.


melihat wajah dokter Baskoro tak biasa Novita mencoba menanyakan hal yang serupa seperti dokter Noval, ada apa dengan hasil pemeriksaan nya.


"iya dok, kenapa dengan hasil pemeriksaannya, kenapa wajah dokter sangat serius sekali?". tanya Novita penasaran dengan rasa khawatir


"Bu Nafisa ini merupakan kabar baik, sebagian sel kanker di tubuh anda sudah mati. minggu depan bisa di pastikan Bu Nafisa bisa menjalani kemoterapi lagi. untuk itu Bu Nafisa harus rutin minum vitamin dan menjaga kesehatan. serta jangan memikirkan hal lainnya dulu". ucap dokter Baskoro tersenyum


"alhamdulillah, kamu akan sembuh Sa". ucap Novita dengan senyum menatap wajah sahabatnya


Nafisa juga nampak tersenyum bahagia mengetahui sebagian sel kankernya sudah mati. meskipun tidak keseluruhan namun ada harapan untuk dirinya sembuh dari penyakit yang menyiksa dirinya.


"ini resep untuk vitaminnya, nanti di taruh di bagian farmasi". ucap dokter Baskoro memberikan selembar kertas kepada Nafisa


"terimakasih dok, kami permisi dulu". ucap Novita lalu berdiri dari duduknya


mereka berslaman berpamitan satu sama lain, dokter Noval juga nampak bahagia, namun di hatinya masih ada yang di khawatirkan, namun entah apa itu ia tidak tahu.


sepanjang menyusuri lorong rumah sakit Novita mencoba mendekatkan dokter Noval dengan Nafisa, menurut Novita dokter Noval adalah orang yang tepat untuk Nafisa. meskipun Novita belum tahu status dokter Noval yang sebenarnya.


"dokter Noval". ucap Novita menatap dokter Noval dari arah samping


"iya". jawab dokter Noval menatap Novita sekilas


"bagaimana kalo kita makan siang bersama di luar. bersama Nafisa juga, bisa kan dok?". tanya Novita dengan senyumnya


"eemmm boleh, kebetulan saya juga ingin makan di luar". jawab dokter Noval setuju dengan ajakan Novita


namun di wajah Nafisa menunjukan jika dirinya tidak mau makan siang bersama dokter Noval. melihat itu Novita mencoba membujuk sahabatnya supaya mau makan siang bersama. menurut Novita ini kesempatan mengenal lebih jauh dokter Noval


"kamu nggak keberatan kan, itung itung ini syukuran karena kamu akan sembuh Sa". ucap Novita membujuk dengan senyum genitnya

__ADS_1


Nafisa hanya mengangguk menerima ajakan Novita, menurut Nafisa ia juga butuh merefresh pikirannya, apalagi selama beberapa bulan kemarin jarang keluar rumah. setelah sampai di ruang farmasi dokter Noval menyerahkan resep milik Nafisa dan meminta agar di dahulukan.


"ini Sa obat kamu". ucap dokter Noval menyerahkan plastik berisi obat kepada Nafisa


"terimakasih dok". ucap Nafisa menerima plastik berisi obat dari dokter Noval


setelah nya Novita, Nafisa dan dokter Noval pergi bersama menggunakan mobil milik dokter Noval, awalnya Nafisa ingin duduk di belakang bersama Novita, namun di larang Novita dan dinsuruh duduk di depan bersama dokter Noval


"Nov, tapi aku sama dokter Noval bukan muhrim. jadi nggak baik duduk berdua dengan laki laki lain". ucap Nafisa saat ingin masuk di kursi belakang


"Sa, tapi ada aku di belakang, kalo kamu sama aku di belakang kan kesannya nggak sopan sama dokter Noval". ucap Novita berdiri di samping mobil berhadapan dengan Nafisa


"lagian kan kamu yang kenal dokter Noval bukan aku. udah gih sana duduk di depan. ayo ayo aku bantu naik". ucap Novita mendorong Nafisa pelan lalu membuka pintu mobil depan dsn membantu Nafisa naik kedalam mobil


selama perjalanan nampak ada rasa canggung didiri Nafisa, sedangkan dokter Noval sesekali melihat kearah Nafisa yang hanya diam melihat arah depan.


Novita sadar jika sahabatnya itu merasa tak enak hati dengan dokter Noval, lalu Novita mencoba mencairkan suasana dengan mengobrol dengan dokter Noval


"enaknya kita makan di mana ya dok?". tanya Novita melihat dokter Noval dari belakang


"kamu gimana Sa, jangan diem aja dong". ucap Novita dengan tawa menggoda


"aku terserah kamu sama dokter Noval aja". ucap Nafisa lirih


"oke kita kesana". ucap dokter Noval semangat


"oh iya, kalo bisa panggil saya Noval saja. sekarang kita kan berteman, bukan pasien dengan dokternya". imbuh dokter Noval dengan senyumnya


"iya Noval". ucap Novita tersenyum sedangkan Nafjsa hanya diam tanpa ekspresi


tak lama akhirnya mobil yang mereka tumpangi telah sampai di restoran yang mereka tuju, setelah mendapatkan tempat parkir Novita segera turun dari mobil dan bergegas membantu Nafisa dari mobil juga.


di dalam hati dokter Noval ingin sekali rasanya membantu Nafisa, namun ia tahu jika Nafisa seorang istri yang patuh akan agamanya, jika ia sentuh pasti akan menolak.


dokter Noval hanya berdiri didepan mobil melihat Nafisa di bantu jalan Novita untuk masuk kedalam restoran.

__ADS_1


setelah mendapatkan tempat duduk dokter Noval memesan beberapa menu favorit di restoran tersebut. sembari menunggu Novita mencoba melempar beberapa pertanyaan untuk dokter Noval, karena Novita penasaran dengan status dokter Noval yang sebenarnya.


"kamu udah lama Noval kerjandi rumah sakit B?". tanya Novita menatap dokter Noval


"belum lama, baru sekitar 7 bulan". ucap dokter Noval


"terus sebelumnya dimana?". tanya lagi Novita


"sebelumnya aku di rumah sakit A di kota N, terus aku di minta Om Wijaya buat bantu ngurus rumah sakit B, soalnya anaknya yang sekarang agak susah di atur, ya terus aku pindah kesini sama anak ku juga". ucap dokter Noval menjelaskan


"jadi, kamu udah punya anak?". tanya Novita kaget karena ternyata dokter Noval sudah berkeluarga


"iya, aku punya anak dan istri satu, tapi". ucap dokter Noval menghentikan sejenak ucapannya


"tapi kenapa?". tanya Novita penasaran sedangkan Nafisa hanya diam mendengarkan


"istriku meninggal setelah melahirkan anak pertama kita, rasa itu masih saja menghantuiku sampai sekarang, aku masih merasakan beratnya di tinggalkan oleh seseorang yang aku cintai untuk selamanya. itu alasannya aku masih sendiri sampai sekarang". ucap dokter Noval, wajahnya berubah menjadi sedih


"maafin aku Val, aku nggak bermaksud buat kamu mengingat hal itu lagi". ucap Novita menyesal merasa tak enak hati dengan dokter Noval


"nggak apa apa Nov, mungkin emang udah takdir aku harus ditinggal lebih dulu". ucap dokter Noval dengan senyum kecil di bibirnya


"Sa, kamu kenapa diem aja?". tanya dokter Noval menatap Nafisa


"nggak apa apa Val". ucap Nafisa tersenyum kecut


"oh iya Sa, kamu masih bekerja di toko kue kemarin?". tanya dokter Noval menatap Nafisa


"masih Val, kalo nggak bekerja di situ mau dimana lagi?". ucap Nafisa menatap mata sahabatnya


"dia bukan bekerja di toko kue itu Val, melainkan toko kue itu milik Nafisa sendiri". ucap Novita menjelaskan yang sebenarnya


"tapi, kenapa dulu kamu melayani pembeli?". tanya dokter Noval merasa heran


"menurut aku nggak salah juga melayani pembeli, meskipun pemilik bukan berarti nggak boleh bantu kan?". ucap Nafisa menundukkan wajahnya

__ADS_1


__ADS_2