Sang Mantan

Sang Mantan
Part 1


__ADS_3

"Rey ... Kita salah ngelakuin ini, Aku takut orang-orang yang Aku sayang kecewa dan pergi ninggalin Aku..!" ucapku setelah meneguk habis minuman kaleng yang Ku ambil dari kantong putih berisi makanan dan minuman yang sebelumnya Rey beli di minimarket.


Rey hanya menoleh sekilas, kembali fokus dengan setirnya.


"Kita nggak bisa nerusin ini, udah cukup, Aku nggak mau pertaruhin rumah tanggaku hanya untuk kesenangan dan nafsu sesaat!" Tambahku lagi dengan sedikit memiringkan posisi dudukku menghadap Rey yang sedang menyetir.


Tapi Rey tetap saja dengan diamnya. Mengacuhkan omonganku. Dia menganggap ucapanku hanya luapan emosi yang ku keluarkan dan akan hilang begitu saja seperti yang sudah-sudah.


"Aku mau turun disini aja, percuma ngomong sama kamu, kamu ngga akan ngerti gimana perasaan Aku! Kamu ngga akan paham apa yang saat ini Aku rasain!" kataku penuh emosi.


Rey yang sedari tadi hanya diam, mulai membuka suaranya.


"Kamu apaan sih? Selalu begini, selalu aja mau mundur.. ayolahhh Tasya, keep calm.. Kita udah sejauh ini jalin hubungan." ucap Rey sambil menepikan mobilnya.


Aku dan Rey terdiam, membisu. Rey menatapku, sangaaaat dalam. Mataku yang sudah berkaca sejak tadi, menumpahkan airmata yang terasa begitu hangat dipipi.


'Kalau saja Aku mendengarkan dan nurut apa kata suami yang melarangku untuk ikut hadir diacara reuni SMA Ku, mungkin saat ini Aku tak berada di titik yang membuatku sangat bimbang.' gumamku dalam hati.


Ya, Rey adalah mantan pacarku ketika dulu Aku masih mengenakan seragam putih abu-abu ku. Rey bukan pacar pertamaku, tapi Dia sosok yang sangat lekat di hatiku, bisa dikatakan mantan terindahku. Aku tau Rey sangat mencintaiku, semua yang Dia lakukan selalu membuatku tersenyum dan bahagia. Tak pernah sekalipun Rey membuatku kecewa dan marah. Dia selalu ada, Dia selalu tau apa yang aku mau, Dia selalu bisa membuat Aku nyaman dan ingin terus berada di sampingnya.


Tp takdir berkata lain, setelah lulus SMA, Om Indra (Papa Rey) dialihkan tugas ke Surabaya, dan otomatis Rey melanjutkan sekolahnya juga di sana. Pernah Rey meminta ke orangtua nya untuk tetap bersekolah di Jakarta, tp mereka tidak mengijinkan, Mama Papa Rey ingin Rey kuliah di Surabaya, tinggal bersama mereka.

__ADS_1


Saat itu, kami Los kontak, tak ada kabar, tak ada kata putus. Hingga aku lulus kuliah, dan bekerja diperusahaan yang sama dengan Vino, Suamiku. Setelah melahirkan, Aku resign dari pekerjaanku, untuk fokus mengurus putriku. Dan kembali bekerja di perusahaan lain ketika Maya putriku telah berusia 6 tahun, hingga saat ini Maya sudah berusia 9 tahun.


"Loh ... Sya? Kok malah nangis? Kamu ini kenapa?" kata Rey mengusap airmataku, membuatku tersadar dari lamunan masa lalu Ku.


"Aku capek, mau pulang aja." Kataku singkat.


Kami memang sudah menjalin hubungan terlarang ini cukup lama, sejak 1 minggu setelah acara reuni SMA itu, sekitar hampir 2 tahun.


Awalnya Kami hanya ingin menuntaskan hubungan Kami yang menggantung sejak lama, tapi Rey menggodaku dengan perhatiannya yang selalu bisa membuatku takluk sejak dulu. Dan sejak saat itu, Kami selalu bertemu menghabiskan waktu dengan kemesraan seperti sepasang kekasih. Hubungan kami terbilang di luar batas, hingga Aku rela memberikan semuanya ke Rey.


"Ayolah Sya, masih pagi. Kamu udah ijin ngga ngantor, trus mau pulang? di Rumah aja? Oke, kita kerumah aku aja ya, istirahat dulu disana kalo emang Kamu capek." ajak Rey sambil kembali menyalakan mobilnya.


Seperti biasa Aku tak bisa menolak, hanya diam, tanda Aku mengiyakan ajakannya. Rey memang telah membungkam hatiku, membungkam Aku agar tak bisa berpaling darinya. Ku akui perasaan ini sungguh menyiksaku, Aku ingin selalu bersama Rey, tapi Aku juga tak mau meninggalkan keluargaku.


*****


"Ayah, besok libur kan?" tanya Maya setelah meneguk susu yang biasa ku siapkan dimeja makan untuknya.


Setiap mau akhir pekan, Maya selalu tak pernah lupa bertanya. Vino, Ayahnya tak selalu libur di akhir pekan, sejak naik jabatan menjadi asisten presdir. Waktu akhir pekannya tak jarang dihabiskan dengan menemui klien2 nya diluar kota bahkan luar negeri.


"Ayah belum tau sayang, nanti Ayah liat schedule dulu di kantor ya, mudah-mudahan besok libur, memang Maya mau kemana?" tutur Ayah menjelaskan dan balik bertanya ke Maya, putri kesayangannya yang selalu Ia turuti kemauannya sejak kecil.

__ADS_1


"Ya mau holiday lah Yah, terakhir liburan kan Kita 2 bulan yang lalu. Ayah full ngga ada liburnya." ucapku ketus menyerobot pertanyaan vino yang seharusnya Maya jawab.


"Bunda ihh, yang ditanya siapa yang jawab siapa." kata Maya yang tak kalah ketusnya, dengan bibir manyun dan lirikan mata sinis ke arahku.


Aku tertawa dengan suara cukup kencang, disusul vino dengan gelak tawanya sambil tangan dikepal dan menutupi mulut seraya ingin batuk.


"Bunda! Ayah! Rese banget, pokonya besok Aku mau liburan, 2 hari! Ayah harus ambil cuti. Ngga mau tau, Bunda juga!" cerocos Maya dengan marah manjanya.


Maya menghabiskan susunya yang tersisa, kemudian mengenakan tas sekolahnya yang sebelumnya ia letakkan di kursi membelakangi tubuhnya. Maya berlalu dan lenyap tak terlihat terhalang pintu utama rumah. Maya memang manja, anak tunggal yang selalu diutamakan keinginannya. Jika ia sudah bicara A, maka aku dan vino harus ikut A. Ya, kami selalu memanjakannya.


"Ya udah Bun yuk, kasian Maya, takut kelamaan nunggu." Ajak vino menyuruhku agar mengikutinya menyudahi sarapanku.


Rumah tanggaku terlihat harmonis dan selalu bahagia, bukan hanya terlihat saja, tapi memang benar adanya. Aku selalu menomor satu kan kepentingan keluarga. Kehidupan rumah tanggaku begitu sempurna, Ku akui, Aku pandai sekali berbagi waktu dengan Rey, selingkuhanku. Hingga sampai saat ini vino suamiku tak pernah punya pikiran negatif tentangku. Aku memang berhianat, tapi itu tak membuatku lupa dengan keluargaku, suami dan putriku. Tak sedikitpun membuatku berubah.


Aku juga bingung, kenapa Aku bisa terjerat cinta terlarang ini bersama Rey. Meski kami berpisah tanpa keputusan, dan masih sama-sama menyimpan rasa, tapi dari hati terdalamku, tak pernah terbesit sedikitpun untuk memulai itu semua. Tapi sekarang kenyataannya Aku berada dititik itu.


*****


'Drrrtttt.. drrrrtt.." ponselku bergetar.


Kulihat layar ponselku, terdapat nama yang selalu tak pernah absen meneleponku. Baru saja komputer dihadapanku menyala, Rey sudah menghubungiku.

__ADS_1


Kuangkat panggilan Rey diponselku.


"Ya Rey, kenapa? Ngopi? Ngeteh?" tanyaku memastikan. Rutinitas kami setiap pagi memang seperti itu, setibanya di Kantor, Aku dan Rey pasti selalu ke kafe yang berada tepat dibelakang Kantorku. Sekedar rilex, sebelum otak Kami berkutat dengan monitor. Kantor Rey tak jauh dari Kantorku, hanya berbeda gedung, tapi masih satu deretan. Karna alasan itu juga kami sering bertemu, dan semakin dekat.


__ADS_2