Sang Mantan

Sang Mantan
Part 14


__ADS_3

"Assalamualaikum ...," kataku mengucap salam ketika pintu rumah Ku buka.


"Waalaikumsalam. Akhirnya Ibu pulang juga. Maya udah nungguin di meja makan dari tadi, Bu," kata Bu Iyem sambil menunjuk ke arah Maya.


'Syukurlah, Aku belum terlalu telat,' gumamku sembari berjalan cepat menuju kamar.


Aku tak mandi. Hanya bersih-bersih dan mengganti pakaianku. Khawatir akan memakan waktu lama lagi jika Aku mandi.


'Nanti ajalah mandinya sehabis makan,' kataku dalam hati saat melangkahkan kaki keluar kamar.


"Sayang, kenapa cuma diliatin makanannya?" kataku yang sudah duduk di sebelah Maya.


"Bunda kok nggak sama Ayah pulangnya? Ayah kenapa Bun, kenapa bisa ditangkap sama Pak polisi? Ayah kan baik, kenapa Ayah di bawa?" kata Maya dengan pertanyaan yang membuatku spontan membisu.


'Ya Allah ... kasian Maya, Dia masih terlalu kecil untuk bisa mengerti keadaan ini,' batinku menahan bendungan airmata yang kian terasa memenuhi kantung mata.


"Maya ... Ayah nggak kenapa-kenapa. Itu Kamu tau Ayah orang baik, nggak perlu cemas. Pak polisi cuma minjem Ayah sebentar kok. Percaya sama Bunda, Ayah pasti akan segera pulang nemuin Maya," kataku mencoba menenangkan Maya.


Maya tetap saja tak mau makan. Ia hanya duduk memainkan sendok dan garpu di tangannya. Kedekatannya dengan Vino membuat Maya sangat kehilangan sosok Ayah yang selama ini selalu menemani hari-hari nya. Aku bingung, mesti membujuk Maya dengan apa lagi agar Ia mau makan. Kata Bu Iyem sejak kejadian tadi pagi, Maya sama sekali tak mau makan.


"Maya ... sayang. Tadi Ayah titip pesan ke Bunda. Maya harus banyak makan, biar nggak sakit. Biar nanti pas Ayah pulang, Maya sehat, terus Ayah seneng ngeliatnya," kataku terus mencoba membujuk Maya.


Bibir mungilnya yang semula manyun, perlahan Ku lihat menyunggingkan senyum. Aku pun ikut tersenyum melihatnya. Tak buang waktu, segera Ku ambil piring di hadapannya. Menyendokkan nasi dan ayam rica-rica kesukaannya.


"Ini sayang, mau tambah capcay?" tanyaku sambil menyodorkan piring yang sudah Ku isi makanan ke Maya.


"Mau, Bun. Banyakin baso nya," kata Maya masih tersenyum.

__ADS_1


Ku sendokan capcay dan Ku taruh ke piringnya. Tak lupa Ku buatkan es teh manis untuknya. Maya makan sangat lahap. Seperti ada energi baru yang masuk ke tubuhnya setelah Ia mendengar pesan dari Vino yang Ku sampaikan tadi.


"Bun, Aku masuk kamar duluan ya. Mau istirahat. Bunda juga istirahat ya, biar besok pas Bunda jemput Ayah, Bunda keliatan seger," ucap Maya dengan tersenyum dan kemudian berlalu.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Maya benar-benar sangat mengharapkan Vino secepatnya kembali ke rumah ini. Ia tak tau kalau harus melewati hari tanpa Ayahnya dalam beberapa hari, minggu, bulan, bahkan bisa beberapa tahun ke depan. Aku tak kuat membayangkannya.


*****


Pagi-pagi sekali Aku dan Maya sudah siap di meja makan. Maya tengah menikmati roti bakar isi telur dan segelas susu putih hangat. Sementara Aku, hanya menyeruput kopi. Mata dan kepalaku terasa berat, karena semalaman Aku tak bisa tidur. Ku sibukkan diriku dengan membuka ponsel. Ku cari nama di kontak whatsapp. Dimas. Kebetulan statusnya sedang online. Segera Kukirim pesan, agar langsung Ia baca.


['Dim. Tolong cari info Rumah sakit tempat Rey dirawat. Gue mau liat kondisinya separah apa.']


Hanya beberapa detik saja, Ku lihat pesan yang Ku kirim langsung bercentang biru. Terlihat Dimas sedang mengetik balasan pesan untukku.


['Ok.'] balasan singkat dari Dimas pun masuk.


['Kan Lo bisa sendiri Dim, sepulang dari Rumah sakit, Gue pasti segera nemuin Vino.'] balasku dengan cepat, dan langsung memasukkan ponselku ke tas kecil yang sebelumnya Ku taruh di bangku samping Aku duduk.


Selesai sarapan. Aku langsung mengantarkan Maya ke sekolah. Biasanya Maya diantar Pak Dadang setiap harinya. Berhubung Aku mengajukan cuti satu minggu ke depan untuk mengurus kasus Vino, jadi Aku yang mengantar Maya selama Aku cuti.


"Bun, makasih ya. Aku sekolah dulu. Assalamualaikum," kata Maya mengucapkan salam seraya mencium tanganku.


"Iya, sayang. Kamu yang pinter ya. Waalaikumsalam," kataku membalas salamnya dengan mengelus lembut kepala Maya.


Ku tunggu sampai Maya benar-benar masuk ke kelas. Mataku mengekor sosoknya yang makin menjauh, hingga Maya terlihat sudah masuk ke salah satu pintu kelas yang berjejer.


"Drrrtttt ... Drrrtttt ..." suara ponsel mengagetkanku yang sedang melihat Maya dari kejauhan.

__ADS_1


Pesan whatsapp masuk. Dari Dimas. Ku tunda melihat pesannya sampai Aku sudah berada di dalam mobil.


['RS Keluarga Sejahtera. Jl. Juang Satria. Lantai 3, Ruang Pahlawan, Kamar No 16'] isi pesan dari Dimas.


Dimas memang sangat bisa diandalkan. Ku nyalakan mobil dan langsung menuju ke Rumah Sakit tempat Rey dirawat yang baru saja diberi tahu Dimas. Bukan tanpa alasan Aku menjenguk Rey. Aku ingin melihat kondisi Rey. Berharap Rey segera pulih dan sadar dari komanya. Karena selain Indri yang tak bisa Ku temui, cuma Rey yang bisa mencabut laporan tuntutan Indri yang di tujukan ke Vino.


Setibanya di Rumah Sakit, Ku susuri lorong demi lorong. Yang akhirnya Ku temukan ruangan di mana Rey di rawat. Saat Aku fokus mencari kamar No 16 seperti yang Dimas kirim melalui pesan whatsapp. Aku terhenyak, melihat seseorang yang terbaring lemah dengan alat medis di ranjang pasien, sedang di dorong terburu-buru oleh dokter dan beberapa petugas lainnya.


"Rey?" kataku terperangah melihat Rey yang terbaring.


Aku berlari kecil mengejarnya. Berusaha menghampiri dokter dan petugas medis yang membawa Rey dengan tergesa-gesa.


"Maaf dokter. Saya teman dekat Pasien. Ada apa dengan Rey? Kenapa Dia di pindahkan dari kamar sebelumnya?" kataku bertanya dengan langkah terus mengikuti mereka.


"Pasien kembali mengalami pendarahan di kepalanya. Kondisinya kritis. Pasien saat ini membutuhkan banyak tranfusi darah, dan harus segera dilakukan tindakan operasi," jawab salah satu petugas menjelaskan kondisi Rey saat ini.


'Astaga ... Rey ... Kamu harus kuat ... melihatmu seperti ini membuat Aku lemah. Aku mohon berjuang Rey ...,' batinku menangis.


Tak terasa airmataku jatuh tak tertahan. Kondisi Rey sampai separah ini. Bahkan sekarang Rey kritis, dan harus segera di operasi. Pikiranku melayang. Bayangan-bayangan buruk terlintas begitu saja di mataku. Segera Ku tepis semua.


Kini Rey sudah masuk ke kamar opname khusus sebelum menjalani operasi. Aku menjatuhkan diri di kursi tunggu yang tersedia di lorong ruangan. Aku menunduk, Ku pejamkan mata menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Beberapa saat kemudian, Ku dengar samar-samar dokter keluar dan berbicara serius dengan salah satu petugas medis.


"Suster. Tolong hubungi segera keluarga pasien. Kita kekurangan darah. Minta keluarga untuk mencari pendonor yang sesuai. Operasi tidak akan dilakukan bila stok darah masih kurang. Karena bisa fatal akibatnya. Itu saja. Terima kasih," kata dokter memberi pengarahan ke suster dengan nada yang terburu-buru.


"Baik dok," ucap suster singkat dan berlalu meninggalkan lorong.


'Rey kekurangan darah? Golongan darah nya kan sama denganku. Golongan darah yang memang sangat langka, AB negatif. Gimana bisa Dia dapet pendonor dengan golongan darah yang sangat langka dengan cepat?,' gumamku yang masih terpaku.

__ADS_1


Aku memang sangat membenci Rey. Tapi melihatnya dengan kondisi sekarang yang kritis, membuatku ikut merasakan sakit. Sakit yang amat perih melihatnya terbaring lemah. Berjuang melawan takdir, antara hidup dan mati.


__ADS_2