
Rafael turun dari dalam mobil yang juga di susul oleh Nindy saat mereka sampai di basement apartemen. Kedua berdiri sejajar saat hendak melangkah menuju ke arah pintu lift. Nindy melirik Rafael, suaminya itu tampak begitu santai seolah tidak terjadi apa- apa dengan mereka.
"Lihatlah pria sombong ini, dia bertingkah seolah tidak terjadi apa- apa setelah menye dot bibirku seperti vacum cleaner" Cibir Nindy dengan sangat geram.
Ya, Rafael memang kembali membungkam mulut sang istri saat mereka baru sampai di basemen tadi. Ia melakukan itu karena mulut Nindy tidak berhenti menyerocos sepanjang jalan hingga akhirnya membuat Rafael mengambil jalan pintas agar istrinya itu diam. Dan terbukti, setelah adegan dewa sa itu Nindy langsung terdiam tanpa melakukan aksi protes lagi.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Rafael yang menyadari sang istri diam- diam menatapnya.
Nindy kelagaban saat Rafael menegurnya.
"Tidak apa- apa!" Sahutnya.
Rafael tertunduk untuk menyembunyikan senyumnya.
"Aku tidak akan meminta maaf padamu untuk ciumanku yang tadi. Anggap saja itu sebagai ucapan selamat dariku".
Rafael memutar tubuhnya dan menghadap ke arah Nindy.
"Selamat datang nona Anindya Maharani. Selamat bergabung di LJ Grup" Ucap Rafael sembari mengulurkan tangannya.
Nindy menatap tangan Rafael dan perlahan mengangkat tangannya untuk menyambut uluran tangan dari suaminya.
"Terima kasih!" Balas Nindy.
Niat hati ingin marah karena ciuman yang terjadi tadi, tapi sekarang Nindy malah mengucapkan terima kasih kepada Rafael.
Yah, memang realita tidak selalu sesuai ekspetasi
Pintu lift terbuka dan keduanya masuk kedalam litf tersebut yang akan membawa mereka ke lantai di mana unit kamarnya berada. Beberapa saat kemudian pintu lift kembali terbuka yang itu artinya mereka telah sampai di lantai yang mereka tuju. Rafael mempersilahkan Nindy untuk keluar dari dalam lift terlebih dahulu baru setelah itu ia ikut keluar. Namun baru beberapa langkah Rafael berjalan, ia di kejutkan dengan sesosok pria yang sedang menatap dirinya dengan tatapan yang tidak bersahabat.
Kedatangan Rafael dan Nindy ternyata sudah lama di nanti- nanti oleh Haikal, ia sudah menunggu kepulangan pasangan suami istri itu sejak beberapa jam yang lalu.
Haikal menggepalkan tangannya dan dengan cepat ia melangkah mendekati Rafael dan tanpa basa basi langsung mengayunkan tinjunya tepat mengenai pelipis Rafael. Haikal begitu geram saat mengetahui jika laki- laki yang sedang berdiri di hadapnya adalah suami dari kekasihnya, Nindy.
Bhukk,,,!
Haikal mengayunkan pukulan kedua kalinya ke wajah Rafael.
"Mas Haikal!" Teriak Nindy yang kaget melihat pacarnya memukuli suaminya.
"Dasar bereng***! Jadi kamu laki- laki yang telah menyakiti Nindy" Umpat Haikal penuh emosi.
"Apa yang sedang mas Haikal lakukan?" Nindy menarik lengan Haikal untuk menjauhi Rafael.
Rafael menyentuh bibirnya yang pecah dan melihat ada noda darah di tangannya.
"Jadi laki- laki ini yang telah mempermainkan hidupmu?" Tunjuk Haikal ke arah Rafael.
"Jadi dia yang telah menghancurkan masa depanmu hingga menjadikanmu sebagai seorang janda" Tanyanya lagi dengan emosi.
"Dia bukanlah seorang janda, karena aku tidak pernah menceraikannya" Sahut Rafael yang tidak suka Nindy di panggil janda.
Haikal menyunggingkan senyumnya dan menatap Rafael tajam.
"Hah! Mungkin kamu memang tidak pernah menceraikan Anin, tapi apa kamu tahu jika selama ini kamu telah membuat wanita ini layaknya seperti seorang janda. Dia punya suami tapi seperti tidak punya suami dan dia seperti seorang janda padahal kenyataannya ia belum bercerai karena kamu telah mempermainkan perasaan dan juga pernikahannya".
Haikal melepaskan tangan Nindy yang masih menahan tangannya.
__ADS_1
"Lepaskan aku Nin, aku harus memberi pelajaran untuk laki- laki itu" Ucap Haikal pada Nindy.
Nindy menggelengkan kepalanya.
"Cukup, jangan membuat masalah ini menjadi semakin lebar, biarkan aku yang bicara padanya" Sahut Nindy.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan? Laki- laki itu menggunakan kekuasaannya untuk mempermainkanmu dan kamu seperti orang bodoh yang bisa di permainkan untuk kesekian kalinya. Apa kamu memang sebodoh itu?" Haikal tampak begitu geram.
"Mas,,,!" Lirih Nindy.
Rafael mulai kesal, ia tidak suka melihat kedekatan istrinya dengan laki- laki itu.
"Aku tidak pernah berniat untuk mempermainkan Nindy, justru saat ini aku sedang berusaha untuk memperbaiki hubungan kami dan mencoba untuk mempertahankan pernikahan ini" Ucap Rafael dengan lantang.
"Cih,,,! Pernikahan mana yang ingin anda pertahankan pak Rafael? Pernikahan palsu ini" Sindir Haikal.
Haikal berhasil melepaskan tangan Nindy dari tangannya dan melangkah mendekati Rafael.
"Jika anda tidak mampu menjaga dan melindungi istri anda maka lepaskan lah dia. Karena ada seseorang yang akan menjaganya dan yang pasti dia lebih mampu untuk melindungi Anin dari pada laki- laki pengecut seperti anda" Tunjuk Haikal tepat di depan mata Rafael.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan Nindy, karena dia adalah istriku dan dia akan tetap menjadi istriku" Balas Rafael.
"Jangan terus menerus mengikatnya dalam ikatan pernikahan yang palsu ini. Biarkan dia hidup dengan tenang tanpa terlibat dengan pria seperti anda".
"Pria seperti apa maksudmu?" Sahut Rafael.
"Pria yang hanya memanfaatkan perasaan seorang gadis demi kepentingannya sendiri" Sahut Haikal.
Rafael mengertakkan giginya, kesabarannya sudah mulai habis.
Melihat situasi yang mulai semakin menanas, Nindy mencoba mengambil tindakan untuk melerai perdebatan antara dua laki- laki itu.
"Cukup mas Haikal".
"Aku tidak mau ada pertikaian di sini. Masalah ini biar aku yang menyelesaikannya sendiri dan sekarang lebih baik mas Haikal pulang saja" Pinta Nindy.
"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan? Kamu hanya diam saja saat laki- laki ini berhasil menjeratmu untuk yang kesekian kalinya" Balas Haikal.
"Tidakkah kamu menyadari jika dia punya tujuan lain kepadamu. Aku yakin dia sengaja mengumumkan tentang identitasmu kepada publik agar kamu tidak bisa lari lagi darinya dan mau tidak mau kamu akan terus berada dalam kurungannya".
Bhukk,,,
Rafael menghadiahkan sebuah pukulan di wajah Haikal hingga membuatnya terhuyung kebelakang.
Nindy kembali histeris saat melihat dar*h segar keluar dari sudut bibir Haikal.
"Diam!" Sentak Rafael.
"Jangan pernah menghakimiku jika kamu tidak tahu kebenaran yang sesungguhnya. Aku memang sengaja mengumumkan identitas Nindy ke publik agar kamu dan keluargamu serta seluruh dunia tahu siapa Anindya Maharani yang sebenarnya".
"Aku ingin semua orang tahu jika Nindy bukanlah orang sembarangan yang bisa kalian hina dengan seenaknya" Ucap Rafael dengan suara yang bergetar.
"Aku sadar atas semua kesalahanku, tapi apa salah jika aku mencoba untuk memperbaikinya".
Nindy tersentuh mendengar ucapan Rafael.
"Heh! Memperbaiki!" Haikal terkekeh mengejek.
__ADS_1
"Apa yang ingin kamu perbaiki? Kamu ingin memperbaiki hubungan pernikahanmu dengan Anin atau memperbaiki situasi agar posisimu sebagai pimpinan tetap bertahan di perusahaan milik Anin?"
"Mas Haikal!" Nindy tidak suka mendengar ucapan Haikal.
"Kenapa Nin? Kenapa kamu marah? Apa kamu tidak terima dengan semua tuduhan yang aku tuduhkan padanya? Apa kamu tidak mau mengakui jika semua ucapanku itu adalah kebenaran?".
"Laki- laki ini mungkin bisa membodohi kamu dan seluruh dunia, tapi tidak dengan aku. Aku tahu jika dia memiliki niat lain dan salah satu niatnya itu adalah untuk memisahkan kita" Ucap Haikal.
Nindy menatap Rafael, ia khawatir jika suaminya menjadi semakin marah setelah mendengar ucapan dari Haikal. Dan ternyata dugaannya memang benar, Rafael terlihat begitu marah dan menatap tajam ke arah Haikal dan juga dirinya.
Rafael melangkah mendekati Haikal
"Terserah lu mau bicara apa, gua nggak peduli. Apapun niat dan maksud gua terhadap Nindy, itu adalah urusan gua dan lu nggak punya hak untuk ikut campur. Lu harus sadar jika hingga saat ini Nindy adalah istri sah gua di mata hukum dan agama. Jadi gua punya hak atas semua yang berhubungan dengan istri gua, termasuk melarang lu untuk bertemu dengannya".
"Mau di lihat dari sisi manapun, posisi gua lebih kuat dari lu. Gua suami sah Nindy dan lu hanya pacar, ah lebih tepatnya adalah selingkuhan" Tunjuk Rafael tepat di hadapan wajah Haikal.
"Kamu!" Haikal mengerang kesal dan hendak melayangkan pukulan lagi untuk Rafael, namun Nindy berhasil mencegahnya.
"Cukup mas!" Cegah Nindy.
Nindy berhasil membatalkan niat Haikal yang ingin memukul Rafael, setelah itu ia menatap Rafael.
"Lebih baik kamu pergi. Biar aku yang menyelesaikan masalah ini" Pinta Nindy pada suaminya.
Rafael masih menatap Haikal dengan tajam untuk sesaat, ia semakin tidak menyukai sosok kekasih dari istrinya itu.
"Aku masuk dulu ya! Dan kamu juga segera masuk" Ucap Rafael.
"Oh ya, kamu harus segera mengusir laki- laki ini sebelum pihak keamanan mengambil tindakan" Ucapnya lagi sembari berlalu pergi.
Rafael masuk kedalam unit apartemennya yang letaknya tepat di samping apartemen sang istri dan hal itu membuat Nindy serta Haikal kaget secara bersamaan. Mereka tidak menyangka jika Rafael tinggal di apartemen yang sama dan di lantai yang sama dengan Nindy bahkan unit mereka berada bersebelahan.
"Kamu lihat sendiri kan! Laki- laki itu segaja memintamu untuk tinggal di sini agar dia bisa dengan leluasa memdekatimu" Ucap Haikal dengan geram.
"Sudah cukup mas, aku tidak mau membahas masalah ini lagi. Lebih baik sekarang mas Haikal pulang dan kita bisa bicara lagi di lain waktu" pinta Nindy.
"Kamu mengusirku?" Tanya Haikal tidak terima sang kekasih mengusirnya.
"Mas please! Jangan buat posisiku menjadi semakin sulit seperti ini, aku tidak mau jika masalah ini membuat hubungan kita menjadi renggang".
"Aku mohon, kasih aku waktu untuk menyelesaikan semua masalah ini dan aku minta jangan mencari gara- gara lagi dengan kak Rafael karena dia punya kuasa yang lebih kuat dari mas Haikal kira".
Haikal diam, matanya masih menatap tajam ke arah Nindy.
"Aku masuk dulu mas. Selamat malam" Pamit Nindy.
Nindy meninggalkan haikal begitu saja dan langsung bergegas masuk kedalam unit apartemennya. Sementara itu Haikal mengantar kepergian sang kekasih dengan hati yang luka.
"Shittt!" Umpatnya.
"Jadi sekarang kamu lebih memilih untuk membela laki- laki itu dari pada aku!".
"Hah! Lihat saja. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, tapi sebaliknya aku akan membuat laki- laki itu yang melepaskanmu".
Haikal memutar tubuhnya dan melangkah pergi, ia bertekad akan membuat Nindy untuk memilihnya dan meninggalkan suaminya itu.
☆
__ADS_1