Sang Mantan

Sang Mantan
Part 20


__ADS_3

Indri menyeretku keluar dari kamar rawat Rey. Ia menarik tanganku dengan kasar.


"Brakkk" suara pintu yang ditutup Indri dengan kencang.


Kami berdua sudah di luar kamar. Di lorong, Indri mendorongku hingga tubuhku terpentok dinding. Tangan dan tubuhnya yang menghimpit, membuatku tak bisa berkutik.


"Dua tahun Gue diemin kelakuan Lo! Dua tahun juga Gue tahan rasa sakit ini! Karena apa? Karena Gue mau tau, seberapa besar cinta Lo ke Vino! Sampe kapan Lo mau mainin perasaan Vino? Sampe kapan?" kata Indri menyerangku dengan berteriak tepat di wajahku.


Tatapan Indri membuatku takut. Ia seperti singa lapar yang sedang menemukan mangsanya. Hembusan Nafasku dan nafasnya saling bersahutan, semakin cepat, membuat buliran bening sebesar biji jagung bermunculan di keningku. Aku memalingkan wajah. Indri pjn memundurkan tubuhnya yang tadi menghimpitku.


"Lo tau perasaan Gue sekarang gimana ke Rey? Bukan karena Rey terluka, terus Gue jeblosin Vino ke penjara! Bukan juga karena Gue cinta mati sama Rey! Bukan! Karena Laki-laki kaya Rey, nggak pantes buat dipertahanin!" katanya lagi dengan suara agak pelan tapi sedikit di tekan.


"Vino nggak pantes buat Lo! Kalo emang Lo masih berharap buat sama-sama dengan Rey, tinggalin Vino! Dan Lo mau tau, kenapa Gue jeblosin Vino ke penjara? Karena Vino sendiri yang nyuruh!" katanya dengan senyum menyeringai di akhir kalimat yang Ia lontarkan.


Pernyataan Indri membuatku terkejut. Aku belum sepenuhnya percaya dengan apa yang Indri katakan. Pernyataannya hanya Ku anggap lelucon yang tak berarti.


"Hahaha ..." aku tertawa cukup kencang dengan tangan seperti sedang menepis udara.


"Lo pikir Gue percaya gitu aja sama kebulshitan Lo? Indri, Indri ..." kataku yang tak mau berhenti tertawa.


Indri hanya menggeleng dengan wajah tersenyum seperti mengejekku. Sebenarnya Aku masih memikirkan perkataan Indri soal Vino. Perkataannya seperti terputar sendiri dan berulang di telingaku.


'Kenapa Indri bisa ngomong begitu? Sebenarnya hal apa yang tak Aku tahu? Apa maksudnya?' batinku berontak penasaran.


Ku lihat Indri yang sudah lenyap masuk ke dalam kamar rawat Rey. Sementara Aku, memilih untuk pergi.


*****


['Bun. Kerjaanku masih banyak di Bandung. Malam ini Aku nggak pulang. Besok siang, Aku udah di rumah lagi kok. Besok pagi-pagi, sekitaran jam 6 suruh Pak dadang jemput Mamah di Bandara,'] kata Vino melalui pesan yang Ku baca.


Padahal Aku ingin sekali menanyakan perihal tadi ketika Indri mengatakan sesuatu yang sampai saat ini berhasil membuat pikiranku berpusat padanya.


'Ada apa dengan Vino? Mungkinkah Ia berbohong selama ini? Kalaupun benar. Untuk apa? Selama ini Vino selalu bersikap manis terhadapku. Nggak! Nggak mungkin! Indri pasti mengada-ada,' batinku bicara.


Indri berhasil membuat perasaanku parau. Hingga Aku lupa membalas pesan dari Vino. Ku alihkan rasa cemasku dengan Melangkahkan kaki ke kamar Maya untuk mengajaknya makan malam.


"Tok tok tok" suara pintu Ku ketuk.


"Maya ... Makan yuk. Bu Iyem udah nyiapin tuh," kataku sedikit teriak agar suaraku yang terhalang pintu terdengar oleh Maya.


"Iya, Bun. Bentar lagi ... Tanggung," kata Maya yang suaranya terdengar samar.

__ADS_1


"Ya udah. Jangan lama-lama. Bunda tunggu di meja makan ya!" kataku berlalu menuju ke ruang dapur.


Sudah 10 menit Maya tak juga keluar dari kamarnya. Aku penasaran apa yang sedang Maya kerjakan. Baru saja Aku berdiri, Maya sudah datang.


"Emang Kamu lagi ngapain, May? Ditungguin bukannya cepet-cepet," kataku yang sedang menyendokan nasi ke piring Maya.


"Tadi siang abis makan Aku ketiduran, Bun. Ngantuk banget. Tugas sekolah belum Aku kerjain," katanya tersenyum.


"Pantesan." kataku menyodorkan piring yang sudah Ku isi dengan nasi dan lauk.


"Loh, Bun. Ayah mana? Nggak pulang?" katanya yang baru sadar Vino tak ada.


"Ayah besok siang baru pulang. Masih ada kerjaan yang belum selesai," kataku sembari mengunyah makan.


"Terus, Nenek jadi Bun besok ke sini?" tanya Maya lagi.


"Jadi. Pak dadang besok pagi yang jemput," kataku masih dengan mulut terisi makanan.


"Eh eh eh, udah ngomongnya. Makan dulu, baru nanti ngobrol kalo udah abis," kata Bu Iyem dengan tangan menunjuk makanan di piring Kami.


Aku dan Maya hanya terkekeh menahan tawa.


*****


"Hemm." kataku dengan mulut yang sedang penuh terisi nasi goreng bikinan Bu Iyem.


Tak lama, piringku pun sudah kosong. Ku minum air mineral yang sudah sejak tadi Ku tuang ke gelas.


"Assalamualaikum," suara yang terdengar dari pintu depan.


"Waalaikumsalam. Eh, Nenek! Bun, Nenek dateng Bun.l," kata Maya yang langsung mencium tangan Mama Renata.


Aku pun segera menhampirinya. Mencium tangannya dan menyambutnya datang ke rumahku. Walau Aku sangat tak suka dengannya, tapj Aku bersikap biasa saja untuk menghargai perasaan Vino yang sangat menghormati Mama Renata.


"Mamah gimana kabarnya? udah sarapan? Sini yuk, duduk" kataku berbasa-basi.


"Alhamdulillah. Sehat. Udah kok, tadi udah sarapan,"


Aku tersenyum.


"Bu Iyem. Bikinin Mamah teh manis hangat ya."

__ADS_1


"Iya Bu. Ibu nggak sekalian?"


"Nggak ah, Bu. Abis makan banget masih kenyang nih perut."


Kemudian Aku ikut duduk. Berbaur dengan Mama Renata dan Maya.


"Maya. Boleh pindah dulu baca komiknya ke kamar? Nenek mau bicara penting dengan Bundamu."


"Iya Nek. Ya udah, Aku ke kamar ya."


"Iya. Makasih ya Sayang."


Aku bingung. Apa yang mau dibicarakannya. Pandangannya terlihat serius.


"Hubungan Kalian gimana? Apa kabarnya?"


"Maksudnya Mah? Aku sama Vino?"


"Ya iyalah. Kamu aneh ya. Memangnya yang Kamu pikirkan. Kamu sama siapa? Ada lagi selain Vino?"


"Eh. Enggak Mah. Aku sama Vino baik-baik aja kok."


Mama Renata tertawa sehabis mendengar perkataanku. Seperti menyembunyikan sesuatu.


"Kamu itu sudah terjebak dengan cinta butamu. Sampai Kamu lupa, cinta nyatamu ada di hadapanmu. Kamu tau? Mamah dari dulu nggak pernah suka sama kamu. Cuma karena Vino sangat mencintaimu, Mamah selalu berpura-pura menyukaimu."


"Maksud Mamah apa ngomong begitu?"


"Kamu tuh kebiasaan. Nggak pernah peka sama omongan dan sindiran orang. Kamu itu penghianat! Memang sudah sepantasnya penghianat itu dihianati!"


Aku semakin tak mengerti apa yang Mama Renata katakan.


'Penghianat dihianati? Maksudnya apa?' gumamku yang masih kebingungan.


"Aku serius nggak ngerti apa omongan Mamah. Kalo Mamah dateng ke sini cuma untuk membuat Aku dan Vino pecah. Mamah salah alamat! Mending pulang aja, kehadiran Mamah nggak diharepin sama orang-orang di sini!"


"Mamah di suruh Vino untuk datang ke sini! Jadi kalo Kamu keberatan, silahkan ngomong ke vino!"


Mama Renata langsung pergi ke kamar yang sudah di sediakan untuknya. Sementara Aku, masih terpaku memikirkan kata-kata Mamah.


'Apa maksud semua ini? kata-kata Indri, kata-kata Mama Renata. Mereka membuatku pusing'

__ADS_1


__ADS_2